Archive for 2014

Jika Engkau bertanya apa yang membuatmu bahagia?
Mungkin Kau lebih tau daripada aku
Apa yang Kau ciptakan
Adalah bahagia bagiku
Aku rindu tanah kering yang dihujam air hujan pertama
Aku rindu wangi angin yang menyentuh alang
Aku rindu cium peluk dan tawa malaikat kecil
Rindu cahaya matahari pada sinaran pertama
Menyentuh bumi
Rindu lompatan ringan dan nyanyian burung
Sandarkan aku pada akar pohon kokoh
Baringkan tubuh lelahku
Pada hijaunya daun dan bunga
Karna itu bahagiaku

Bahagiaku

Posted by : adiartanti setyono putri 0 Comments
Tag : ,
Jika hanya ada dua hati di dunia ini, laki-laki dan perempuan.. dan jika perempuan semua sama, terbuat dari tulang rusuk laki-laki. Mengapa akan ada perempuan dan laki-laki jahat?. Kenapa seorang perempuan sampai hati menyakiti perasaan perempuan lainnya? Dan juga sebaliknya…

Merasa usia sudah dewasa, tapi berebut cinta hingga melukai satu sama lain, apakah tidak ke kanak-kanakan? Apakah masa kecilmu yang bahagia seperti itu? Menyakiti anak lain untuk mendapatkan mainan yang kamu inginkan? Puaskah setelah mendapatkannya? Yakinkah akan kau jaga yang telah kau rampas secara paksa? Kenapa kau tidak berjuang membeli yang baru? Itu mainan.

Rampasan bisa bicara, apakah yang kusaksikan ini adalah sebuah drama? Topeng yang kau buat lama dan lama, ada rencana besar dibalik itu, persekongkolan. Untuk apa? Puaskah setelah bermain? Apa yang kau dapat? merasa sebagai pemenang? Puaskah melihat satu pemain peran kalah?

Yang menyerah, apakah cermin-cermin tidak menunjukkan bayangan dirimu? Kemanakah selama ini bayangan mu? Hancurkan cermin itu jika hanya jadi hiasan. Apakah yang hilang itu berharga? Seberapa? Tanyakan pada bayangan cermin sungguhan.

Sekarang, disatu ruangan penuh tawa, bahagia, mesra, di satu sudut di ruang berbeda berusaha berdiri tegap. Disana sesekali samar terlihat benteng, sesekali terlihat celah, semua bisa mengintip satu sama lain. 

Rampasan

Posted by : adiartanti setyono putri 0 Comments
I hate this feeling.. kenapa mesti melibatkan makhluk sedangkan yang ku butuhkan hanya Dirimu Tuhan. All is my fault. Jangan tambah-tambah lagi luka Ya Rabb. Mulutku suatu waktu bisa saja menyedihkan suatu, tingkahku bisa saja menggerahkan suatu, all is my fault, ketika kata maaf tak lagi dapat menolong, sudahi Ya Rabb…I hate this feeling, aku tak lagi dapat membedakan mana kawan, mana musuh, mana malaikat mana iblis, tak peduli dalam apa wujudnya, aku terlalu takut.

Aku yang sedih, yang marah, yang kesakitan, tidak ada dan tak perlu berharap dilihat. Aku tak perlu mereka, yang menjaga tiap lipatan-lipatan topeng.

Mengapa satu-satunya yang ku jadikan sandaran, begitu cepat kau ambil ya Rabb, aku belum sempat merengek seperti yang sudah-sudah, aku belum sempat berceloteh sampai rasa puas.

When all friends become ally… siapa yang bisa ku percaya? hanya Engkau kan? beri aku jawaban atas semua keraguanku Tuhan, seperti yang sudah-sudah, namun secepatnya.. aku ingin segera berlari.

I Hate This Feeling

Posted by : adiartanti setyono putri 0 Comments
Semua bisa diungkapkan dengan lidah yang tak bertulang, yang semua orang tau tak terbatasnya kata-kata, tapi aku tak bisa. Aku tak bisa berucap kata manis, merajuk dan merayu mereka. Tapi sekali kamu mengadu pemikiran, jangan harap bisa mendapat jeda.

Jika tak mampu berucap lewat mulutmu, gunakan jemari untuk menorehkan satu dua rangkaian. Jika tak mampu melihat lewat matamu, sadarkan nalurimu, liarkan apa yang belum kamu lihat. Jika kamu tak mampu mendengar dengan telingamu, renungkan dan dengar hatimu berbisik.


Apa yang akan kau lewatkan bila tidak melibatkan Tuhan? Semua diciptakan dengan sebaik-baiknya, oleh Dia sang Maha Baik.

Dia sang Maha Baik

Posted by : adiartanti setyono putri 0 Comments
Hayalan, mimpi disiang bolong? Kamu tau? mimpi hanyalah angan.. bunga tidur, kebohongan yang dibuat-buat. Terus seperti itu, entah sampai kapan aku terus begitu. Disetiap burung membangun rumah, disetiap penyu berpetualang, disetiap angin yang sampai, aku tak pernah berhenti, semakin kering dedaunan, maka semakin menjadi.

Hobi ku berbaring, hobiku terjaga, aku suka berbaring dengan terjaga dan mata terpejam, saat itulah otakku mulai merancang konstruksi mimpi, sesekali pedal bibir menarik kedua ujungnya membentuk senyum simpul. Indah rasa, jika orang lain bisa melihat wujud nyata. Akan ku ajak berkeliling, menengok semua sudutnya. Seolah enggan membuka mata, menonton dua alam yang berbeda, didalam sana aku berada dan disini aku terbaring sengaja.


Hanya saja keyakinanku, Tuhan maha asyik, disetiap design angan yang ku lempar bergemuruh diatas kepala, aku melihat Tuhan menatap, tak sungkan ku menggoda, merayu, tatkala kening mencium alas.

Hayalan

Posted by : adiartanti setyono putri 0 Comments
 Tuhan sang Maha
Karena tak bertemu aku buta
Karena jauh aku tak mengenal
Saat jatuh aku tersadar

Aku datang dengan sungkan
Melangkah dengan pelan
Kau hampiri dengan berlari

Aku datang dengan malu
Aku mendekat sejengkal
Kau hampiri dekat sedepa

Apalah dayaku ini
Apalah hidupku ini
Tanpa bersandar pada-Mu
Terimakasih

Tuhan sang Maha

Tuhan sang Maha

Posted by : adiartanti setyono putri 0 Comments
Tag : ,
Kau tau rasanya jadi aku kawan?
Aku diam dalam pilu
Dia bilang sudah
Namun aku tak setegar itu
Kau bilang jalannya
Namun aku keras berharap

Sengajakah dia mengolokku?
di depan mata
Dikala ku berdo’a untuknya
Dia mencibir dengan bangga

Kamu tau kawan?
Jalanku sendiri aku tak tau
Tapi kelak aku akan bercerita

Dengar aku kawan


Cerita Kawan

Posted by : adiartanti setyono putri 0 Comments
Tag : ,
----------------------
Jika kau menuntutku untuk dewasa, kembalikan masa kecilku yang kau ambil.
Jika kau menganggapku anak-anak, biarkanlah terus begitu.
-----------------------

D.E.A.L

Posted by : adiartanti setyono putri 0 Comments
Aku berada ditengahnya
Mendengar warna warna dari cerita mereka
Apa aku dapat peran utama?
Bisa pasang raga membagikan mimpi
Tapi terasa percuma, tak satupun menitip harap
Hanya mereka yang lain
Yang dijauhi oleh yang lain,
yang tidak bisa direka hati dan pikirannya
yang selalu mengaminkan
Apa aku dapat peranan?

Atau terseret cerita yang tak ku harap..

Perankan Peran

Posted by : adiartanti setyono putri 0 Comments
Tag : ,
Hanya bisa termenung melihat tumpukan kertas berisi coretan jenaka. Entah aku menganggap diriku bodoh kala itu atau mengapa. Sejak hari itu aku benci menulis, tapi setiap kali asa ingin memusnahkannya membuang dan membakar goresan itu, aku hanya tetap bisa begini, termenenung..
Posted by : adiartanti setyono putri 0 Comments
Pernah punya pengalaman beli kutek dipakai cuma sekali? lupa nyimpen dan setelah ketemu malah kering? ettsss… jangan buru-buru di buang ya cantik,. bisa kita manfaatkan kok, salah satunya dikombinasikan dengan bahan lain menjadi lebih berguna, seperti membuat vas bunga. Berikut caranya:
Alat dan Bahan :
1.     Kutek bekas
2.    Botol sambal/saos bekas
3.    Lem aibon

4.    Paku

Cara membuat:
1. buat layer pertama dengan lem aibon menggunakan paku pada bagian bawah botol
2. beri tambahan lem agar lebih tebal agar warna jelas terlihat
3. beri layer kedua diatas warna lem dengan menggnakan kutek
4. hiasi badan botol dengan kutek secara sembarang memiliki pola seperti duri panjang        sembarang


     Nah gampang kan,.. tinggal diisi air dan simpan bunganya... setelah diisi air kutek yang yang berada pada badan botol seperti gradasi melayang loh ^^ selamat mencoba...

Membuat Vas Bunga dari Kutek dan Botol Bekas

Posted by : adiartanti setyono putri 0 Comments
Tag : ,
save our earth!!! stop global warming!! pernah denger kan istilah itu? yupppzz... kalimat tersebut merupakan salah satu jargon untuk melindungi bumi ini (yakali kamen rider :V ).. yang jelas semakin tua umur bumi kita ini, semakin kita harus menjaganya, salah satunya dengan tidak memperparah pemanasan global dengan peralatan modern yang dapat merusak bumi. Nah, buat pembaca yang masih mencintai bumi ini yukk kreasikan imajinasi kamu untuk membuat barang recycle atau daur ulang. Barang bekas ternyata masih bisa kita manfaatkan lohh.. contohnya dengan membuat vas bunga dari botol bekas, caranya sebagai berikut:

Alat dan Bahan:
1. Gunting
2. Botol Bekas (penulis pake botol bekas saus tomat)
3. Kertas Lipat / Kertas Warna
4. Paku Besar
5. Lem "Aibon"


Cara Membuat ( I ) :
1. Gunting kertas warna (satu warna terlebih dahulu) 
2. Bentuk sesuai ukuran dan pola yang diinginkan
3. Lem permukaan botol sedikit demi sedikit dengan menggunakan ujung pake agar rapi
4. Tempelkan potongan kertas yang telah dipola pada dasar atau bawah botol


Cara Membuat ( II) :
1. Gunting sesuai pola yang diinginkan pada kertas warna yang lainnya
2. Tempelkan pada badan botol 
3. Tambahkan pola dan bentuk lain sebagai hiasan
4. Hasil akhir dapat disesuaikan dengan keinginan


Setelah selesai vas bunga dari botol bekas bisa langsung diisi air dan ditaruh bunga untuk hiasan rumah ^^ isi airnya jangan terlalu penuh ya, biar garis airnya keliatan, jadi nampak sueger hehehe... isi airnya hati-hati karena tempelan berasal dari bahan kertas, jika mau tahan air kertas warna bisa diganti dengan bahan lain seperti plastik ya...


Save Our Earth!!! Stop Global Warming!!! Selamat mencoba dan berkreasi guys ^^


Membuat Vas Bunga Dari Botol Bekas

Posted by : adiartanti setyono putri 0 Comments
Tag : ,
Tau Sushi kan? tau donk ^^ makanan khas Jepang atau di Korea terkenal dengan nama Kimbap, bahan utama untuk membuat makanan ini nasi dan rumput laut kering, awalnya saya tidak menyukai sushi karena isiannya mentah dan rumput laut yang digunakan tanpa rasa (original) sehingga bau khas rumput lautnya sangat terasa (maklum, lidah orang Sunda heheh...). 

Nah bagi pembaca yang memiliki masalah serupa dengan saya, ada tips untuk membuat sushi agar lebih dapat diterima dengan selera Indonesia :D isian bisa diganti dengan yang matang dan rumput laut yang digunakan, rumput laut dengan berbagai pilihan rasa. Berikut cara membuatnya: 

Bahan yang digunakan:
1. Seaweed Crispy Flavour Tao Kae Noi (disini saya menggunakan rasa Tom Yam)
2. Nasi Putih.

Isian :
1. Nugget
2. Sosis
3. Timun dan
4. Selada Bokor

Karena ukuran rumput lautnya kecil, maka hanya bisa digunakan untuk satu buah sushi tanpa harus dipotong-potong, isian dapat disesuaikan dengan ukuran rumput laut.

Cara membuat :

 1. Taruh nasi diatas rumput laut secara merata (jangan terlalu banyak agar saat digulung rumput laut tidak    sobek, tekan-tekan nasi agar menempel kuat pada rumput laut dan volume nasi menipis

 2. Masukan isian, sesuaikan posisi (jangan terlalu tengah dan jangan terlalu pinggir)

 3. Roll atau gulung sushi secara perlahan,

 4. Rapikan pinggirannya

 5. Lakukan langkan tersebut sampai bahan habis, atau sesuai dengan kebutuhan

Hasil akhir,tambahkan mayonaise diatasnya dan taburkan bubuk cabe kering diatasnya, (bisa juga disajikan dengan saus tiram atau teriyaki)


Sushi Seaweed Flavour siap dihidangkan, dimakan dengan yoghurt enak juga :9 tapi bunga mawarnya cuma hiasan aja ya, heheh... butuh kesabaran dalam membuat sushi, selamat mencoba ^^..

Cara Membuat Sushi Dengan Seaweed Flavour

Posted by : adiartanti setyono putri 0 Comments
Tag : ,
Ya Rabb, aku sanggup..
Aku mampu menerima cobaan-Mu
Semua karena kuasa-Mu
Engkau yang kuatkan aku

Namun, satu pintaku
Beri aku sandaran
Beri aku rasa nyaman

Ketika aku merasa lelah

Ya Rabb, 
Beri aku sadar
Beri aku sabar

Sadar Sabar

Posted by : adiartanti setyono putri 0 Comments
Tag : ,
Handphone merah berbunyi, mama menelepon pagi ini.. otomatis ku jawab teleponnya,

Mama : “lagi apa?”

Aku : “abis bikin sarapan ma”

Mama memulai ceritanya, memulai keluh kesahnya yang tertahan tak sempat tersampaikan kepadaku kemarin. Setelah menjengukku kemarin, ketika berpamitan aku melihat airmata dari sudut matanya, namun mama hanya bilang “nanti mama cerita lewat telepon” dan baru pagi ini ia sempat  meneleponku.
Dalam ceritanya terdengar suara lelah, lelah karena menangis malam kemarin, aku hanya bilang “sabar ma”, “iya, gak apa-apa ma” “gausah difikirin ma”. 


Diantara anak-anak mama dan bapak, mungkin terlihat aku yang selalu terlihat tegar dan menguatkan. Tapi mama tak pernah tau ada air mata yang mengalir ketika terdengar ucapan “sabar ma”, dan terlihat cuek dan tenang, namun dalam setiap sujud dan doa pasti akan ada air mata yang mengalir, tanpa mama tau, dan tanpa tau kapan air mata berhenti mengalir walau masalah telah usai.

"sabar, ma"

Posted by : adiartanti setyono putri 0 Comments
Kelas sebelas merupakan masa-masa sulit bagi Rani, tak nampak lagi wajah lugu ketika pertama masuk SMA, ataupun belum nampak wajah-wajah penuh teori dan hafalan menjelang ujian nasional, bisa dibilang kelas sebelas adalah jaman keemasannya masa SMA, tapi tetap saja bagi Rani selama masih ada kelas duabelas penjajahan di masa SMA kelas duabelas belum terhapuskan.

Bel tanda masuk jam pelajaran terakhir berbunyi, setelah shalat dzuhur Rani dan Dewi menuju kelas, 15 menit berlalu guru jam pelajaran terakhirpun tak kunjung datang.

Rani : “Wi, tumben ya Bu Yety lama, biasanya on time

Dewi : “aku denger katanya guru-guru mendadak nengok siapa gitu ya yang sakit”

Rani : “oh begitu, tapi sepertinya kelas lain ada tugas dari guru piket, kok kita enggak ya?” Rani melihat keluar jendela melihat kelas lain

Dewi: “ ya gak apa-apalah Ran, yang penting kita ngga ribut dikelas”

Rani : “wi kita beli cemilan yuk e kantin, bete juga lama-lama dikelas ga belajar”

Dewi : “iya ayoo” Dewi beranjak dari bangkunya.

Dikantin sudah pasti Rendi Cs ada disana, terlihat mereka sedang menggoda anak baru kelas sembilan. Terdengar Robi, Rendi dan Ahdi menanyakan nomor handphone anak-anak itu, kecuali Adam, dia memang agak pilih-pilih dalam merayu cewek, ia tidak suka dengan cewek-cewek angkatan bawah yang ia sebut anak ingusan.

Rani : “wi kamu udah selesai? ayo pergi”

Dewi : “ayo..” Dewi faham maksud Rani yang tak ingin berlama-lama melihat kelakuan Rendi dan teman-temannya itu.

Sudah tradisi disekolah Rani, jika guru-guru tidak ada, maka siswa akan meminta pulang lebih awal ke guru piket, jika guru piketnya baik hati, maka gerbang akan segera dibuka, tapi jika guru piket jual mahal, maka ia akan membiarkan hamparan siswa dibalik pagar besi menunggu sampai pagar dibuka tepat pada jam pulang sekolah.

Dewi: “yaahh sepertinya guru piket hari ini menyebalkan, anak-anak mandet depan pintu gerbang”

Rani : “iya gak apa-apalah wi, kita diam dikelas saja, lagian jarak kelas kita ke pintu gerbang kan ngga jauh, 
begitu gerbang pemisah antara surga dan neraka dibuka kita langsung cap cus” Rani berbicara tanpa jeda.

Dewi: “hahahaha surga dan neraka segala kamu bawa-bawa, Rani dasar ya pintar sekali kamu membuat aku tertawa”

Rani hanya tersipu malu, ia hanya asal bicara tapi nampaknya terasa lucu bagi Dewi. Tak lama ada sekelompok pria yang mencuri perhatian Rani dan Dewi bergerombol di sebrang kelas mereka.

Rani : “yaelah geng Rendi, kayaknya sekolah ini udah jadi taman bermain bagi mereka ya? dimana-mana ada” Rani terlihat malas membahas mereka, ia mengalihkan pembicaraan dengan Dewi

Rani: “Wi, hari ini anter aku beli pulpen ya di toko yang di pasar”

Dewi tak menjawab, rupanya ia tidak mendengar perkataan Rani. Dewi hanya melihat keaarah sekelompok laki-laki tadi.

Rani: “ Wi…Wi!! kenapa kamu ngeliatin terus geng rendi? jangan-jangan kamu menyimpan dendam ya sama mereka? diapain wi? sama Rendi? Ihsan? Robi? siapa wi? katakan….” Rani berkata sambil menggoyang-goyangkan badan Dewi, matanya melotot marah tidak jelas”

Dewi : “haduuuh apasih Ran, aku belum pernah diapa-apain kok ama mereka” Dewi terlihat lemas

Rani semakin tidak mengerti apa yang sedang dialami oleh sahabatnya itu, Rani kembali menatap keluar jendela kearah geng Rendi, ia bergumam dalam hati (“apakah Dewi menyukai salah satu dari mereka? rasanya tidak mungkin, dia yang meyakinkan aku bahwa mereka itu kelompok laki-laki yang tidak baik. tapi tunggu… “) Rani melihat dengan serius satu persatu dari geng Rendi.

Rani: “Wi, laki-laki yang memakai sweater biru itu siapa? saat geg Rendi latihan basket sepertinya dia ada, tetapi ketika di kantin aku jarang melihat”

Dewi nampak gugup ketika mendengar Rani langsung menanyakan laki-laki yang ia pandangi dari tadi, namun ia sigap menjawab pertanyaan Rani.

Dewi : “emmhh itu Kak Bagus Ran, teman Rendi Cs juga, mungkin dia jarang ngumpul dikantin” dewi berkata seolah ada yang ia tahu namun ditutupinya

Rani : “oh begitu tapi Wi, keliatannya ia bukan anak yang usil seperti teman-temannya yang lain”

Dewi : “……. ah sudahlah untuk apa mengurusi mereka, sepertinya gerbang sudah dibuka, ayo lekas pulang” Dewi sengaja mengalihkan pembicaraan

Rani : “oh iya ayo, tunggu aku bereskan buku-buku dulu” jawab Rani dengan polos

Kelas semakin sepi namun Rani masih sibuk membolak balikan tasnya.

Dewi : “kenapa Ran?”

Rani : “Buku Paket Sejarahku kok ga ada ya Wi?” Rani tampak panic

Dewi : “Sini coba tasnya aku lihat, kamu periksa di bawah meja” Dewi yang telah selesai merapikan semua peralatan belajarnya dengan tenang membantu Rani, sudah jadi kebiasaan kalau Rani teledor kehilangan barang.

Melihat Dewi dan Rani mencari sesuatu Irma yang berjalan menuju pintu kelas menghampiri mereka.

Irma: “nyari apa kalian?”

Dewi dan Rani : “buku sejarah” mereka kompak menjawab tanpa melihat kearah Irma karena sibuk mencari

Irma tersenyum-senyum melihat tingkah laku temannya itu

Irma : “ini Ran, aku kembalikan buku sejarahmu, tadi kan aku minjem ke kamu” Irma menyodorkan buku sejarah kepada Rani

Rani hanya memandang kosong Irma yang menyodorkan buku sejarah, ada perasaan lega dan malu bercampur aduk dalam benaknya

Dewi: “ya ampuunn Rani…. pikun banget kamu” Dewi hanya menggeleng-gelengkan kepalanya

Rani : “eehhh makasih Irma, aku lupa heheh”

Irma: “yasudah aku pulang duluan ya teman-teman” Irma berlalu menuju pagar sekolah

Dewi: “sudah ayo cepat masukan bukunya”

Dewi dan Rani bergegas keluar kelas, sekolah telah sepi, namun baru beberapa langkah keluar dari kelas. tiba-tiba terdengar sekelompok laki-laki tertawa. Suara tertawa jahat yang pernah Rani dengar. dan benar saja ketika mendekat keluar gerbang sekolah geng Rendi ada disana dengan personil lengkap, Ahdi, Adam, Ihsan, Ajeng dan kali ini ada Bagus, disana ada Tika dan Yanti. Rani dan Dewi berjalan melewati mereka dengan sesekali mencuru pandangan kearah Tika dan Yanti, mereka penasaran dengan apa yang dilakukan oleh Yanti dan Tika. Namun tiba-tiba Rani dan Dewi dihadang oleh Ahdi dan Robi.

Robi: “Tunggu kalian berdua”

Rani: “i…iya kak ada apa?” jawab Rani gugup

Ahdi: “Tika, Yanti bilang!” Ahdi member isyarat pada Yanti dan Tika

Tika : “Rani, Dewi, aku pantes ga jadi pacar kak Robi yang sempurna?”

Rani bergumam dalam hati (kak Robi yang sempurna? SEMPURNA?!! SAMPOERNA kaliii, pernyataan macam apa ini mendengarnya aja udah bikin puyeng)

Dewi: “ka…kamu pantas kok” dewi menjawab setelah melihat wajah Tika dan mulutnya yang komat kamit terlihat memohn kepada Dewi dan Rani

Serentak  Rendi CS tertawa mendengar jawaban Dewi

Robi: “yang begini mana pantes jadi pacar gue woooyy…. kamu jawab!” Robi menunjuk kearah Rani

Rani : “gak pantes kak” rani cepat menjawab

Mendengar jawaban itu Tika dan Dewi terkejut mereka berfikiran sama, Rani tak mau bekerjasama dengan Tika yang sedang menyatakan cintanya pada Robi

Robi : “nah bener nih kata anak ini, kamu tuh ga ada pantes-pantesnya am ague.. sana kalian pulang, lanjut orang berikutnya”

Rani dan Dewi berjalan menjauhi mereka, tak ada sepatah katapun mereka keluarkan. Namun tiba-tiba Rani berbalik arah dan menghampiri orang-orang tadi. Rendi dan teman-temannya tampak kaget dan heran melihat Rani berani menghampiri mereka.

Robi : “apa? kamu mau bilang kamu yang pantes jadi pacar gue ya?”
semua tertawa dan mengiyakan pertanyaan Robi.

Rani : “Bukan, saya hanya mau bilang kelanjutan pernyataan saya tadi. Tika ga pantes jadi pacar kamu, Tika lebih pantes dapetin cowo yang lebih baik dari kamu”

Semua terdiam mendengar pernyataan Rani, mata Robi terlihat memerah seakan ingin marah dan malu. 

Namun Tika terlihat kesal kepada Rani, ia merasa Rani membuat Robi sang pria incarannya kesal.

Tika : “Ran, maksud kamu apa? Kak Robi udah jadi yang terbaik kok buat aku” Tika terlihat nyolot kepada Rani

Yanti yang melihat kelakuan Tika tampak bingung, disatu sisi ia tau bahwa Tika sangat menyukai Robi, di sisi lain ia mengerti kalo Rani hanya kasian melihat kelakuan Robi terhadap Tika.

Rani : “kamu boleh mencintai seseorang jika dirasa tepat dan sudah waktunya, tapi sangat disayangkan jika harus mencintai orang yang salah”

Semua diam sesaat dan Rani bergegas pergi meninggalkan mereka kemudian menarik tangan Dewi yang tadi terpana melihat Rani yang tampak begitu dewasa.

_________________________________________________________________________________

Cerpen Belum Ada Judul (eps.5)

Posted by : adiartanti setyono putri 0 Comments
Tag : ,
Sampai di rumah, Rani mendapati ibunya sedang marah-marah entajh ditujukkan  kesiapa, namun ketika ibunya melihat kedatangan Rani, Rani tak luput jadi bulan-bulanan kemarahan ibunya
Ibu: “dari mana saja kamu Rani? udah tau ibu banyak kerjaan bukannya cepat pulang dan cepat bantu ibu! malah keluyuran!” ibu membentak Rani
Rani: “maaf bu, Rani ngga keluyuran, tadi Rani diam dulu d sekolah” Rani membela diri dengan nada gugup
Ibu: “ahh sudahlah beralasan aja bisanya, cepat ganti baju cuci piring-piring yang kotor”
        Rani bergegas mengganti baju, bermaksud hati untuk makan dulu sebelum mencuci piring, tapi setelah membuka tutup saji di meja makan hanya ada nasi saja, Rani pun mengurungkan niatnya untuk makan. “aku masak tempe saja nanti setelah mencuci piring”.. fikir Rani
        Satu persatu piring dan peralatan dapur yang Rani cuci, setengah melamun Rani meteskan air mata di pipinya. Namun ia bergegas menghapusnya, dan tiba-tiba mangkok yang dipegangnya jatuh dan pecah, dan mengenai jarinya. Rani kaget bukan kepalang, namun ia tetap berusaha tenang. Ia mengambil pecahan mangkok tadi, mengumpulkannya dan membuangnya ke tempat sampah, serta lekas mengobati dan membalut luka di jarinya. Setelah semua pekerjaanya selesai Rani memunuhi hak perutnya yang tengah kelaparan, dengan cekatan ia mengambil tempe di kulkas tak butuh waktu lama, tempe putih disulap menjadi masakan yang mengugah selera.
Rani: “yeahhh this is it! Oseng-oseng tempe ala chef Rani” Rani bergaya seperti chef Farah Queen di acara masak televisi.
         Satu demi satu suapan masuk ke dalam mulut Rani, betapa lahapnya dia menyantap karya masakannya itu.  Tiba-tiba Ayah menghampiri Rani
Ayah: “Rani! kenapa kamu mecahin mangkok?” Tanya Ayah terlihat marah
Rani: “Maaf Ayah, Rani ga sengaja, tadi tangan Rani kebanyakan sabun jadi licin” Rani kaget bukan main melihat Ayahnya marah.
Ayah: “Sudah berapa kali kamu memecahkan barang, hah? mampu kamu membelinya?” Ayah membentak Rani dan kemudian berlalu keluar rumah
Rani: “……..” Rani hanya diam terpaku mendengar kata-kata Ayahnya, dia tak menyangka Ayahnya akan mengeluarkan kata-kata itu kepadanya, makanan yang tadinya menggugah selera, masih banyak tersisa di piringnya. 
Rani sudah tidak ingin memakannya lagi, melihat makanan tadi seperti masakan di restoran mahal, namun kini nampak seperti sepiring duri. Sisa makanan Rani yang tak habis ia berikan pada ayam peliharaannya dibelakang rumah, melihat hari semakin sore ia bergegas mandi dan menutup harinya dengan berada dikamar.
Rani berbaring diatas kasur dan memejamkan matanya, ia masih membayangkan apa yang Ayah dan Ibunya perbuat padanya hari ini. Ia menangis dengan tenang, tanpa suara, namun air mata mengalir begitu deras. Ia beranjak dari tempat tidur dan mengambil buku tulis bersampul biru, mengambil pulpen, dan menulis….

Senin, 8 Mei 2013
             Dear Diary,
Fikiran jahat itu selalu ada, akan selalu ada tatkala mereka bertindak kejam.. Fikiran jahat yang slalu menghantuiku, disaat seperti ini aku selalu berfikir kalau aku bukanlah bagian dari keluarga ini, apakah aku bukan anak orang tuaku ini?mereka seolah tidak memberi ruang kasih kepadaku, mereka seolah tidak menginginkanku.....

Rani kembali berurai air mata, sampai ia terlelap dan tidur diatas torehan tintanya itu, ia terlihat tegar ketika Ibu memarahi, ia terlihat biasa saja ketika Ayah menghardik, tapi sesungguhnya ketika ia sendiri, ia menyadari bahwa ia terlalu lemah dan hanya bisa menangis.
Keesokan harinya disekolah….
Dewi: “hai Ran,tumben pagi, PR matematika udah?” Dewi datang menghampiri Rani
Rani: “Justru karena aku belum mengerjakan PR makanya aku berusaha datang pagi” Rani menjawab dengan cengengesan.
Dewi: “uhhh dasar, ayo kerjakan sebelum bel masuk”
Rani bergegas mengerjakan PR, beruntung ia masih sempat menyelesaikannya sebelum bel masuk sekolah berbunyi. Ketika pelajaran matematika berlangsung, sedikit siswa dikelas yang memperhatikan Guru tersebut, perawakan kecil dengan suara kecil dan sudah berumur cukup tua membuat anak-anak tidak bersemangat mengikuti pelajarannya. Diam-diam Dewi memperhatikan mata Rani dan terlihat bengkak dibagian atas kelopak matanya, ia penasaran dan merobek sedikit kertas yang bertuliskan:

Ran mata kamu kenapa? nangis?….  Dewi melipat ketas itu dan memberikannya kepada Rani.

Rani membaca surat kaleng itu secara diam-diam dan membalasnya:

iya, biasalah keluargaku Wi… aku disalahin, ayahku lebih sayang kepada mangkok daripada jariku yang terluka…

Dewi yang membaca balasan Rani merasa tertegun, ia mengerti apa yang dirasakan Rani selama ini, ia memahami sulitnya menjadi Rani ditengah-tengah keluarganya itu, iapun hanya membalas:

                Sabar ya Ran, mudah-mudahan kesabaran kamu selama ini membuahkan hasil.. karena menjadi indah itu tak akan pernah mudah

             Rani membaca balasan dari Dewi, ia tidak membalasnya lagi, namun hanya melihat kearah Dewi tersenyum dan menganggukan perlahan kepalanya.
            Dua pelajaran telah usai, bel istirahat pertama telah berbunyi, Dewi dan Rani keluar kelas untuk melaksanakan shalat Dhuha… Setelah selesai mereka duduk dan menyandarkan diri mereka ke tiang selasar mesjid. Terlihat Rani menikmati suasana disana, ia memejamkan mata, menghela nafas panjang dan terlihat tersenyum. Dewi yang melihat temannya itu ikut merasakan ketenangan yang Rani rasakan, entah apa yang ada difikiran Rani, namun keadaan itu dapat membuat hatinya tenang atas apa yang ia rasakan sebelumnya.
Dewi: “Ran, tunggu sebentar ya aku ke kantin”
Rani: “kamu mau jajan sekarang?aku ikut” Rani beranjak dari tempatnya
Dewi: “Aku mau beliin kamu eskrim, mau ikut?”
Rani: “wah ada acara apa ini kamu traktir aku segala?”
Dewi: “tadi ada saudaraku berkunjung, mereka memberiku uang jajan, aku berniat membelikan eskrim kesukaanmu, tapi kalau kamu tidak mau ya tidak apa-apa” Dewi berkata dengan nada meledek Rani
Rani: “eeh aku mau kok, ayo ayo” Rani berjalan mendahului Dewi
Dewi: “wwoooo yang mau nraktir siapa sih? kok kamu yang jalan duluan?”
Rani: “hahaha maaf karena semangatnya, ayo pergi bareng”
        Di kantin sekolah, ketika Dewi dan Rani hendak membeli eskrim, mereka melihat gengs Rendi tanpa ada Robi sedang berkumpul, merek terlihat menguasai kantin itu, hiruk pikuk kantin bersumber dari obrolan mereka. Rani duduk di salah satu bangku kantin, menunggu Dewi membayarnya ke kasir, tiba-tiba Robi datang, dengan gagahnya dia mengusir salah satu murid yang tengah asyik menyantap bakso, Anton namanya, ia adik kelasku.
        Tentu saja Anton tidak berani menolak, ia berdiri sambil memegang mangkok yang masih terisi bakso. Ia berdiri dan menyandar pada tembok kantin, tak ada bangku kosong untuk dia melanjutkan makan bakso, ia hanya berdiri bersandar pada tembok sambil memegang mangkok. Melihat Anton yang kikuk itu sontak saja gengs Rendi menertawakannya. Rani berdiri, dan melambaikan tangan pada Anton, Anton terlihat senang sekali, ia menghampiri dan Rani persilahkan ia duduk. Perilaku Rani itu dilihat oleh Rendi Cs mereka tampak kesal karena kesenangannya diganggu, terutama Robi, ia mengambil sebuah bakwan dari mejanya dan meleparkannya kepunggung Rani. Rani tak berani menoleh ataupun memberi perlawanan, ia tahu ia tak akan bisa berbuat apa-apa. Tak lama Dewi menghampirinya
Dewi: “ni eskrimnya Ran!”
Rani: “ayo ke kelas”
Dewi: “loh es krimnya ga di makan?” Tanya Dewi heran
Rani: “Dikelas saja” Rani menarik tangan Dewi dan bergegas ke kelas
          Di kelas, Rani menceritakan ulah Robi tadi kepada Dewi.
Dewi : “seragam kamu kena minyak deh Ran”
Rani : “pastilah Wi, yang dilempar kan bakwan”
Dewi : “mudah-mudahan bisa ilang ya nodanya, sini ak bersiin sementara pake tisu basah”
Rani : “iya nanti aku langsung rendem seragamnya mudah-mudahan ilang”
Dewi : “kamu ga ngelawan Ran, tadi di lempar gitu?”
Rani : “gimana aku mau ngelawan Wi, mereka banyakan, aku sendirian”
Dewi : “iya juga sih, tapi kan kamu juga bisa nanya kenapa atau ada apa gitu pura-pura kamu ga tau kelakuan mereka sebelumnya, biar clear
Rani : justru aku mengindari mereka melihat jelas wajah aku Wi, aku takut mereka dendam berkelanjutan, makanya aku ga noleh pas si Robi ngelempar bakwan”
Dewi : “cerdas, hahahah.. jadi superhero nih ceritanya?” Dewi meledek Rani

Rani hanya tersenyum dan memakan eskrim tadi, ia bergumam “Aku bukanlah superhero yang memiliki kekuatan untuk mengalahkan musuh-musuhnya, tapi, tak perlu jadi superhero untuk membela kebenaran dan menumpas kejahatan”. 

Cerpen Belum Ada Judul (eps.4)

Posted by : adiartanti setyono putri 0 Comments
Tag : ,
  Sifat alamiah manusia jika mempunyai rasa sirik, iri hati, sombong dan sifat jelek lainnya. Tapi semasa kecil, aku tak pernah iri melihat temanku mempunyai suatu barang sedangkan aku tidak memilikinya.
  Saat dibangku Sekolah Dasar, aku berteman dengan murid baru, ia orang berada, ketika pelajaran olahraga, aku melihat dia memakai sepatu sneakers dengan alas tinggi, warnanya hitam berpolet silver, aku tau harganya pasti mahal,semua temanku membangga-banggakan sepatunya, tapi aku tidak demikian, aku biasa saja menanggapinya. Dilain waktu, aku bermain kerumahnya, aku melihat temanku itu memakai celana jeans jenis skinny, waktu itu masih jarang yang memakai skinny jeans, ia terlihat pamer, ia terlihat sengaja memakai itu, padahal kami yang mengajaknya bermain hanya memakai celana pendek dan kaos oblong saja.
  Pernah suatu hari sepatu warriorku sudah rusak, dan terasa sempit, jari-jari kaki terassa sakit ketika memakainya, aku minta kepada Ibu untuk membelikanku sepatu baru, bukan karena melihat sepatu baru teman-temanku, tapi karena aku sangat membutuhkannya. Saat itu aku mempunyai uang tabungan yang cukup, aku tak mengerti kenapa ibu tak membantuku membelikan sepatu baru, apa Ibu menyangka aku meminta dibelikan sepatu baru dengan uangnya?Aku kesal dalam hati karena setelah beberapa hari Ibu tak juga mengajakku membeli sepatu baru, hingga pada hari minggu aku mengajak sepupuku yang berumur 8 tahun dan keponakanku yang masih TK untuk mengantar ke toko sepatu, kami bertiga berjalan kaki melewati 3 sampai 4 kampung, perjalanan yang jauh, hingga akhirnya kami sampai ditempat tujuan dan berhasil membeli sepatu, waktu itu harganya 21ribu, dalam perjalanan pulang adik-adiku terlihat kelelahan, aku tak tega melihatnya, aku hanya menyemangati mereka kalau sebentar lagi sampai rumah. Keponakanku yang masih TK sudah tak kuat lagi berjalan, dia meringis kecapean, akupun menggendongnya sampai rumah.
  Sampai dirumah kami sangat kelelahan, kami tidur di lantai yang beralaskan kasur lipat teletubbies diiringi dengan hujan deras, mungkin aku benar tidak memaksakan kehendak pada orang tua karena pada akhirnya aku bisa mendapatkan apa yang aku inginkan sendiri, namun aku salah melibatkan orang yang tidak tepat (adik-adikku) untuk ikut menemani. Aku menyadarai, apa yang kita minta tak selalu bisa dipaksakan, tapi akan kita dapatkan bila diperjuangkan, walau harus lelah dan sakit.

My Adventure - Sepatu Masa Kecil

Posted by : adiartanti setyono putri 0 Comments

- Copyright © write papper - Blogger Templates - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -