Posted by : adiartanti setyono putri Senin, 10 Februari 2014

Handphone merah berbunyi, mama menelepon pagi ini.. otomatis ku jawab teleponnya,

Mama : “lagi apa?”

Aku : “abis bikin sarapan ma”

Mama memulai ceritanya, memulai keluh kesahnya yang tertahan tak sempat tersampaikan kepadaku kemarin. Setelah menjengukku kemarin, ketika berpamitan aku melihat airmata dari sudut matanya, namun mama hanya bilang “nanti mama cerita lewat telepon” dan baru pagi ini ia sempat  meneleponku.
Dalam ceritanya terdengar suara lelah, lelah karena menangis malam kemarin, aku hanya bilang “sabar ma”, “iya, gak apa-apa ma” “gausah difikirin ma”. 


Diantara anak-anak mama dan bapak, mungkin terlihat aku yang selalu terlihat tegar dan menguatkan. Tapi mama tak pernah tau ada air mata yang mengalir ketika terdengar ucapan “sabar ma”, dan terlihat cuek dan tenang, namun dalam setiap sujud dan doa pasti akan ada air mata yang mengalir, tanpa mama tau, dan tanpa tau kapan air mata berhenti mengalir walau masalah telah usai.

Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

- Copyright © write papper - Blogger Templates - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -