Archive for Desember 2013

          Rani tak tahu maksud Dewi apa, ia hanya menganggukan kepalanya. Bel menunjukkan istirahat berakhir, Rani dan Dewi membereskan makanan dan meja mereka dan bersiap menerima pelajaran berikutnya.
             Bel sekolah berbunyi tanda pelajaran berakhir, Dewi dan Rani tidak bergegas pulang seperti biasanya, mereka masih berada dikelas sampai semua siswa pulang dan ruangan kelas kosong.
Dewi: “Ayo Ran!” Dewi memberi isyarat kepada Rani untuk mengikutinya sambil melangkah dengan hati-hati
                Rani sama sekali belum mengerti maksud Dewi, ia hanya mengikuti apa yang diperintahkan Dewi dan mengikutinya. Sampai pada akhirnya langkan Dewi terhenti disalah satu sudut tembok yang bersebelahan dengan lapangan basket sekolah. Dewi sangat berhati-hati agar tidak diketahui oleh orang lain, namun memposisikan dirinya agar dapat jelas melihat keseluruh penjuru lapangan basket.

Dewi: “Lihat Ran” Dewi berkata kepada Rani setengah berbisik

Rani: “Iya aku lihat, mereka kelompok laki-laki yang tadi di kantin kan?”

Dewi: “alright, coba lihat dibangku penonton” Dewi mengerucutkan bibir dan menajamkan matanya kearah bangku penonton

Rani: “Lah?!., itu kan perempuan seangkatan dengan kita yang tadi siang juga Wi?” Tanya Rani heran

Dewi: “iya, ini yang ingin aku tunjukkan padamu”

Rani: “Emangnya apa yang aneh Wi? wajarkan perempuan itu jadi paparazzi gebetannya? baguslah, mereka mau berjuang mendapatkan cinta hahahah”

Dewi: “Huss! jangan keras-keras, kalau ketauan bisa gawat, diam dan perhatikan, sepertinya latihan pertama untuk tim putra sebentar lagi selesai”

  Pelatih tim putra membunyian peluit tanda latihan untuk tim basket putra selesai, serntak pemain basket yang sedang berlatih menuju kepinggir lapangan. Mataku tak dapat berkedip tatkala elihat ulah Yanti dan Tika, dua perempuan itu dengan percaya dirinya menghampiri para pemain basket yang tengah beristirahat itu, tak sungkan mereka memberikan handuk kecil kepada Rendi dan Robi. Rani terkagum-kagum melihat kegigihan dua temannya itu untuk mendapat perhatian pria idaman mereka.

Tapi taklama suasana berubah…

Yanti: “Kak Rendi ini aku bawakan minuman” Yanti menyodorkan minuman kafein dingin kepada Rendi dengan agak malu-malu.

Rendi: “apa-apaan kamu? aku ini habis berolahraga, kenapa kamu ngasih minuman itu, hah?!” Rendi kesal mengambil minuman itu dari tangan Yanti dan melemparnya ke tong sampah.

Yanti dan Tika hanya terpaku dan terdiam, Tika pun mengurungkan niatnya untuk memeberikan minuman kepada Robi, karena iapun membelikan minuman yang sama seperti yang Tika beli, namun teman-teman Rendi sontak menertawakan mereka.

Ihsan: “sudahlah, lain kali kalian bawakan kami minuman isotonic atau air putih saja” Ihsan memberitahu mereka dengan senyuman kecut

Yanti dan Tika: “baik Kak, maafin kami”  Yanti dan Tika menjawab dengan senyum yang agak dipaksakan

Rani dan Dewi hanya bisa terdiam melihat kejadian itu. Hingga akhirnya Rani melihat kearah jam tangannya dan tak disangka dia telah berada disana selama satu jam

Rani: “Wi! ayo pulang, sudah jam berapa ini?”

Dewi: “wahhh… yaampun aku lupa hari ini harus mengantar adikku les” Dewi terlihat panic
                
              Tanpa fikir panjang Rani dan Dewi pun bergegas meninggalkan lapangan basket dan sekolah, sambil menunggu angkutan umum mereka membicarakan kejadian yang barusan mereka lihat.

Dewi: “sekarang kamu udah ngerti kan Ran? makanya aku bilang mereka itu ga mungkin jadian? keliatannya sih laki-laki yang Yanti dan Tika suka tuh sengaja memanfaatkan mereka berdua, dan akhirnya teman-temannya ikut manfaatin juga.

Rani: “iyasih, tapi kita kan baru liat sekali ini saja mereka berulah, dan mungkin Rendi benar, bagi atlet seperti dia tidak cocok kalo setelah berolahraga minum minuman yang mengandung kafein, aku kesal dengan sikapnya tadi, tapi kita tidak mungkin begitu saja ikut campur dan menyalahkannya”

Dewi “aahh pokoknya aku yakin mereka laki-laki yang jahat!” Dewi berkata dengan nada yang lebih tinggi daripada sebelumnya.
               
           Rani telihat kaget dan bingung dengan nada suara Dewi yang ngotot menyalahkan sekelompok laki-laki itu, melihat temannya merasa kebingungan Dewi terlihat merasa bersalah, dan tak lama angkutan umum yang menuju ke rumah Dewi terlihat menghampiri mereka dari kejauhan.

Dewi: “ehh sudah gausah mikirin mereka, angkotku udah ada tuh, aku pulang duluan ya Ran, adikku pasti udah nunggu” Dewi menyetop angkutan umum dan bergegas masuk kedalam mobil itu setelah sebelumnya Rani menganggukan kepalanya perlahan.

Rani: “hati-hati Wi! Rani berteriak setelah melihat Dewi memposisikan dirinya duduk di angkutan umum.


Tak lama angkutan umum yang menuju kerumah Rani datang, Ranipun bergegas menyetop dan menaikki mobil itu, dalam perjalanan ia masih memikirkan pernyataan Dewi tadi, ia masih heran mengapa Dewi seolah tau segalanya, “aah tapi yasudahlah anggap saja tak penting” gumam Rani dalam hati

Cerpen Belum Ada Judul (eps.3)

Posted by : adiartanti setyono putri 0 Comments
Tag : ,
     Umurku sekarang 22 tahun, aku tak ingat kapan terakhir kali aku menulis diary,. Hari-hari yang aku rasakan, baik sedih, senang, susah dan gembira, selalu berujung pada kelegaan hati dimalam yang tenang, tatkala ku torehkan semuanya dalam lembaran kertas itu, diary
     Tampilannya mungkin tidak menarik, hanya buku tulis biasa yang tak lagi kugunakan untuk mencatat pelajaran sekolah, kugunting, ku sampul ku hias dengan spidol warna-warni, sehingga tak bosan ku torehkan segala peluh setiap harinya.
     Tujuh tahun lamanya aku tak pernah melewatkan menulis diary.
     Beruntungnya aku bertemu dengan pelajaran Bahasa Indonesia, yang telah mengenalkanku pada tugas mengarang, baca puisi, filateli, menulis diary dan menulis jadwal kegiatan. Yang paling berkesan tentu saja menulis diary. Semua bisa aku ungkapkan tanpa diketahui oleh orang lain, semua bisa aku ceritakan tanpa harus ada kata yang terucap.
     Beruntung pernah mempunyai buku diary, dia tak akan marah ketika aku melakukan salah, dia tak akan menertawakan kejadian bodohku, tapi dia telah melegakan hatiku ketika aku butuh bercerita namun tak dapat ku ungkapkan pada siapapun.
   

Diary's

Posted by : adiartanti setyono putri 0 Comments
Hari senin yang diguyur hujan, Rani berlari semampunya menuju gerbang sekolah. Rani tahu bahwa dirinya akan dihukum karena terlambat masuk sekolah, beruntung hari senin pekan ini tidak dilaksanakan upacara bendera. Di sekolah Rani upacara bendera diadakan hari senin disetiap dua pekan sekali. Setelah sampai dipintu gerbang sekolah, Rani bertemu dengan guru piket yang bertugas menjaga gerbang sekolah.
Rani: “maaf pak saya terlambat” nafas Rani terengah-engah hasil dari berlari menuju gerbang
Pak Asep: “kenapa terlambat?”
Rani : “angkutan umum lewat tak seperti biasanya pak kalau hujan” Rani memasang muka memelas berharap mendapat belas kasihan
Pak Asep: “rumah kamu dimana memangnya?”
Rani: “cipaku pak”
Pak Asep: “wah memang itu jauh sekali, dulu bapak pernah kesana hampir seperti ke gunung, jalannya berkelok-kelok……” Pak Asep bernarasi sambil seekalimelihat ke atas seakan menghayati apa yang ia ceritakan.
Rani: “iya Pak, iya.. ohhh begitu” Rani berpura-pura ikut dalam cerita Pak Asep yang dirasa sangat membosankan
                Tak lama Rani masuk ke kelas, untung saja belum ada guru yang masuk. Rani bergegas duduk di kursi samping Dewi
Dewi: “dihukum apa? kok cepet?” Tanya Dewi heran dan menyadari sahabatnya kesiangan
Rani: “heheheheh” Rani mengawali jawabannya dengan tertawa yang tertahan, kemudian melanjutkan jawabannya
Rani: “Aku hanya bilang rumahku di Cipaku, kemudian pak Asep bercerita panjang lebar, dan mengizinkanku masuk kelas, dia hanya memberiku surat peringatan”
Dewi: “hahahaha beruntung kamu hari ini, mungkin kasian sama kamu”
Rani: “iyah mungkin, lagian ga ada saksi, hanya ada pak Asep, yang kesiangan cuma aku aja”
Dewi: “usahakan jangan kesiangan terus”
Rani: “semoga saja” Rani nampak lesu membalas permintaan Dewi. Dewi hanya menepuk-nepuk bahu Rani, mengerti apa yang membuat Rani risau.
Semenjak adik laki-laki Rani masuk SMA, ia berangkat bersama-sama dengan adiknya dengan mengendarai motor dan dilanjutkan dengan naik kendaraan umum karena jarak sekolah Rani lebih jauh dari adiknya. Adik Rani tidak diterima di sekolah Rani maka dari itu sekolah mereka berbeda, yang membuat Rani risau adalah adik Rani yang selalu terlambat bangun dan membuat Rani terlambat kesekolah karena harus diteruskan dengan menaiki kendaraan umum. Di rumah, Rani tidak bisa berbuat banyak, kalau mengadu tak akan ada gunanya, hanya akan menimbulkan pentengkaran dan Rani yang disalahkan.
                Istirahat pertama sedang berlangsung, Rani dan Dewi berada dikelas sambil menyantap bekal sekolah. Tak lama Dewi terlihat memandang keluar jendela.
Rani: “ Ada apa Wi?” Rani berusaha mencari-cari apa yang membuat Dewi menatap keluar jendela
Dewi: “Perhatikan orang itu dan itu” Dewi menunjuk beberapa kelompok orang, d salah satu sudut di kantin sekolah terdapat empat orang wanita dan lima orang laki-laki, dan dari kelas sebrang kantin terlihat dua orang wanita sedang berbisik-bisik sambil melihat ke arah anak-anak tadi
Rani “kenapa dengan mereka Wi?” Rani mengeluarkan kepalanya sambil membuka jendela kelas
Dewi: “ssstttt hey jangan begitu” Dewi menarik Rani duduk di kursi dan menutup kembali jendela
Rani: “kata kamu perhatikan orang itu?” Tanya Rani heran
Dewi: “iya, tapi jangan keliatan mencolok gitu dong”…. kelompok anak yang dikantin itu kakak kelas kita, ibaratnya mereka itu satu geng. Lumayan disegani sama anak-anak sekolah, selain nampang, mereka juga katanya kaya-kaya”
Rani: “otaknya gimana?”
Dewi: “tidak terlalu mencolok ksih, mungkin kalau orang pintar ga akan merasa berkuasa kaya gitu”
Rani: “oohh tapi kalau aku perhatikan, dari empat wanita itu yang lumayan cantik hanya satu itu, dan laki-lakinya satu, dua, tiga, empat, lima, semuanya lumayan sih” Rani menunjuk-nunjuk ke arah kantin dengan sembunyi-sembunyi agar tidak ketauan.
Dewi: “itu namanya Ajeng, kalau yang laki-laki Robi, Adam, Ihsan, Ahdi, Rendi”
Rani: “oohh, liat itu, wajah wanita itu putih wajahnya beda dengan tangannya, mungkin pakai bedak yang tebal atau pemutih, sekilas tampak bersih namun kalau diperhatikan aneh juga”
Dewi: “iya juga yah”
……kemudian hening, namun mereka berdua masih memandangi orang-orang itu…. tak lama mereka tertawa..
Rani: “emangnya kita lebih cantik dari mereka ngomong gitu? hahahah”
Dewi: “iya bener, ibarat komentator alumni ratu kecantikan aja”
Rani :”aisshh yang jelas cantik alami dan cantik hati itu yang utama”
Dewi: “oke oke, mari cantik alami, besok-besok kita maskeran pake saripohaci, hahahah”
Rani :”hahaha ayolah kalau begitu…” “eh, tunggu, trus hubungannya dengan anak itu apa?” Rani menunjuk ke arah dua anak perempuan di kelas lain.
Dewi: “nah mereka itu Yanti sama Tika, katanya mereka suka ke laki-laki yang disana, Yanti suka ke Rendi dan Tika suka ke Robi. Mereka tau kalau dua laki-laki itu lagi jomblo trus mereka suka cari-cari perhatian gitu ke Rendi sama Robi”
Rani: “ohh ya bagus, mudah-mudahan aja beneran jadian”
Dewi: “Ahhh kamu, perhatikan makanya, Yanti sama Tika itu orang biasa, sedangkan laki-laki itu? geng popular disekolah, itu ga mungkin banget”
Rani : “nah, justru itu Yanti ama Tika berarti ingin berjuang mendapatkan hati kedua laki-laki itu dan kalau laki-laki itu suka juga berarti mereka laki-laki baik hati, suka sama wanita biasa”
Dewi: “Aduh Ran, kamu itu terlalu polos ya? nanti liat deh pas pulang sekolah”
Rani: “……”

Cerpen Belum Ada Judul (eps.2)

Posted by : adiartanti setyono putri 2 Comments
Tag : ,
Seorang penulis bukanlah dua jiwa yang berlainan, satu sisi dia masuk dalam ciri tulisannya, dan disisi lain dia tepat berdiri di dunia nyata. Penulis itu harus jadi diri sendiri yang sesungguhnya.

Seorang penulis tak harus berperilaku tidak wajar diantara yang lain, dia tidak harus (maaf) lebay menjalani hidup.

Seorang penulis adalah makhluk normal. Kelebihannya ia mampu mengolah suatu momen, momen yang ia dapat, ia dengar, ia lihat, yang ia rasakan dan berakhir dengan sebuah karya nyata..

Penulis memberikan penglihatan bagi mereka yang tidak mampu melihat jauh

Penulis berkata tanpa harus ada suara...

coretan malam

Posted by : adiartanti setyono putri 0 Comments
Aku Rani, keras kepala, tegas, tak kenal lelah, tekad kuat, tapi bisa menangis tak henti-henti jika hatinya tersentuh. Aku bukan dilahirkan dari keluarga kaya, semua serba seadanya, tapi keluargaku bersikeras jika pendidikan dapat merubah segalanya, merubah kehidupan menjadi lebih baik. Dari tiga bersaudara aku yang paling besar, maka tak heran ayah dan ibu membebankan masa depan keluarga dan adik-adik kepadaku. Orangtuaku mengharapkan aku menjadi seorang yang bekerja di bidang hukum, memiliki pekerjaan yang terikat dinas, memiliki jam kerja teratur, libur sesuai dengan kalender pemerintah, dan jaminan masa pensiun, mungkin jika semuanya lancar semua itu terasa menggiurkan, tapi entah mengapa aku seakan enggan dengan itu semua, entah darimana aku lebih tertarik dengan kebebasan, ekspresi, tanpa aturan ya… sesuatu tentang seni.
Seni tepat dibelakang masa depan keluargaku, selalu menjadi bayangan, bagaimanapun juga aku tidak boleh egois, mereka yang menyimpan harapan besar dipundakku tak boleh aku sia-siakan,  maka merantau di kota besar bisa jadi salah satu pilihan untuk mewujudkan impian keluargaku,Ya, menjadi seorang pengacara yang bertugas di pengadilan negara. Tapi bagiku menjadi pengacara merupakan beban yang berat, dalam batinku mungkin akan berkata pantaskah orang itu aku bela?pekerjaan yang terpaku pada aturan, jam masuk dan pulang yang sama setiap harinya, memakai seragam yang serupa dengan teman sekantor. Fiuh…. betapa bosannya aku bekerja setiap hari. Seperti hari-hari sebelumnya hari inipun aku masih melamunkan tentang itu ketika guru absen tidak mengajar, hingga teman  yang duduk sebangku denganku membuyarkan lamunan itu.
Dewi: “hoyyy!!!...... melamun saja…. nanti pulang sekolah kita mau kemana?”
Rani: “emhhhh….. entahlah, kamu yang selalu punya ide”
Dewi: “kita beli baso aweng yuu, nanti istirahat kita tak usah jajan disekolah, gmn?”
Rani: “wah ide bagus, aku juga pengen makan makanan pedes biar otakku berkeringat”
Dewi: “hahaha bisa saja kamu, sudah semua beban tak perlu terlalu difikirkan keras-keras, kita masih muda, terlalu banyak fikiran akan cepat membuat kerutan, obsesi kita jadi ratu sejagad akan pudar nantinya”
Serentak kamipun tertawa, kata yang menggelitik adalah kita berobsesi menjadi ratu kecantikan seperti yang dilantukan oleh vina panduwinata, . Begitulah salah satu cara teman terbaikku menghiburku,  memang tidak ada yang tau kalau kita berdua sering membuat sesi pemotretan sendiri dengan memakai baju yang “aneh” dan aksesoris segala macam, dan  bernyanyi-nyanyi depan cermin, kita bedua sadar kalau kita bukanlah wanita yang popular disekolah, dan sering terjadi bullying oleh teman-teman atau kakak kelas yang merasa genk cantik atau tampan dan kaya kepada siswa lain yang mereka anggap biasa. Tapi kita berdua mempunyai imajinasi yang tinggi, suatu saat  bermimpi berubah menjadi Cinderella yang bertemu pangeran baik hati.
Semenjak masuk di Sekolah Menengah Atas ini Dewi yang paling dekat denganku, dan entah mengapa ketika akan naik ke kelas XI dan saat itu aku berniat masuk jurusan IPS berbeda faham dengan kedua orang tuaku, mereka menghendaki aku masuk IPA, akupun mengalah, aku berusaha masuk IPA dan akhirnya masuk di XI IPA 1 bertemu kembali dengan Dewi, dan semenjak itu kami duduk sebangku. Kita berdua mengikuti organisasi yang sama dibidang seni, dan setelah pulang sekolah kita selalu menyempatkan diri untuk pergi kesuatu tempat, entah itu untuk membeli sesuatu atau sekedar membuang rasa penat.Kecuali untuk hari dimana aku harus segera pulang kerumah, karena jarak rumahku lebih jauh dari temanku itu. Dewi sama denganku, bersala dari keluarga sederhana da masuk ke SMA Favorit karena kerja keras dan tekad yang kuat, dan diapun mempunyai masalah yang sama denganku, semenjak masuk ke SMA ini tak pernah sekalipun mendapatkan ranking di kelas karena kita tidak pernah konsen belajar, sama-sama menemukan ketidaknyamanan dirumah, disekolah, dan pergaulan.
Bel pulang sekolah berbunyi, aku dan dewi bersiap-siap pulang, setelah selesai berdo’a seperti anak lainnya kita keluar kelas. Depan pintu gerbang sekolah, kami terpaksa berhenti karena segerombolan genk kakak kelas yang popular akan keluar terlebih dahulu, itulah saat-saat yang menybelkan bagiku, setiap kali harus mengalah baik untuk kakak kelas, teman sebaya, sekelas, atau adik kelas yang popular. Beruntung hari ini jam sekolah pulang lebih awal, jadi kami tidak akan terlalu lama pulang sampai kerumah.
Setelah 10 menit berjalan kaki, kita berdua sampai di tempat tujuan, yaitu baso Aweng, baso yang terkenal dengan kelezatannya namun harganya pas untuk kantong anak sekolahan tak heran kalo ditempat ini sering penuh dengan anak sekolahan.
Dewi: “Wahh asyikkk Aweng belum terlalu penuh cepat tempatin bangku yang itu, aku yang pesen”
Rani: “Sipp-sipp seperi biasa aku tanpa toge yah”
Dewi: “Oke!!”
Setelah Dewi selesai memesan ia menghampiriku dan duduk disebelahku, dibangku kosong yang telah aku tandai dengan buku diatasnya, agar tidak ada orang lain yang menempati bangku itu.
Dewi: “Jadi, kenapa lagi kamu?”
Rani: “Aku hanya penat dengan kehendak orangtuaku yang mereka bebankan dipundakku Wi, aku merasa selama ini aku bukan aku yang sebenarnya, tapi mereka seolah tidak mau tau, aku harus jadi seperti yang mereka inginkan”
Dewi: “Ohh begitu… aku juga tidak bisa memberikan saran atas apa yang kamu keluhkan, sulit memang, apalagi berhubungan dengan orangtua, aku malah belum jelas setelah keluar SMA akan kemana, orangtuaku hanya bilang, jika aku ingin kuliah maka harus masuk di ITB soalnya disana ada sodara yang kerja disana, jadi setidaknya bisa dapet tempat tinggal gratis dan sedikit dana bantuan”
Rani: “Wah enak kalo kamu punya sodara disana, tapi masuk kesana kan susah, kamu sanggup belajar mati-matian?
Dewi: “itu dia masalahnya, otakku rasanya sudah beku, sudah menolak untuk belajar keras, saingan akan lebih banyak”
Rani: “Lah terus kalo kamu ga masuk kesana gimana?”
Dewi: “ya sepertinya aku ga akan kuliah, aku akan mencari pekerjaan saja”
Rani: “hemffhh… tapi apa salahnya dicoba, kita ikut aja tesnya, ku ikut tesnya  juga deh, biar kamu termotivasi hahaha”
Dewi: “hahahaha yang ada aku ga konsen ikut tes gara-gara ada kamu, tapi tes masuknya pasti mahal”
Rani: “ohh iya juga yah hemmffffhhh”
(Pesanan baso kamipun datang)
Dewi: “sudahlah kita fikirkan lagi nanti, sekarang kita ledakan otak kita degan pedasnya baso aweng ini”
Rani: “hahahah iyah benar juga, ayo ayo serbu”
Kami melahap baso Aweng dengan ditambahkan sambal yang banyak hingga bibir kami tak mampu merasakan rasa lain dari bumbu baso itu karena terkalahkan dengan rasa pedas dari sambal itu. Hingga seragam sekolah kamipun terasa sangat mencekik badan karena keringat yang bercucuran. Setelah selesai melahap makanan pedas kami, kamipun segera membayarnya dan pulang kerumah masing-masing.
Kami mengendarai kendaraan angkutan umum yang berbeda, dan biasanya akulah yang pertama kali harus menaiki angkutan umum yang membawaku sampai kerumah karena angkot yang menuju kerumahku sangat sedikit dan jarak keberangkatannya lama, maka Dewi selalu mengalah dan setia menemaniku sampai aku mendapatkan angkot itu. Setelah mendapatkan angkot akupun naik dan berpamitan pulang lebih dulu kepada Dewi.
Rani: “Kiri depan Pak!”
(Angkotpun berhenti)
Rani: “ini pak uangnya”
Sopir Angkot: “Kurang Neng, 500 lagi”
Rani: “Lah biasanya juga tiga ribu pak kan saya osis”
Sopir angkot: “Kalo bukan osis ya kurang seribu!”
Aku kesal karena biasanya ongkosnya memang tiga ribu, dan kesal karena sopir angkot menagih dengan membentak dan ngotot, akupun merogok saku dan memberikannya lima ratus. Terpaksa jatah uang untuk hari esok berkurang limaratus gumamku.
Ketika sampai dirumah, betapa terkejutnya aku kamarku berantakan, lemari, kasur, dan buku-buku beserakan. Tanpa sempat bertanya, ayah berkata kepadaku.
Ayah: “Kamarmu untuk adikmu yah, soalnya adikmu sudah besar, dan harus punya kamar yang lebih luas, jadi kamu gentian kamar dengan adikmu ya?”
Rani: “……….”
Aku tak berkata apapun, aku hanya duduk dikursi usang depan “mantan” kamarku, dan aku rasa perkataan Ayah bukanlah pertanyaan yang membutuhkan jawaban, tapi pernyataan yang tak dapat diganggu gugat. Kalo adikku memerlukan ruangan besar karena dia bertambah besar, apakah aku yang sudah besar telah menjadi kecil karena mendpata kamar yang lebih kecil? aku marah, sedih, kecewa, karena aku selalu saja mendapatkan putusan yang sepihak, dan kamar itu merupakan kamarku dari kecil, sejak kecil aku berbagi cerita dengan ruangan sederhana itu. ahhhh sudahlah aku harus menerimanya…..
Sang fajar telah mulai menurunkan bahtera terangnya, waktu yang menempel di dinding biru menunjukan pukul enam sore, untungnya aku telah selesai membenahi kamar baruku tapi kamar bekas bagi adikku, lelah terasa, agar bisa cepat beristirahat aku lekas mandi.
Setelah aku selesai mandi, shalat dan makan, aku masuk kedalam kamar, disana aku berbaring di kasur yang ukurannya hanya cukup untuk badanku saja, ak manatap langit-langit, dan kemudian mataku tertuju pada papan penutup fentilasi diatas jendela, papan berwarna putih yang ukurannya cukup besar. Ku ambil kursi dan kuletakkan tepat dibawah jendela, aku mengambil beberapa crayon dan pensil warna yang warnanya telah pudar karena sering dipakai dan digunakan bersama-sama dengan adik-adikku.

Kutorehkan garis dengan pensil warna merah sebagai garis utama, dan warna crayon hijau yang mengitari sekeliling garis itu sebagai bayangan, diruang kosong ku arsir dengan crayon kuning samar-samar agar terlihat penuh dengan warna, namun tidak terlalu kontras. Setengah jam berkutat dengan itu akhirnya aku bisa kembali berbaring dikasur sambil melihat torehan warna-warna sederhana tadi. Aku menulis namaku sendiri disana dengan huruf Jepang. Mungkin saja secara langsung fikiranku membawaku melakukan itu, menulis namaku disana untuk menghiburku, untuk menunjukan pada diriku bahwa ini adalah kamarku, ini adalah kamarku ditandai dengan huruf Jepang itu….. Kutuliskan AL MI RA NI huruf dengan bahasa jepang hiragana.

Cerpen Belum ada judul (eps.1)

Posted by : adiartanti setyono putri 1 Comment
Tag : ,

- Copyright © write papper - Blogger Templates - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -