Posted by : adiartanti setyono putri Rabu, 25 Desember 2013

          Rani tak tahu maksud Dewi apa, ia hanya menganggukan kepalanya. Bel menunjukkan istirahat berakhir, Rani dan Dewi membereskan makanan dan meja mereka dan bersiap menerima pelajaran berikutnya.
             Bel sekolah berbunyi tanda pelajaran berakhir, Dewi dan Rani tidak bergegas pulang seperti biasanya, mereka masih berada dikelas sampai semua siswa pulang dan ruangan kelas kosong.
Dewi: “Ayo Ran!” Dewi memberi isyarat kepada Rani untuk mengikutinya sambil melangkah dengan hati-hati
                Rani sama sekali belum mengerti maksud Dewi, ia hanya mengikuti apa yang diperintahkan Dewi dan mengikutinya. Sampai pada akhirnya langkan Dewi terhenti disalah satu sudut tembok yang bersebelahan dengan lapangan basket sekolah. Dewi sangat berhati-hati agar tidak diketahui oleh orang lain, namun memposisikan dirinya agar dapat jelas melihat keseluruh penjuru lapangan basket.

Dewi: “Lihat Ran” Dewi berkata kepada Rani setengah berbisik

Rani: “Iya aku lihat, mereka kelompok laki-laki yang tadi di kantin kan?”

Dewi: “alright, coba lihat dibangku penonton” Dewi mengerucutkan bibir dan menajamkan matanya kearah bangku penonton

Rani: “Lah?!., itu kan perempuan seangkatan dengan kita yang tadi siang juga Wi?” Tanya Rani heran

Dewi: “iya, ini yang ingin aku tunjukkan padamu”

Rani: “Emangnya apa yang aneh Wi? wajarkan perempuan itu jadi paparazzi gebetannya? baguslah, mereka mau berjuang mendapatkan cinta hahahah”

Dewi: “Huss! jangan keras-keras, kalau ketauan bisa gawat, diam dan perhatikan, sepertinya latihan pertama untuk tim putra sebentar lagi selesai”

  Pelatih tim putra membunyian peluit tanda latihan untuk tim basket putra selesai, serntak pemain basket yang sedang berlatih menuju kepinggir lapangan. Mataku tak dapat berkedip tatkala elihat ulah Yanti dan Tika, dua perempuan itu dengan percaya dirinya menghampiri para pemain basket yang tengah beristirahat itu, tak sungkan mereka memberikan handuk kecil kepada Rendi dan Robi. Rani terkagum-kagum melihat kegigihan dua temannya itu untuk mendapat perhatian pria idaman mereka.

Tapi taklama suasana berubah…

Yanti: “Kak Rendi ini aku bawakan minuman” Yanti menyodorkan minuman kafein dingin kepada Rendi dengan agak malu-malu.

Rendi: “apa-apaan kamu? aku ini habis berolahraga, kenapa kamu ngasih minuman itu, hah?!” Rendi kesal mengambil minuman itu dari tangan Yanti dan melemparnya ke tong sampah.

Yanti dan Tika hanya terpaku dan terdiam, Tika pun mengurungkan niatnya untuk memeberikan minuman kepada Robi, karena iapun membelikan minuman yang sama seperti yang Tika beli, namun teman-teman Rendi sontak menertawakan mereka.

Ihsan: “sudahlah, lain kali kalian bawakan kami minuman isotonic atau air putih saja” Ihsan memberitahu mereka dengan senyuman kecut

Yanti dan Tika: “baik Kak, maafin kami”  Yanti dan Tika menjawab dengan senyum yang agak dipaksakan

Rani dan Dewi hanya bisa terdiam melihat kejadian itu. Hingga akhirnya Rani melihat kearah jam tangannya dan tak disangka dia telah berada disana selama satu jam

Rani: “Wi! ayo pulang, sudah jam berapa ini?”

Dewi: “wahhh… yaampun aku lupa hari ini harus mengantar adikku les” Dewi terlihat panic
                
              Tanpa fikir panjang Rani dan Dewi pun bergegas meninggalkan lapangan basket dan sekolah, sambil menunggu angkutan umum mereka membicarakan kejadian yang barusan mereka lihat.

Dewi: “sekarang kamu udah ngerti kan Ran? makanya aku bilang mereka itu ga mungkin jadian? keliatannya sih laki-laki yang Yanti dan Tika suka tuh sengaja memanfaatkan mereka berdua, dan akhirnya teman-temannya ikut manfaatin juga.

Rani: “iyasih, tapi kita kan baru liat sekali ini saja mereka berulah, dan mungkin Rendi benar, bagi atlet seperti dia tidak cocok kalo setelah berolahraga minum minuman yang mengandung kafein, aku kesal dengan sikapnya tadi, tapi kita tidak mungkin begitu saja ikut campur dan menyalahkannya”

Dewi “aahh pokoknya aku yakin mereka laki-laki yang jahat!” Dewi berkata dengan nada yang lebih tinggi daripada sebelumnya.
               
           Rani telihat kaget dan bingung dengan nada suara Dewi yang ngotot menyalahkan sekelompok laki-laki itu, melihat temannya merasa kebingungan Dewi terlihat merasa bersalah, dan tak lama angkutan umum yang menuju ke rumah Dewi terlihat menghampiri mereka dari kejauhan.

Dewi: “ehh sudah gausah mikirin mereka, angkotku udah ada tuh, aku pulang duluan ya Ran, adikku pasti udah nunggu” Dewi menyetop angkutan umum dan bergegas masuk kedalam mobil itu setelah sebelumnya Rani menganggukan kepalanya perlahan.

Rani: “hati-hati Wi! Rani berteriak setelah melihat Dewi memposisikan dirinya duduk di angkutan umum.


Tak lama angkutan umum yang menuju kerumah Rani datang, Ranipun bergegas menyetop dan menaikki mobil itu, dalam perjalanan ia masih memikirkan pernyataan Dewi tadi, ia masih heran mengapa Dewi seolah tau segalanya, “aah tapi yasudahlah anggap saja tak penting” gumam Rani dalam hati

Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

- Copyright © write papper - Blogger Templates - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -