Get me outta here!

Jumat, 31 Oktober 2014

I Hate This Feeling

I hate this feeling.. kenapa mesti melibatkan makhluk sedangkan yang ku butuhkan hanya Dirimu Tuhan. All is my fault. Jangan tambah-tambah lagi luka Ya Rabb. Mulutku suatu waktu bisa saja menyedihkan suatu, tingkahku bisa saja menggerahkan suatu, all is my fault, ketika kata maaf tak lagi dapat menolong, sudahi Ya Rabb…I hate this feeling, aku tak lagi dapat membedakan mana kawan, mana musuh, mana malaikat mana iblis, tak peduli dalam apa wujudnya, aku terlalu takut.

Aku yang sedih, yang marah, yang kesakitan, tidak ada dan tak perlu berharap dilihat. Aku tak perlu mereka, yang menjaga tiap lipatan-lipatan topeng.

Mengapa satu-satunya yang ku jadikan sandaran, begitu cepat kau ambil ya Rabb, aku belum sempat merengek seperti yang sudah-sudah, aku belum sempat berceloteh sampai rasa puas.

When all friends become ally… siapa yang bisa ku percaya? hanya Engkau kan? beri aku jawaban atas semua keraguanku Tuhan, seperti yang sudah-sudah, namun secepatnya.. aku ingin segera berlari.

Kamis, 30 Oktober 2014

Dia sang Maha Baik

Semua bisa diungkapkan dengan lidah yang tak bertulang, yang semua orang tau tak terbatasnya kata-kata, tapi aku tak bisa. Aku tak bisa berucap kata manis, merajuk dan merayu mereka. Tapi sekali kamu mengadu pemikiran, jangan harap bisa mendapat jeda.

Jika tak mampu berucap lewat mulutmu, gunakan jemari untuk menorehkan satu dua rangkaian. Jika tak mampu melihat lewat matamu, sadarkan nalurimu, liarkan apa yang belum kamu lihat. Jika kamu tak mampu mendengar dengan telingamu, renungkan dan dengar hatimu berbisik.


Apa yang akan kau lewatkan bila tidak melibatkan Tuhan? Semua diciptakan dengan sebaik-baiknya, oleh Dia sang Maha Baik.

Rabu, 29 Oktober 2014

Hayalan

Hayalan, mimpi disiang bolong? Kamu tau? mimpi hanyalah angan.. bunga tidur, kebohongan yang dibuat-buat. Terus seperti itu, entah sampai kapan aku terus begitu. Disetiap burung membangun rumah, disetiap penyu berpetualang, disetiap angin yang sampai, aku tak pernah berhenti, semakin kering dedaunan, maka semakin menjadi.

Hobi ku berbaring, hobiku terjaga, aku suka berbaring dengan terjaga dan mata terpejam, saat itulah otakku mulai merancang konstruksi mimpi, sesekali pedal bibir menarik kedua ujungnya membentuk senyum simpul. Indah rasa, jika orang lain bisa melihat wujud nyata. Akan ku ajak berkeliling, menengok semua sudutnya. Seolah enggan membuka mata, menonton dua alam yang berbeda, didalam sana aku berada dan disini aku terbaring sengaja.


Hanya saja keyakinanku, Tuhan maha asyik, disetiap design angan yang ku lempar bergemuruh diatas kepala, aku melihat Tuhan menatap, tak sungkan ku menggoda, merayu, tatkala kening mencium alas.

Selasa, 28 Oktober 2014

Tuhan sang Maha

 Tuhan sang Maha
Karena tak bertemu aku buta
Karena jauh aku tak mengenal
Saat jatuh aku tersadar

Aku datang dengan sungkan
Melangkah dengan pelan
Kau hampiri dengan berlari

Aku datang dengan malu
Aku mendekat sejengkal
Kau hampiri dekat sedepa

Apalah dayaku ini
Apalah hidupku ini
Tanpa bersandar pada-Mu
Terimakasih

Tuhan sang Maha

Rabu, 22 Oktober 2014

Cerita Kawan

Kau tau rasanya jadi aku kawan?
Aku diam dalam pilu
Dia bilang sudah
Namun aku tak setegar itu
Kau bilang jalannya
Namun aku keras berharap

Sengajakah dia mengolokku?
di depan mata
Dikala ku berdo’a untuknya
Dia mencibir dengan bangga

Kamu tau kawan?
Jalanku sendiri aku tak tau
Tapi kelak aku akan bercerita

Dengar aku kawan


Senin, 20 Oktober 2014

D.E.A.L

----------------------
Jika kau menuntutku untuk dewasa, kembalikan masa kecilku yang kau ambil.
Jika kau menganggapku anak-anak, biarkanlah terus begitu.
-----------------------

Rabu, 15 Oktober 2014

Perankan Peran

Aku berada ditengahnya
Mendengar warna warna dari cerita mereka
Apa aku dapat peran utama?
Bisa pasang raga membagikan mimpi
Tapi terasa percuma, tak satupun menitip harap
Hanya mereka yang lain
Yang dijauhi oleh yang lain,
yang tidak bisa direka hati dan pikirannya
yang selalu mengaminkan
Apa aku dapat peranan?

Atau terseret cerita yang tak ku harap..

Senin, 13 Oktober 2014

Hanya bisa termenung melihat tumpukan kertas berisi coretan jenaka. Entah aku menganggap diriku bodoh kala itu atau mengapa. Sejak hari itu aku benci menulis, tapi setiap kali asa ingin memusnahkannya membuang dan membakar goresan itu, aku hanya tetap bisa begini, termenenung..