Posted by : adiartanti setyono putri Minggu, 08 Desember 2013

Aku Rani, keras kepala, tegas, tak kenal lelah, tekad kuat, tapi bisa menangis tak henti-henti jika hatinya tersentuh. Aku bukan dilahirkan dari keluarga kaya, semua serba seadanya, tapi keluargaku bersikeras jika pendidikan dapat merubah segalanya, merubah kehidupan menjadi lebih baik. Dari tiga bersaudara aku yang paling besar, maka tak heran ayah dan ibu membebankan masa depan keluarga dan adik-adik kepadaku. Orangtuaku mengharapkan aku menjadi seorang yang bekerja di bidang hukum, memiliki pekerjaan yang terikat dinas, memiliki jam kerja teratur, libur sesuai dengan kalender pemerintah, dan jaminan masa pensiun, mungkin jika semuanya lancar semua itu terasa menggiurkan, tapi entah mengapa aku seakan enggan dengan itu semua, entah darimana aku lebih tertarik dengan kebebasan, ekspresi, tanpa aturan ya… sesuatu tentang seni.
Seni tepat dibelakang masa depan keluargaku, selalu menjadi bayangan, bagaimanapun juga aku tidak boleh egois, mereka yang menyimpan harapan besar dipundakku tak boleh aku sia-siakan,  maka merantau di kota besar bisa jadi salah satu pilihan untuk mewujudkan impian keluargaku,Ya, menjadi seorang pengacara yang bertugas di pengadilan negara. Tapi bagiku menjadi pengacara merupakan beban yang berat, dalam batinku mungkin akan berkata pantaskah orang itu aku bela?pekerjaan yang terpaku pada aturan, jam masuk dan pulang yang sama setiap harinya, memakai seragam yang serupa dengan teman sekantor. Fiuh…. betapa bosannya aku bekerja setiap hari. Seperti hari-hari sebelumnya hari inipun aku masih melamunkan tentang itu ketika guru absen tidak mengajar, hingga teman  yang duduk sebangku denganku membuyarkan lamunan itu.
Dewi: “hoyyy!!!...... melamun saja…. nanti pulang sekolah kita mau kemana?”
Rani: “emhhhh….. entahlah, kamu yang selalu punya ide”
Dewi: “kita beli baso aweng yuu, nanti istirahat kita tak usah jajan disekolah, gmn?”
Rani: “wah ide bagus, aku juga pengen makan makanan pedes biar otakku berkeringat”
Dewi: “hahaha bisa saja kamu, sudah semua beban tak perlu terlalu difikirkan keras-keras, kita masih muda, terlalu banyak fikiran akan cepat membuat kerutan, obsesi kita jadi ratu sejagad akan pudar nantinya”
Serentak kamipun tertawa, kata yang menggelitik adalah kita berobsesi menjadi ratu kecantikan seperti yang dilantukan oleh vina panduwinata, . Begitulah salah satu cara teman terbaikku menghiburku,  memang tidak ada yang tau kalau kita berdua sering membuat sesi pemotretan sendiri dengan memakai baju yang “aneh” dan aksesoris segala macam, dan  bernyanyi-nyanyi depan cermin, kita bedua sadar kalau kita bukanlah wanita yang popular disekolah, dan sering terjadi bullying oleh teman-teman atau kakak kelas yang merasa genk cantik atau tampan dan kaya kepada siswa lain yang mereka anggap biasa. Tapi kita berdua mempunyai imajinasi yang tinggi, suatu saat  bermimpi berubah menjadi Cinderella yang bertemu pangeran baik hati.
Semenjak masuk di Sekolah Menengah Atas ini Dewi yang paling dekat denganku, dan entah mengapa ketika akan naik ke kelas XI dan saat itu aku berniat masuk jurusan IPS berbeda faham dengan kedua orang tuaku, mereka menghendaki aku masuk IPA, akupun mengalah, aku berusaha masuk IPA dan akhirnya masuk di XI IPA 1 bertemu kembali dengan Dewi, dan semenjak itu kami duduk sebangku. Kita berdua mengikuti organisasi yang sama dibidang seni, dan setelah pulang sekolah kita selalu menyempatkan diri untuk pergi kesuatu tempat, entah itu untuk membeli sesuatu atau sekedar membuang rasa penat.Kecuali untuk hari dimana aku harus segera pulang kerumah, karena jarak rumahku lebih jauh dari temanku itu. Dewi sama denganku, bersala dari keluarga sederhana da masuk ke SMA Favorit karena kerja keras dan tekad yang kuat, dan diapun mempunyai masalah yang sama denganku, semenjak masuk ke SMA ini tak pernah sekalipun mendapatkan ranking di kelas karena kita tidak pernah konsen belajar, sama-sama menemukan ketidaknyamanan dirumah, disekolah, dan pergaulan.
Bel pulang sekolah berbunyi, aku dan dewi bersiap-siap pulang, setelah selesai berdo’a seperti anak lainnya kita keluar kelas. Depan pintu gerbang sekolah, kami terpaksa berhenti karena segerombolan genk kakak kelas yang popular akan keluar terlebih dahulu, itulah saat-saat yang menybelkan bagiku, setiap kali harus mengalah baik untuk kakak kelas, teman sebaya, sekelas, atau adik kelas yang popular. Beruntung hari ini jam sekolah pulang lebih awal, jadi kami tidak akan terlalu lama pulang sampai kerumah.
Setelah 10 menit berjalan kaki, kita berdua sampai di tempat tujuan, yaitu baso Aweng, baso yang terkenal dengan kelezatannya namun harganya pas untuk kantong anak sekolahan tak heran kalo ditempat ini sering penuh dengan anak sekolahan.
Dewi: “Wahh asyikkk Aweng belum terlalu penuh cepat tempatin bangku yang itu, aku yang pesen”
Rani: “Sipp-sipp seperi biasa aku tanpa toge yah”
Dewi: “Oke!!”
Setelah Dewi selesai memesan ia menghampiriku dan duduk disebelahku, dibangku kosong yang telah aku tandai dengan buku diatasnya, agar tidak ada orang lain yang menempati bangku itu.
Dewi: “Jadi, kenapa lagi kamu?”
Rani: “Aku hanya penat dengan kehendak orangtuaku yang mereka bebankan dipundakku Wi, aku merasa selama ini aku bukan aku yang sebenarnya, tapi mereka seolah tidak mau tau, aku harus jadi seperti yang mereka inginkan”
Dewi: “Ohh begitu… aku juga tidak bisa memberikan saran atas apa yang kamu keluhkan, sulit memang, apalagi berhubungan dengan orangtua, aku malah belum jelas setelah keluar SMA akan kemana, orangtuaku hanya bilang, jika aku ingin kuliah maka harus masuk di ITB soalnya disana ada sodara yang kerja disana, jadi setidaknya bisa dapet tempat tinggal gratis dan sedikit dana bantuan”
Rani: “Wah enak kalo kamu punya sodara disana, tapi masuk kesana kan susah, kamu sanggup belajar mati-matian?
Dewi: “itu dia masalahnya, otakku rasanya sudah beku, sudah menolak untuk belajar keras, saingan akan lebih banyak”
Rani: “Lah terus kalo kamu ga masuk kesana gimana?”
Dewi: “ya sepertinya aku ga akan kuliah, aku akan mencari pekerjaan saja”
Rani: “hemffhh… tapi apa salahnya dicoba, kita ikut aja tesnya, ku ikut tesnya  juga deh, biar kamu termotivasi hahaha”
Dewi: “hahahaha yang ada aku ga konsen ikut tes gara-gara ada kamu, tapi tes masuknya pasti mahal”
Rani: “ohh iya juga yah hemmffffhhh”
(Pesanan baso kamipun datang)
Dewi: “sudahlah kita fikirkan lagi nanti, sekarang kita ledakan otak kita degan pedasnya baso aweng ini”
Rani: “hahahah iyah benar juga, ayo ayo serbu”
Kami melahap baso Aweng dengan ditambahkan sambal yang banyak hingga bibir kami tak mampu merasakan rasa lain dari bumbu baso itu karena terkalahkan dengan rasa pedas dari sambal itu. Hingga seragam sekolah kamipun terasa sangat mencekik badan karena keringat yang bercucuran. Setelah selesai melahap makanan pedas kami, kamipun segera membayarnya dan pulang kerumah masing-masing.
