Get me outta here!

Kamis, 09 Juli 2020

Terimakasih :)

Bismillah….

Suasana berbeda dengan bumi yang makin usang, semua kemungkinan pasti akan terjadi, Biidznillah… tak begitu mengagetkan bagiku. Hanya terasa berat, karena iman makin melemah, banyak waktu yang terbuang sia-sia, sekalipun tak berbuat dosa, bukankah tiap detik waktuku akan di hisab kelak?

Satu waktu aku berdoa agar hati ini Alloh izinkan tidak berkeinginan mengejar dunia, dan yang terbaik bagi-Nya kini, aku masih berkutat dengan pikiran apa yang harus ku perbuat. Apa kabar RAB, Laporan akhir kebut semalam , penagihan bulak balik? Aku tak rindu :p , Oke, rindu sedikit agar tak terlalu jelas rindu gajiannya saja J . Aku rindu jualan, banyak pelanggan menanyakan, terlebih teman yang rindu beramal bersama, terimakasih sudah mengingatkan…Barakallah shalehah :’)

Tahan diri untuk tak mengeluh, toh bukan aku saja yang begini. Mendengar cerita teman yang bersemangat kembali berkutat dengan cv lamaran kerja baru, terasa berat memang memulai sesuatu dari awal lagi, infonya kini banyak perusahaan memasukan kriteria “menguasai social media” ya, belajar dari keadaan bumi sekarang memaksa semua harus serba digital, mungkin bekerjapun akan terbiasa dari rumah. Oke, semangat temanku ini belum mampu menggugah diri ini untuk ikut membuat cv lamaran juga, aku mulai saja dengan “belajar menguasai social media”, social media terasa mudah namun hal yang kadang aku hindari, rasanya aku butuh teman di dunia nyata saja daripada di dunia maya, alih-alih butuh teman di dunia nyata, rasanya aku lebih butuh teman di surga kelak. Terkesan pilih-pilih ya?Oh tentu tidakkk…. Disini, orang lainlah yang harus mengambil keputusan dan menentukan mau berteman denganku di dunia maya, nyata, atau surga? Jika dia orang yang belum baik aku akan jadi penasehatnya, jika dia orang yang baik, aku akan jadi penirunya.

-----------------

Dimulai dengan menyalakan kembali netbook setelah sekian lama, berdebu dan loading sekali. Mengecek social media yang kupunya, Instagram dan twitter. Apa yang harus aku lakukan? Mereka yang selalu ku buka dalam waktu tak lebih dari 15 menit, setelah selesai dengan keperluanku aku tak perlu lama-lama disana, dan terkadang aku tidak puas atau benar-benar memikirkan apa yang harus ku posting, jika sudah diposting aku tak akan mau melihatnya lagi, karena semakin dibaca atau dilihat lagi terasa makin banyak kekurangannya. Dalam kondisi seperti ini harus hemat kuota juga, kan? Baiklah, setidaknya aku mulai dengan mengetahui fitur baru dan kecanggihan dari social media ini. 

Banyak notif pesan yang tak terbaca, karena akun ig di kunci ternyata DM yang masuk tidak langsung muncul, tak sering ku buka karena kebanyakan menawarkan barang. Oke, mungkin saatnya aku “bersih-bersih” agar performa instagram makin baik (pikiranku saja sih, sepertinya tidak akan berpengaruh jika sinyal jelek).

Satu persatu aku cek, sampai dimana ucapan sayang teman-teman tahun lalu, baru sadar ada yang hanya ku baca, ku balas seadanya, maapkan yang belum dibalas, dan baru sadar ternyata sebanyak itu rasa tulus kalian, tentu saja karena Alloh juga, anna uhibukka/i fillah teman-teman J. Aku yakin kalian tak mengharap aku balas sekarang karena sudah lewat, karena kalian aku sangat berterima kasih, yang menyemangati, mendoakan, memeluk dari kejauhan, tiba-tiba menelpon dan setelah di ingat-ingat entah siapa, maapkan nomornya tidak di save (aku si ceroboh) tapi memang pikiranku masih melayang saat itu. Yang tiba- tiba kerumah di pagi hari, siang, sore, bahkan tengah malam karena perjalanan jauh, yang ku ingat aku bangun sebentar dan disuruh tidur lagi :D.

Alhamdulillah… kalau bukan karena karunia Alloh Subhanahuwata’ala aku tidak akan mendapatkan kasih sayang sebesar itu melalui makhluknya-Nya, InsyaAlloh..Alloh membalas kebaikan kalian semua, mudah-mudahan di yaumil akhir kelak, kita saling mengingat satu sama lain dan saling menarik tangan kita menuju surga. Aamiin Allohumma Aamiin ya Rabb.

Belajar social media ini menjadi sendu, tapi tak apa, banyak rasa syukur yang ku dapat. Seolah Alloh mengingatkan untuk mencharge iman kembali. Alhamdulillah…


Senin, 18 Mei 2020

Resensi Sirah Nabawiyah Nabi Muhammad ﷺ


Penulis Buku : Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri

Sirah nabawiyah yang saya baca merupakan terbitan yang sudah diterjemahkan dari judul aslinya Ar-Rahiq al- Makhtum, walaupun diterjemahkan oleh penerbit (Darul Haq) ada keterangan bahwa diterjemahkan dari naskah asli yang sudah direvisi langsung oleh penulis. Nah, karena basic dari penulisan merupakan terjemahan, saya pribadi merasa banyak susunan kalimat yang agak sulit difahami dan harus membacanya berulang terlebih kalimat tersebut tentu saja merupakan kalimat yang dirasa paling pas yang dipilihkan oleh si penerjemah. Well, sederhananya bahasa kita dengan bahasa asing tentu saja akan ada hal berbeda walaupun sudah diterjemahkan ke dalam bahasa kita.

Ditulis dengan 732 halaman, menurut saya komposisinya sudah sangat pas, porsi tidak berlebihan namun pembaca yang baru mulai ingin mengenal sosok Nabi kita yang mulia akan merasa puas dengan apa yang disajikan penulis, dan dapat menambah rasa penasaran agar lebih mengenal lebih dalam sosok Nabi Muhammad ﷺ butuh waktu berbulan-bulan memang bagi saya untuk merampungkan membaca sirah nabawiyah ini, selain karena saya punya aktivitas lain, saya akui saya harus mengulang ulang perhalaman dan membolak balikan ke halaman awal karena banyak tokoh sahabat, maupun kaum musyrikin yang dikisahkan memiliki nama yang sama yang membedakan hanya bin saja atau bin sama namun nama yang hampir sama (di zaman tersebut penyebutan nama memang disertakan dengan bin atau binti nama Ayah atau Ibu, dan biasanya mempunyai anak lebih dari satu). Karena hal itu pula apabila saya terlewat membaca terlalu lama, missal hamper seminggu tidak membaca maka memori tentang siapa tokoh yang sedang dibahas akan terlupa sehingga saya harus mengulang kembali pada bab awal, maka dari itu saya rampungkan baca setiap hari hingga akhirnya selesai, dengan begitu alur cerita lebih mudah difahami.

Sesuai tulisan pada cover buku yang ditulis  ”perjalanan hidup Rosululloh ﷺ dari kelahiran hingga detik-detik terakhir”, alurnya tidak maju mundur, mengalir dan bisa diikuti, lengkap dengan hadits shahih dan catatan kakinya sehingga tidak perlu ragu lagi dengan apa yang disajikan. Selain hadits juga disertakan Firman Alloh Subhanahuwata’ala lengkap dengan terjemahannya sehingga bisa dikatakan ada unsur asababunnuzul diturunkannya Ayat tersebut.

Selayaknya membaca biografi seseorang, kita secara detail bisa membayangkan bagaimana perjalanan dan kehidupan beliau, bahkan disini di sajikan bab khusus gambaran ciri-ciri fisik beliau. Penjambaran sangat apik, dari mulai kelahiran sampai dengan detik-detik wafatnya beliau saya bisa membayangkan bawa saya benar-benar berada di dekat beliau sehingga tergambar secara jelas bagimana tingkah laku dan tutur kata beliau, Nabi kita Rosululloh ﷺ

Hal yang menarik, selain membahas tokoh utama, dibahas tipis-tipis tokoh lain yang tidak luput membuat saya kagum, seperti para sahabat yang dijamin masuk surga, seorang yang syahid yang kematiannya mengguncangkan arsy, dan suhada yang dimandikan oleh para malaikat, MasyaAlloh…. Bab peperangan merupakan bagian yang paling membuat saya terkesima dan ingin terus melanjutkan bahasan sampai akhir. Karena dibahas secara tipis-tipis maka saya pun lebih tertarik lagi untuk mencari tahu biografi mereka secara lengkap, Biidznillah mudah-mudahkan Alloh Subhanahuwata’ala mudahkan.

Selain tokoh-tokoh yang mulia tentu saja musuh kaum muslimin juga diceritakan disini, layaknya menonton film ada tokoh antagonisnya, saya bisa merasakan betapa jengkelnya dengan kelakuan mereka.

Setelah saya hanyut dengan bagaimana perjuangan Rosululloh ﷺ membuat saya merasa semakin membutuhkan beliau, dalam artian jika saya tidak faham dengan maksud suatu hadits atau berbagai riwayat maupun pertanyaan dalam benak saya ada keinginan untuk berjumpa dan bertanya langsung, pun saya sebagai perempuan ketika saya “baper” tentu saja semua perempuan setelah mendalami sirah Nabawiyah pasti faham bahwa yang paling mengerti, baik perlakuannya dan penasehat terbaik adalah beliau (walaupun tentu saja banyak sumber lain baik tulisan maupun apa yang disampaikan oleh guru-guru kita dalam sebuah kajian yang mengandung ilmu-ilmu islam).

Bab yang paling saya terakhirkan bacaannya adalah bab detik-detik wafatnya Rosululloh ﷺ bagi saya pribadi akan terbayang jelas bagaimana kejadian itu, karena mengalami sendiri bagaimana melepas orang yang saya sayangi dua kali, ya… seolah akan dejavu apalagi membayangkan detik-detik wafatnya sesosok manusia paling sempurna di muka bumi ini. Bab ini merupakan bacaan yang paling lama saya “cicil” bacaannya, seolah saya belum rela membaca pada bagian hembusan nafas terakhir Rosululloh ﷺ saya rasa bukan hanya saya, pembaca lain pun akan menangis pada bab ini.

Keseluruhan, saya puas dengan membeli buku sirah Nabawiyah ini, berawal dari ingin mendapatkan safaatnya kelak di hari akhir tentu saja saya selaku umatnya harus mulai lebih dalam mengenal sosok beliau. Walaupun banyak sirah Nabawiyah yang lain namun tidak salah jika buku ini berlabelkan best seller cukup ringan bagi saya yang “baru kenalan”.

Resensi ini terbilang singkat dari 732 halaman yang dimuat di dalamnya, ya.. jika saya utarakan secara luas sama khawatir kalian para pembaca sudah merasa cukup dan terwakilkan dengan resensi saya, saya harap kalian mulai ada keinginan untuk membaca sirah Nabawiyah, dan ini salah satu yang saya rekomendasikan.

Kekurangan dan kesalahan tulisan dari saya pribadi, kelebihan hanya dari Alloh Subhanahuwata’ala.

Kamis, 07 Mei 2020

Jatuh Cinta

Bismillahirohmannirohim….

Setaun lebih kaku dengan tulisan, banyak kata yg ingin diungkapkan tanpa suara sebetulnya, namun ku enggan mencari – cari ingatan yang dibuang, enggan menulis dengan emosi yang tertahan, pasti, rasanya seolah ada udara yg tercekik dileher… ah lama – lama tetap saja aku perlu begini.
Usia 28 tahun, merasakan betul yang namanya hidup di dunia tak ada apa – apanya, yang sedari kecil punya mimpi dunia, ingin ini itu, begini begitu… Alloh Maha Baik. Sedikit sedikit, bertahap Dia bimbing, Dia arahkan, jadikan aku seperti yang Dia minta, bukan yang aku inginkan.

Setaun lebih berlalu sejak kehilangan suami, hampir dua tahun kehilanagn anak. Ya.. ga akan terbayang di sebelum menginjak usia usia ini, seolah… bad dream come true,
Tapi…. Alloh Maha Baik, setelah sebelumnya aku dibiasakan dengan hari-hari yang mencekam menemani anak kecil kami di RS selama sebulan, sampai akhirnya saya siap melepaskan, hingga saat dia dikebumikan…. tak ada lagi air mata, cukup bagi Alloh menilai aku sudah kuat, bersiap menghadapi suami yang juga harus diambil Nya, dengan mendadak, dengan intuisi santai, yang tak mungkin aku berpikir ditinggal secepat itu…

Aku tak khawatir dengan anak kami, dia pasti dijamin masuk surga, seperti doa yang selalu kupanjatkan, ku titipkan dia pada Nabi Ibrahim alaihisalam.. Bapak para nabi-nabi, bapak terbaik, sampai dia kan menjemput kami di pintu surga, namun kini aku harus lebih keras lagi berdoa, aku khawatir amalan ku selama ibadah dengan suami belum cukup, belum cukup baik bagiku atau bagi dia untuk pantas di surga Nya kelak. Khawatir kelak kami akan berdebat di hadapan Nya siapa yg membawa dan menyeret satu sama lain karena timbangan amalan kami kurang??

Ahhhh lagi-lagi Alloh Maha Baik, sebelumnya aku dan suami memiliki visi misi rumah tangga yang berorientasi dengan dunia, sekarang Alloh seakan mengajariku cara pandang lain, bertemu di dunia, bisakah kami bersama-sama di surga kelak, dunia tak ada apa-apanya, apa yang kau ingin di dunia? sementara akhirat lebih baik, ya… Alloh Maha Baik, belum pernah aku merasa sejatuh cinta ini dengan Nya.

Kemana saja aku tahun – tahun sebelumnya, Alloh Maha Baik, rezeki hidayah dari Nya sangat sangat melimpah, walau kadang aku masih saja futur, sekali asyik dengan dunia ,terbawa arus sana sini hingga lemah iman, malas dan lalai,tapi Alloh masih saja baik, Dia mudahkan menenangkan hati ini.

Seorang teman bertanya mengapa aku tampak baik-baik saja? aku pun bingung menjawab kala itu, karena aku manusia biasa, ya sedih..ya galau, tapi kini aku faham, aku tak mudah berkeluh kesah dengan manusia. Karena Alloh tidak menginginkan itu. Alloh mau aku hanya mengiba di hadapanNya. Tapi tetap saja, jangan puji aku seolah wanita kuat, wanita hebat dll… (mudah-mudahan Alloh subhahuwata’ala tidak menjadikanku berdosa dengan pujian itu), teringat…aku tetap menangis kala itu, ketika mengingat kami sering mendengar ceramah ust.Evi Effendi di hadapannya aku bercerita, aku pernah melarang suami datang ke kajian beliau karena saat itu hujan, namun suamiku merajuk…akhirnya ku ijinkan, kata demi kata…. aku bercerita kepada beliau dengan payah… entah seperti apa wajahku kala itu, ya…. aku ini manusia biasa, hanya saja Alloh Yang Maha Baik.


Jumat, 08 Maret 2019

Nama dari Tuhan

Tentang Nama,

Nanti kalau punya anak lagi harus ada nama dari unsur ibu dan bapaknya,

Keberatan nama itu,

Kayaknya namanya ga cocok jadi sakit-sakitan,

Hmm…. Ada kaitannya kah nama dengan perjalanan hidup seseorang?

Al-Mawardi ra. Berkata dalam KItab Nashiihatu al-Muluuk yang intinya “apabila seorang bayi lahir maka kemuliaan dan kebaikan yang pertama kali diberikan kepadanya adalah memilih untuknya nama yang baik dan menyentuh hati sesorang ketika mendengar nama tersebut”

Oke, saya uraikan ya cerita di balik mengapa bayi kami dinamai Assyiria Siti Zanubiya, nama lengkap tersebut sebetulnya ada ketika dede Syira sudah dirawat di rumah sakit, jadi sebab nama menjadi penyebab sakitnya tidak beralasan ya J,

Syira itu apa?dan dari mana? Saya sebut itu sebagai nama dari Tuhan, kenapa? Ketika tau saya hamil, tentu saja wala kehamilan tidak ada yang tau apakah si janin akan berjenis kelamin pria/ wanita bahkan dokter sekalipun kan tidak bisa memastikan apakah hasil usg sama dengan ketika dilahirkan. 

Nah, di awal kehamilan sebelum terprediksi jenis kelamin oleh dokter, saya melihat berbagai pemberitaan tentang anak-anak di negeri Syiria, tiap membaca berita itu hati saya sedih sekali kadang menangis juga, dalam hati saya ya Alloh apa yang saya bisa perbuat untuk mereka ? kemudian tercetuslah nazar saya jika memperoleh anak perempuan akan saya namakan Syiria. Kalau Laki – laki akan saya namakan Gaza, dan ya Alloh SWT yang menentukan anak saya lahir perempuan, kenapa jadi Assyiria?  Karena awal nama saya A jadi biar samaan aja gitu heheh…

Lalu nama siti, sebagai muslim kita semua tau ya itu merupakan nama-nama2 tokoh muslimah solehah, dan untuk mengenang nama alm.tante nya suami jadi pengen ada nama itu juga, nah untuk Zanubiya sendiri karena saya teringat nama ratu Syiria yang menentang kekejaman romawi maklum anak yang suka banget sama pelajaran sejarah wkwkwkwk…. Alas an lain kenapa Zanubiya? Karena perjuangan dede Syira yang beberapa kali collapse namun masih terus berjuang dan bertahan sampai akhir seperti ratu Zanubiya yang tangguh.


Itu aja sih kenapa namanya Assyria Siti Zanubiya, dan kalau dikait2an antara nama menentulan takdir seseorang kayaknya engga makesense sih bagi aku, yang namanya untung aja belum tentu untung terus kan? :D harapannya mungkin kelak untung terus, yang jelas orang tua pasti memberikan nama ada maksud dan tujuan yang baik.

Jumat, 16 November 2018

Rekomendasi Dokter Kandungan di Bandung Menurut Pengalaman Pribadi

Assalamua’laikum…..

Halo Calon Ibu, pernah ragu ga sih cekricek ke dokter kandungan atau sekedar ke bidan? Kepikiran berapa biayanya, nanti dokternya cowo apa cewe ya? Ramah ga ya? ITU SIH SAYA BANGET! WKWKKW

Saya sempet melanglang buana (apose) memeriksakan ada apa dengan diri saya setelah telat haid dan bla bla blab la (gak jelas ni gw). Ok, fokus…. Serius…..

Check up awal pertama saya setelah tau haid dan positif hamil pada tahun lalu, periksain diri ke bidan deket2 tokonya suami (di jalan purwakarta sesudah griya itu depannya ada gapura nah ada plangnya, lupa nih bubidnya siapa T,T), gatau kenapa jd kesana kayaknya krna ga ada waktu jadi kesana aja deh sekalian pulang kerja (sok sibuk), dan bu bidan yang adalah seniornya paling seniornya bidan kali ya terlihat dari terpampangnyatahnya deretan piagam penghargaan di dinding ruang tamunya, so pasti udah agak berumur gitu, jalannya juga agak susah dan pake tongkat.

Dan saking udah berumurnya jadi gampang lupa gitu, kalian yang udah baca post sebelumnya tentang Syira pasti faham, *nginget2 tingkah beliau sambil ngukuk-ngukuk ngetiknya XD . Oke saya “pundung” gamau ke bubid itu lagi dlu cek disana keluar uang kurleb 40rb (periksa dan dikasih vitamin), beralih lah saya ke Klinik Al-islam yang di cicadas (awi ligar) sesuai rekomen temen sepergosyipan wkkwkwwk dia rutin periksa disana bahkan sampai melahirkanpun disana. Tapi nasib mungkin tidak berjodoh di klinik itu, dua kali kesana suka ga pas, dokternya udah pulang terus, giliran dapet jadwal eh dokternya pulang lebih awal,

Muter akal yang paling deket dari cicadas kayanya langsung ke pahlawan aja, ke klinik Utama Kartini, kakak ipar saya, waktu hamil anak pertamanya diperiksain kesana, dokternya cewe, dan konon enakeun (lagi –lagi lupa namanya T.T). Tapi pas kesana dokter yang dimaksud sedang cuti hamil dan melahirkan, yang otomatis akan lama lagi, akhirnya ke dokter yang cowo, lumayan umurnya sekitaran 50 lebih kayaknya udah pro juga, tapi pas di usg dokter bilang wah ada kista lagi nih (deg, disitu mikir kista setau saya itu penyakit yang berbahaya kan ya?) dan janin belum keliatan baru ada kantongnya aja, dan cerita ada flek waktu pipis, trus beliau bilang nanti kita observasi lagi ya seminggu lagi suruh datang lagi, trus saya bilang “kista itu gimana”, dia cuma bilang “masih kecil sih belum bisa diangkat, kita lihat nanti tumbuh janin atau engga”, suami nanya lagi “ bisa dikasih penguat kan ya dok?” eh pak dok ini bilang “kalo janinnya ga ada ya percuma dikasih penguat juga pak, ini saya kasih vitamin aja” disitu saya ga nanya-nanya lagi dan bilang dalem hati “INI DOKTER KOK JULIT BANGET YAH… (JULIT = JUJUR SAKIT)” ngomongnnya emang jujur tapi sakit gitu T.T sakit yang ga berdarah (apaan sih) wkwkwk.. yasudah aku skip mau seminggu lagi mau dua minggu lagi, mau kapan-kapan BODO AMAT! Ga akan lagi kesana hahahahah. Harga konsul dokternya sih standar lah menurut ku karena emang para dokter menempuh pendidikan ga murah kan ya :”) tapi memang vitaminnya mahal dan kata kakak iparku emang vitaminnya juga bagus, kurleb aku ngeluarin uang (suami sih yang bayar wkwkwk) 250 rb (uang pendaftaran, buku ibu hamil, konsul dokter, usg 2D (dicetak juga) sama vitaminnya)

Oke vitamin yang dikasih dokter itu udah habis, dan akhirnya gerak langkah kaki ini berlabuh ke RS Hermina di arcamanik, cek ricek dan tanya-tanya resepsionis nemulah jadwal dokter yang cewe, namanya Dr. Ira masuk ruangan beliau kesan pertama duh udah ibu-ibu tapi cantikkk banget, ngomongnya beneran kaya ibu ke anak banget, udah ngadu tentang segala macem dibilanginnya dengan santai, “dok kemaren saya ngeflek” dokternya jawab “ tapi sekarang udah engga kan? Kalo engga gpp kok asal jangan berkegiatan yang berat-berat aja ya banyak istirahat” “dok kemaren di usg pertama kali ada kista” “ini saya cek ga ada kok kistanya, gpp itu mah bawaan hamil emang ada produksi hormon yang meningkat tapi sekarang udah ga ada” Fiuh…akhirnya menemukan dokter yang cocok disini, dan tiap hari minggu lagi jadwalnya horehhh. Harga konsul dokternya agak lebih mahal dari dokter di Klinik Utama Kartini, nah vitaminnya juga ternyata ada satu item yang sama banget kaya yang dikasih di klinik kartini tapi di RS Hermina ini lebih murah (duh apa ya namanya, pas hamil hafal banget, sekarang lupa T,T) tapi krena dikasihnya untuk satu bulan jadi berasa mahal aku dikasih 3 jenis vitamin, penguat janin, untuk penmabah darah, sama untuk otak bayi, kurleb harga check up disana 350rb- 500rb (Konsul dokter, usg 2D (dicetak), vitamin (vitaminnya boleh dibeli setengahnya aja di apotek hermina). Saya juga sempet cek lab (darah) disana harganya 850rb (tahun 2017).

Akhirnya setiap bulan cek ricek di RS Hermina Arcamanik bersama dr. Ira, sempet satu waktu beliau cuti lama dan kalo nunggu bulan depan lagi kayaknya kelamaan ga nengok si bayi, akhirnya nanya-nanya ke temen Spog sekitar daerah rumah dimana dan dikasih informasi ke Dr. Martin di Al-Fatih masih di daerah Arcamanik sebelum deket pertigaan Parakan Saat, yang datang buanyak banget makanya pendaftaran bisa by phone dari jam 12 siang, sudah dapat nomor antrian kesanalah saya dan suami, Dr. Martin masih muda, Koko – koko gitu, bukan oppa –oppa yah, anak K-pop pasti bisa bedain mana Koko – Koko, Oppa – Oppa, Phi (Thailand) hahaha walau dimata non K-poper semua terlihat sama (Lah kok malah ngomongin yang lain)

Ok ke Dr. Martin lagi, pembawaannya tenang, ga pelit komunikasi, kita ditanyain terus, dan yang terpenting empatinya tinggi banget (waktu curhat Syira meninggal kerasa banget empatinya). Ini rekomendasi juga nih tapi jadwalnya ga bisa weekend dan prakteknya dari jam 5 sore sampai selesai, nilai plusnya disini mursidah banget alias murah di banding di Klinik Utama Kartini sama RS Hermina, dan bisa usg 4D juga oh disini, tapi kalo posisi bayinya pas yah, kalo muka bayinya udah tengkurep atau gamau ngeliatin dprininnya tetep yang 3G, karna doket Martin ga akan nunggu2 sampe muka bayinya nengok heheh secara paiennya banyak kan. Harga check up kurleb 120rb (konsul dokter,usg 3D (Dicetakin) sama vitamin)

Bulan depannya balik lagi ke Hermina, dan Dr, Ira ini kaya maen petak umpet ama saya L kata resepsionisnya waktu kemaren (hari sabtu) masuk tapi sekarang (minggu) cuti lagi gatau masuk laginya kapan , lah aku piye??? Akhirnya kepalang udah disana gpp deh ganti dokter yang ada, kita ke Dr. Yudo, sempet khawatir takut kaya dokter yang di Utama Kartini, tapi pas ketemu Weiss dokternya masih muda banget, komunikasti banget-banget deh kayaknya kita seumuran jadi berasa asyik aja gitu ngobrolnya (hahha sotau). Tapi emang bener asyik banget 2 kali periksa disana jadi sama Dr. Yudo karna Dr. Ira susah banget nyamain jadwal, dan Dokter yang optimis saya bisa ngelahirin normal walau berat bayinya lebih dari 3 kg ya dr. Yudo ini, kalo dokter sebelumnya hanya menyarankan jangan terlalu banyak ngemil jajanan, ngemil buah aja, biar ga lebih dari 3 kg, karna tiap rutin di cek k dr. Ira memang berat bayinya naik cepet. Harga doket Yudo itu lebih murah dibanding Dr, Ira dilihat dari pengalamannya sebagai dokter kali yah cmiiw kalo harga usg dan vitamin yah udah standarnya hermina, yang bedanya Cuma harga konsul dokternya ajasih.

Dari beberapa tenaga ahli seputar kehamilan diatas tau donk mana mana saja rekomendasi saya?hihi mungkin dikalian ada yang cocok atau bahkan sebaliknya, ini murni pengalaman saya aja ya….

For Your Information :

Klinik Al- Islam
Alamat : Jl. Awi Bitung No.29-31, Cicadas, Cibeunying Kidul, Kota Bandung, Jawa Barat 40121
Telp       : (022) 7208284

Klinik Utama Kartini
Alamat : Jl. Pahlawan No.48, Neglasari, Cibeunying Kaler, Kota Bandung, Jawa Barat 40124
Telp       : (022) 7200715

RS Hermina Arcamanik
Alamat : Jl. A.H. Nasution No.50, Antapani Wetan, Antapani, Kota Bandung, Jawa Barat 40294
Telp       : (022) 87242525

Klinik Alfaiha
Alamat      : Arcamanik, Jl. Griya Hamdan Asri No.3, Cisaranten Endah, Bandung, Kota Bandung, Jawa Barat 40291

Telp       : (022) 7218680

Minggu, 30 September 2018

For Your Information

1.       Yakinlah semua adalah ketetapan Alloh SWT.yang terbaik, jangan menyalahkan siapa-siapa, jangan berburuk sangka pada Alloh SWT, dan jangan sekali-kali menyalahkan diri sendiri, kadang saya juga heran kenapa anak saya bisa sakit, saya rutin memeriksakan kehamilan ke RS Hermina Bandung dokternya cocok, abik, ramah dan enakeun hehehe kondisinya baik, tetangga kami yang (maaf) jorok, botol asinya hanya dicuci seadanya, anaknya tidak pernah sakit, kalo kata pak Een, ibarat lagi nyabutin rumput kalo anaknya nangis minta asi, kadang ada yang ga cuci tangan dulu, tapi anaknya sehat-sehat aja.

2.  Semua cobaan akan mengantarkan kita menjadi pribadi yang lebih baik, rugi kalau kita tidak meningkatkan keimanan, apalah arti tangisan saya selama menemani si Bayi kalau iman saya tidak bertambah. Jangan merasa cobaan kita paling berat, lihatlah sekeliling banyak orang yang cobaannya lebih dan lebih susah dari kita. Cobaa google tentang perjuangan adamfabumi dan si cantik aurora

3. Jangan merasa orang lain harus tahu tentang kesedihan kita, dan mengumbarnya kemana-mana, itu akan membuat kita tersiksa, dan jangan berprasngka buruk kaya “loh kok dy ga ada empatinya ya, kok dia cuek aja pas saya kaya gini?” sempet saya berfikiran seperti itu, tapi buat apa kita minta dikasihani? Bukankah cobaan itu menguatkan? Saya yang sedang bernegosiasi pahala dengan Tuhan.

4. Jangan terlampau panik jika anak kita sakit, coba cari referensi yang baik, tidak ada salahnya membawa anak kita pada pengobatan yang terbaik walaupun dirasa tidak parah

5. Saking saya parnonya terhadap RSUD Ciamis dikala saya terserang virus Suudzon, saya sempat goggling dr Nesya (maaf ya dok), dr anak kedua yang menangani bayi kami, ternyata beliau S1 Umum, dan S2 baru spesialis anak, bukan meremehkan kemampuan dokter, tapi mengingat tidak ada dokter anak lain selain beliau saya merasa tidak punya referensi lain. Dan ternyata dr anak yang pertama yaitu dr Ati, sedang menjalani pengobatan diluar negeri karena kanker CMIIW (dapat info dari temen kakak ipar yang perawat di tasik) tapi dokter nesya ini cukup sigap ketika di NICU jika anak saya kenapa2 selama beliau masih bisa datang ke RS, malam-malampun dia akan datang

6. Untuk para perawat maupun semua tenaga medis, walaupun pasien RSUD Ciamis yang rata-rata (maaf) menengah kebawah, berikanlah pelayanan dan ketenangan yang terbaik, berikan info yang lengkap, itu berguna sekali untuk kami, terutama saya, jangan adalagi keluhan kel. pasien yang mengatakan perawat A baik perawat B judes, kami tahu anda semua lelah, tapi bukankah kalau LILLAH tidak akan pernah ada LELAH? Saya tahu tidak semua perawat atau dokter berkarakter yang tidak menyenangkan, terimakasih kepada Bu linda di peritologi dan bu linda di ruang NICU yang udah baik nganter2 suami urusin BPJS (namanya sama, cantik dan baiknya juga sama, hehe)

7. Untuk melepas penat, saya iseng jalan-jalan sama suami ke pasar, dan memang bukan jam besuk, aturannya boleh masuk apabila memiliki kartu pengunjung (satu ktp untuk satu kartu) atau nanti menunggu jam besuk (sekitar 4 jam lagi), saat itu saya tidak diperbolehkan masuk, karena suami yang mengalungkan kartu itu (seperti id card) sudah dijelaskan bahwa saya ibu bayi, tetap saja hanya satu orang yang boleh masuk, suami saya memberikan kartu itu kepada saya, tapi saya tidak mau kalu harus menunggu sendiri, saya kesal berbalik badan sambil ngomel “yaudah, gak apa-apa ya anak saya kelaparan diatas!!!” kalo inget itu saya malu sendiri anak saya emang mau makan apa?makan nasi? hehehe, tapi ya namanya juga kesal. Tapi akhirnya ketemu perawat baik, yang kebetulan mengenali suami saya dan memberitahu “jalan rahasia” untuk masuk heheh

8. Setelah saya memutuskan masuk kerja kembali, sebelumnya saya check up ke dokter obgyn, dokter klinik Al-Faiha, dokternya muda, baik banget, empatinya tinggi pas saya ceritakan pengalaman saya, dan sempet komplain kenapa dikasih susu formula

9. Saat hamil saya sering mengajarkan anak saya dzikir pagi sore, dan sebelum tidur mendengarkan lantunan juz amma dari Mauhammad Al-Ausy, imam besar di masjid nabawi, sambil mengusap, setelah shlat wajib saya sering berbicara pada anak saya “de, maintain sama Alloh ya biar papa punya rumah, mama gamau ade tidurnya sempit-sempitan (kami ngontrak, dengan 2 ruangan, ada dapur dan kamar mandi, dan sampai saat ini masih ngontrak) saya tahu betapa solehahnya anak kami, mungkin saja dia beneran minta ke Alloh untuk dibuatkan rumah, tapi bukan rumah biasa, bukan rumah yang seberapa megahnyapun tidak aka nada apa-apanya jika dibangun di dunia. Saya menemukan hadist sbg berikut :

Dalam hadis dari Abu Musa al-Asyari, Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

Apabila anak seorang hamba meninggal dunia, maka Allah bertanya kepada malaikat, Apakah kalian mencabut nyawa anak hamba-Ku? Mereka menjawab, Ya. Allah bertanya lagi, Apakah kalian mencabut nyawa buah hatinya? Mereka menjawab, Ya. Allah bertanya lagi, Apa yang diucapkan hamba-Ku? Malaikat menjawab, Dia memuji-Mu dan mengucapkan inna lillahi wa inna ilaihi raajiun. Kemudian Allah berfirman, Bangunkan untuk hamba-Ku satu rumah di surga. Beri nama rumah itu dengan Baitul Hamdi (rumah pujian). (HR. Tirmidzi 1037, Ibu Hibban 2948 dihasankan al-Albani)
Masyaalloh, semoga kelak mama papa dan semua keluarga dede bisa menempati rumah yang sudah ade Syira siapkan untuk kami ya de.. dari sana saya tahu bahwa nabi Muhammad SAW.juga pernah berduka ditinggal anak dan cucunya, seorang Nabi saja yang udah soleh, yang ga perlu minta juga Alloh SWT bakal ngabulin, harus menerima cobaan ditinggal anak, sementara saya, soleh juga engga tapi Alloh SWT mau memebenahi kami, Alloh SWT sayang pada kami, dia ingin menguji kesabaran kami, agar lebih taat, lebih beriman, lebih saling menyayangi. Alhamdulillah banyak hikmah yang diambil dari semua yang telah saya lalui,

10.   Untuk para orangtua diluar sana, untuk para ibu, calon ibu,apalagi yang sedang menghadapi cobaan tentang anak, anak adalah titipan, kalo dititipi harus dijaga dengan baik, kalo mau diambil sama yang punya, kita ga berhak menolak kan? Semangat ya buibu dan pakbapak!!!! Heheh Bagaimana dengan yang belum dikaruniai anak? Bersabarlah dalam ketaatan, coba baca lagi kisah nabi Jakaria. Kalo sampai meninggal tidak dikaruniai anak bagaimana? Bukankah mudah bagi Alloh SWT. Semua perempuan bisa jadi ibu, kalau tidak di dunia, Alloh SWT.siapkan di surga

11.   Saya pernah mendengar ceramah ust.Basalamah, tidak perlulah kita mengumbar foto anak di social media, khawatir timbul penyakit ‘ain (hati) ini seperti cambuk buat saya, saya pernah memajang foto anak saya termasuk suami saya juga, padahal saya tidak bermaksud apa-apa,, astaghfirullah.. memang Alloh SWT.maha baik, menegur dengan caraNya yang tak terduga

12.   Kini, kami tidak melulu harus sedih, kita bahagia, harus bahagia agar Syra di Surga melihat kami mendapat adik untuk Syra, Xoxo

13.   Untuk yang mau tau referensi dokter kandungan versi saya, kapan-kapan dibahas di tulisan selanjutnya ya.. (saya sempet gonta ganti dokter obgyn saat hamil)


Ambil yang baik, hempas yang buruk ya dear pembaca…hehe

Selasa, 11 September 2018

Selesai

Lanjutan....

Siang harinya suami saya dipanggil perawat untuk meminta darah ke PMI anak kami akan di transfusi. Ini adalah transfusi yang ke 4, saya ikut dengan suami ke pmi tapi stock di pmi hanya tersisa satu labu dan itu bukan darah baru, tapi udah beberapa hari, maka kami disarankan mencari pendonor saja.

Saya kembali lagi dengan suami ke RSUD, dan menceritakan bahwa stock di pmi tidak ada dengan harapan perawat mau membantu kami (barangkali dalam satu rumah sakit ada perawat yang bergolongan darah AB), jujur di RSUD kami tidak kenal siapa-siapa, jauh dari rumah orang tua, jauh dari saudara, anak kami bergolongan darah AB, saya A dan suami saya bergolongan darah B.

Tapi ternyata perawat tidak bereaksi apa-apa, sementara kami khawatir kalau anak kami butuh transfusi segera. Kami hanya duduk dipojokan (untung ga sambil garuk-garuk tembok lol). Tanya sana sini, tidak membuahkan hasil, kami terkulai lesu di pojokan pun, perawat seolah tak hiraukan. 

Tak lama adik saya memberi tahu bahwa teman sekolahnya bergolongan darah AB dan bersedia menjadi pendonor, sayapun meminta bantuan temen sekolah saya yang lain yang kebetulan sedang ada di Bandung sehingga hanya bisa menshare di grup alumni sekolah, termasuk saya juga menshare di instagram ciamis.info dan responnya baik

Singkat cerita saya ketemuan dengan teman adik saya, yang ternyata teman smp saya juga heheh saya hamper tidak mengenali karena badannya jadi kurus, dan benar saja berat badannya kurang dari 45 kg dan tidak memenuhi syarat sebagai pendonor. Tapi saya berterimakasih sekali kepada Betty yang udah jauh-jauh mau donor buat anak saya.

Ajaibnya, petugas PMI yang lain menginfokan bahwa darah golongan AB baru saja masuk, sehingga darah segar bisa diberikan, Alhamdulillah…

Tak lama, banyak yang menelpon saya, dari mulai Mbak Hilda yang dapet info dari ig @ciamis.info dan teman teman alumni SMA 1 ciamis dan kakak kelas saya sewaktu SMA jazakillah.. masih banyak orang baik yang tak pernah terpikirkan minta bantuan mereka, justru yang saya harapkan bisa dimintain tolong malah mengecewakan, disitulah saya merasa bahwa Alloh SWT benar-benar tahu apa yang ada dalam hati masing-masing makhluk yang sebenar-benarnya, terimakasih kepada Priyanka, Hera dan Iyus yang sudah bantu share.

Walau saya sudah mendapatkan darah AB, tetap kontaknya saya simpan barangkali nanti membutuhkan darah AB. Ternyata setelah mendapatkan darah tsb, darahnya disimpan dahulu karena anak saya tiba-tiba panasnya naik. Lebih tegang lagi ketika perawat memanggil dan menjelaskan bahwa anak saya akan d usg karena perutnya buncit, khawatir ada kelainan.

Saya menampik apabila ada kelainan, karena dari awal semua kondisi bayi berjalan normal, benar saja, hasil usg menyatakan bahwa tidak ada kelainan. Hanya saja bakteri sudah menyebar kemana-mana sehingga merusak hati dan ginjalnya. Remuk hati saya, saya pandangi wajah bayi mungil kami (engga mungil juga sih, stelah di NICU berat badan kembali normal, hanya saja kadang bengkak karena cairan infus, diantara pasien premature yang lain anak kami adalah yang terbahenol kalo kata Pak Een, pasien sebelah kami, kulitnya yang putih dan paha yang gempal sering jadi bahan kagumannya), saya katakan “selamat sebulan anak mama”tepat tanggal 28 mei, saya bacakan doa – doa, saya ceritakan kisah-kisah nabi-nabi saat anak-anak.

Saat nangis, anak saya tidak terdengar suara, saya sempat nangis-nangis dibuatnya, itu karena alat yang masuk lewat mulutnya, sehingga suaranya terganggu, saya elus-elus tangan, pipi dan rambutnya, rambutnya yang setengah botak, dicukur hanya untuk keperluan masuk selang infus saja, karena di tangan dan kaki sudah habis bekas infusan, maka tak jarang anak kami di infus lewat kepala, saya pernah meminta kepada perawat agar dicukur habis saja sekalian, karena anak kami rambutnya lebat dan hitam ga bagus saja terlihatnya jika di cukur-cukur sedikit-sedikit seperti pitak, tapi jawabannya hanya iya-iya saja sampai anak kami meninggal pun Alhamdulillah yah... rambutnya tetap saja begitu, botak sebagian.

Hari itu tanggal 30 mei, anak kami sudah dalam kondisi parah, hanya terbaring lemah, saya memegangi tangannya, saya usap-usap kepalanya, seraya berkata :

“de, mama sama papa udah iklhas de, mama janji ga akan nangis kalo ade diminta temenin Alloh, nanti kita kan ketemu lagi ya de, doain mama papa nanti bisa bareng di surge sama ade”

Saya dan suami saling berpegangan tangan, memegang tangan anak kami, kami membisikan kata-kata pasrah kami yang sebelumnya bilang kalau ade harus kuat, mama gamau kehilangan ade, sekarang berubah menjadi kata-kata perpisahan, walau ada sedikit rasa tidak ikhlas namu saya harus merelakan anak kami jika sewaktu-waktu dipanggil Alloh SWT.karena melihatnya makin menderita saya tidak tega, semua bukan salah siapa-siapa, semua adalah kehendak Yang Kuasa. Saya hanya bisa berdoa pada Alloh SWT agar kelak harus dipetemukan kembali dan berkumpul bersama-sama di surga.

Saat itu adalah saat saya merasa kuat, taka da lagi menangis meronta seperti sebelumnya padahal saat itu anak saya sedang dalam keadaan menggeliat-geliat sakaratul maut, saya hanya tidak mau terlihat terpuruk di depan mama saya dan saudara-saudara saya, karena jika begitu, mereka pasti akan teramat sedih. Saya berusaha tegar, saya yakin anak kami yang tak berdosa akan bermain di taman surga. Saatnya saya membahagiakan mereka yang masih ada, orangtua dan saudara saya, suami dan juga saya yang harus lebih bekerja keras agar masuk surga, bukankah kita-kita ini yang masih hidup belum tentu masuk surga? Itulah yang ada dalam benak saya,

Sayapun sempat bilang kepada mama dan kakak ipar saya, jika ade Syira sudah tidak memungkinkan untuk sembuh, saya minta semua ikhlas, saya sendiri akan berusaha.

Doa saya, jika anak kami meninggal minta di ambil ketika malam hari, dalam suasana syahdu, ketika pasien dan penunggu pasien lain tertidur, dan ya, tepat pukul 10.30 dokter jaga memanggil kami, di monitor denyut nadi anak kami sudah tidak terdeteksi, namun akan dicoba diusahakan dipompa tapi dokter tidak menjamin akan baik kembali, saya dan suami hanya bersikap tenang, menjawab semua perkataan dokter dan berterimakasih, mungkin dokter jaga saat itu kaget juga melihat ketenangan kami, sementara dia menyampaikan informasi dengan terbata-bata terlihat gugup.
Saya membangunkan pelan mama saya yang tertidur

“ma, coba hubungi bapak ma, suruh kesini”

mama saya terbangun dan tertunduk lemas,”si dede kenapa?”

“lagi di cek dokter ma, mama panggil dulu aja bapak suruh cepet-cepet kesini”

Mama pun menelpon bapak saya

Panggilan kedua terdengar, dari yang sebelumnya perawat memanggil dengan menghampiri tempat kami tidur, panggilan kedua ini seraya berteriak, sontak penunggu pasien lain terbangun.
Kami masuk keruangan,perawat menginformasikan bahwa sudah dipompa namun tidak ada reaksi, dokter jaga sedang menuju kesana, saya hampiri anak saya saya pegang tangannya, kukunya yang tampak membiru di dasar, ya saya tau, anak saya sudah ke surga.

Tak lama, dokter jaga yang lain dari sebelumnya datang dan memeriksa anak kami, dokter setengah baya tersebut menjelaskan bahwa anak dipastikan sudah tak bernyawa, dan bertanya anak ke berapa?
Saya jawab anak pertama, pertanyaan tersebut sering ditanyakan kepada kami, entah apa maksudnya, bagi kami semua anak pertama, kedua, ketiga, tetap saja sama, tak akan berubah rasa sayang orangtua kepada anak yang lain.

Saya menghampiri perawat dan meminta memberishkan atau melepas alat yang menempel dengan hati-hati, bekas plester dll agar tidak kelihatan, perawat mengiyakan, mereka mungkin heran kenapa kami bersikap tenang, dan bisa-bisanya berkata seperti itu. Itulah terakhir saya bisa mencereweti mereka maka saya manfaatkan agar anak kami tahu, bahawa sampai terakhir saya melihatnya, kami akan tetap peduli padanya.

Sambil menunggu anak kami dilepas alat, kami kembali keruangan dan membereskan perlengkapan yang kami bawa dari rumah mama untuk menginap, semua keluarga pasien menghampiri saya, saya tidak berkata apa-apa, yang terdengan bapak saya yang telah datang dan mengucapkan Innalillahi, sontak semua keluarga pasien menangis, satu persatu merangkul saya, ada yang memeluk, memegangi kepala dan mencium tangan saya, saya yang menahan air mata justru menangis dikala melihat semua keluarga pasien yang telah saya anggap seperti saudara itu menangis. Satu persatu menyabarkan saya,

Sayapun berpamitan kepada semuanya, semua membantu kami mengangkat barang-barang untuk disimpan di mobil,

Ibu dan Bapak Een, yang kocak, Bapak Een bekerja sebagai supir, lebih dulu anaknya dirawat karena premature, sudah sebulan setengah mereka disana

Keluarga Wida yang kadang bapaknya suka usil dan ibunya baik banget, pasien baru yang sudah 2 minggu, anaknya juga premature

Ibu nia endut heheh (karena ada 2 nama nia, nia kecil dan nia endut), ibu iis, dan ibu dan bapak lain yang saya tidak kenal hanya suami saja yang tahu karena suami sering ngobrol.

Tepat jam 11 malam selesai dimandikan di RSUD kami pulang, dirumah bibi-bibi saya sudah menyambut dengan tangis, saya dan suami telah berjanji kepada Syra tidak akan menangis, maka kami minimalisir tangisan kami. Banyak yang menasehati kami agar tidak terus larut dalam kesedihan, semua karena Alloh SWT yang menghendaki, di depan insyaalloh akan ada kebaikan bila kita menerima dengan ikhlas.

Paginya, sekitar pukul 8 pagi anak kami dikebumikan, tak lama berita meninggalnya anak kamuitersebar diantara para keluarga pasien lain yang lebih dulu pulang kerumah, ada pak RT (disebut begitu karena paling lama menginap di RS, yaitu 2 bulan), bu nia kecil, pak yanto (yang lebih dulu anaknya dipanggil Alloh SWT ke surga) semua dari daerah di ciamis yang berbeda-beda, kita sering bercanda bersama sekedar melepas kesedihan (kalau ada yag request nanti saya ceritain deh satu-satu tingkah lucu bapak-bapak dan ibu-ibu di RS heheh)


selamat jalan sayang… kadang mama dilanda rindu, papa juga pasti rindu (laki-laki hebat yang tangisannya tak terlihat tapi selalu cepat tanggap memeluk mama dalam keadaan terpuruk) Mama Papa harus iri kepada Syra yang bisa langsung ke surga tanpa hisab, mama yakin ade Syra disana sedang bersenang-senang, giliran kami memantaskan diri agar kelak berhak dijemput disana,tinggal bersama di rumah yang telah ade bangunkan di surga untuk kami, tunggu kami di Surga ya nak., ♥♥♥