Kami mengendarai kendaraan angkutan umum yang berbeda, dan biasanya akulah yang pertama kali harus menaiki angkutan umum yang membawaku sampai kerumah karena angkot yang menuju kerumahku sangat sedikit dan jarak keberangkatannya lama, maka Dewi selalu mengalah dan setia menemaniku sampai aku mendapatkan angkot itu. Setelah mendapatkan angkot akupun naik dan berpamitan pulang lebih dulu kepada Dewi.
Rani: “Kiri depan Pak!”
(Angkotpun berhenti)
Rani: “ini pak uangnya”
Sopir Angkot: “Kurang Neng, 500 lagi”
Rani: “Lah biasanya juga tiga ribu pak kan saya osis”
Sopir angkot: “Kalo bukan osis ya kurang seribu!”
Aku kesal karena biasanya ongkosnya memang tiga ribu, dan kesal karena sopir angkot menagih dengan membentak dan ngotot, akupun merogok saku dan memberikannya lima ratus. Terpaksa jatah uang untuk hari esok berkurang limaratus gumamku.
Ketika sampai dirumah, betapa terkejutnya aku kamarku berantakan, lemari, kasur, dan buku-buku beserakan. Tanpa sempat bertanya, ayah berkata kepadaku.
Ayah: “Kamarmu untuk adikmu yah, soalnya adikmu sudah besar, dan harus punya kamar yang lebih luas, jadi kamu gentian kamar dengan adikmu ya?”
Rani: “……….”
Aku tak berkata apapun, aku hanya duduk dikursi usang depan “mantan” kamarku, dan aku rasa perkataan Ayah bukanlah pertanyaan yang membutuhkan jawaban, tapi pernyataan yang tak dapat diganggu gugat. Kalo adikku memerlukan ruangan besar karena dia bertambah besar, apakah aku yang sudah besar telah menjadi kecil karena mendpata kamar yang lebih kecil? aku marah, sedih, kecewa, karena aku selalu saja mendapatkan putusan yang sepihak, dan kamar itu merupakan kamarku dari kecil, sejak kecil aku berbagi cerita dengan ruangan sederhana itu. ahhhh sudahlah aku harus menerimanya…..
Sang fajar telah mulai menurunkan bahtera terangnya, waktu yang menempel di dinding biru menunjukan pukul enam sore, untungnya aku telah selesai membenahi kamar baruku tapi kamar bekas bagi adikku, lelah terasa, agar bisa cepat beristirahat aku lekas mandi.
Setelah aku selesai mandi, shalat dan makan, aku masuk kedalam kamar, disana aku berbaring di kasur yang ukurannya hanya cukup untuk badanku saja, ak manatap langit-langit, dan kemudian mataku tertuju pada papan penutup fentilasi diatas jendela, papan berwarna putih yang ukurannya cukup besar. Ku ambil kursi dan kuletakkan tepat dibawah jendela, aku mengambil beberapa crayon dan pensil warna yang warnanya telah pudar karena sering dipakai dan digunakan bersama-sama dengan adik-adikku.

Kutorehkan garis dengan pensil warna merah sebagai garis utama, dan warna crayon hijau yang mengitari sekeliling garis itu sebagai bayangan, diruang kosong ku arsir dengan crayon kuning samar-samar agar terlihat penuh dengan warna, namun tidak terlalu kontras. Setengah jam berkutat dengan itu akhirnya aku bisa kembali berbaring dikasur sambil melihat torehan warna-warna sederhana tadi. Aku menulis namaku sendiri disana dengan huruf Jepang. Mungkin saja secara langsung fikiranku membawaku melakukan itu, menulis namaku disana untuk menghiburku, untuk menunjukan pada diriku bahwa ini adalah kamarku, ini adalah kamarku ditandai dengan huruf Jepang itu….. Kutuliskan AL MI RA NI huruf dengan bahasa jepang hiragana.

One Response so far.

Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

- Copyright © write papper - Blogger Templates - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -