Archive for Januari 2014

Sampai di rumah, Rani mendapati ibunya sedang marah-marah entajh ditujukkan  kesiapa, namun ketika ibunya melihat kedatangan Rani, Rani tak luput jadi bulan-bulanan kemarahan ibunya
Ibu: “dari mana saja kamu Rani? udah tau ibu banyak kerjaan bukannya cepat pulang dan cepat bantu ibu! malah keluyuran!” ibu membentak Rani
Rani: “maaf bu, Rani ngga keluyuran, tadi Rani diam dulu d sekolah” Rani membela diri dengan nada gugup
Ibu: “ahh sudahlah beralasan aja bisanya, cepat ganti baju cuci piring-piring yang kotor”
        Rani bergegas mengganti baju, bermaksud hati untuk makan dulu sebelum mencuci piring, tapi setelah membuka tutup saji di meja makan hanya ada nasi saja, Rani pun mengurungkan niatnya untuk makan. “aku masak tempe saja nanti setelah mencuci piring”.. fikir Rani
        Satu persatu piring dan peralatan dapur yang Rani cuci, setengah melamun Rani meteskan air mata di pipinya. Namun ia bergegas menghapusnya, dan tiba-tiba mangkok yang dipegangnya jatuh dan pecah, dan mengenai jarinya. Rani kaget bukan kepalang, namun ia tetap berusaha tenang. Ia mengambil pecahan mangkok tadi, mengumpulkannya dan membuangnya ke tempat sampah, serta lekas mengobati dan membalut luka di jarinya. Setelah semua pekerjaanya selesai Rani memunuhi hak perutnya yang tengah kelaparan, dengan cekatan ia mengambil tempe di kulkas tak butuh waktu lama, tempe putih disulap menjadi masakan yang mengugah selera.
Rani: “yeahhh this is it! Oseng-oseng tempe ala chef Rani” Rani bergaya seperti chef Farah Queen di acara masak televisi.
         Satu demi satu suapan masuk ke dalam mulut Rani, betapa lahapnya dia menyantap karya masakannya itu.  Tiba-tiba Ayah menghampiri Rani
Ayah: “Rani! kenapa kamu mecahin mangkok?” Tanya Ayah terlihat marah
Rani: “Maaf Ayah, Rani ga sengaja, tadi tangan Rani kebanyakan sabun jadi licin” Rani kaget bukan main melihat Ayahnya marah.
Ayah: “Sudah berapa kali kamu memecahkan barang, hah? mampu kamu membelinya?” Ayah membentak Rani dan kemudian berlalu keluar rumah
Rani: “……..” Rani hanya diam terpaku mendengar kata-kata Ayahnya, dia tak menyangka Ayahnya akan mengeluarkan kata-kata itu kepadanya, makanan yang tadinya menggugah selera, masih banyak tersisa di piringnya. 
Rani sudah tidak ingin memakannya lagi, melihat makanan tadi seperti masakan di restoran mahal, namun kini nampak seperti sepiring duri. Sisa makanan Rani yang tak habis ia berikan pada ayam peliharaannya dibelakang rumah, melihat hari semakin sore ia bergegas mandi dan menutup harinya dengan berada dikamar.
Rani berbaring diatas kasur dan memejamkan matanya, ia masih membayangkan apa yang Ayah dan Ibunya perbuat padanya hari ini. Ia menangis dengan tenang, tanpa suara, namun air mata mengalir begitu deras. Ia beranjak dari tempat tidur dan mengambil buku tulis bersampul biru, mengambil pulpen, dan menulis….

Senin, 8 Mei 2013
             Dear Diary,
Fikiran jahat itu selalu ada, akan selalu ada tatkala mereka bertindak kejam.. Fikiran jahat yang slalu menghantuiku, disaat seperti ini aku selalu berfikir kalau aku bukanlah bagian dari keluarga ini, apakah aku bukan anak orang tuaku ini?mereka seolah tidak memberi ruang kasih kepadaku, mereka seolah tidak menginginkanku.....

Rani kembali berurai air mata, sampai ia terlelap dan tidur diatas torehan tintanya itu, ia terlihat tegar ketika Ibu memarahi, ia terlihat biasa saja ketika Ayah menghardik, tapi sesungguhnya ketika ia sendiri, ia menyadari bahwa ia terlalu lemah dan hanya bisa menangis.
Keesokan harinya disekolah….
Dewi: “hai Ran,tumben pagi, PR matematika udah?” Dewi datang menghampiri Rani
Rani: “Justru karena aku belum mengerjakan PR makanya aku berusaha datang pagi” Rani menjawab dengan cengengesan.
Dewi: “uhhh dasar, ayo kerjakan sebelum bel masuk”
Rani bergegas mengerjakan PR, beruntung ia masih sempat menyelesaikannya sebelum bel masuk sekolah berbunyi. Ketika pelajaran matematika berlangsung, sedikit siswa dikelas yang memperhatikan Guru tersebut, perawakan kecil dengan suara kecil dan sudah berumur cukup tua membuat anak-anak tidak bersemangat mengikuti pelajarannya. Diam-diam Dewi memperhatikan mata Rani dan terlihat bengkak dibagian atas kelopak matanya, ia penasaran dan merobek sedikit kertas yang bertuliskan:

Ran mata kamu kenapa? nangis?….  Dewi melipat ketas itu dan memberikannya kepada Rani.

Rani membaca surat kaleng itu secara diam-diam dan membalasnya:

iya, biasalah keluargaku Wi… aku disalahin, ayahku lebih sayang kepada mangkok daripada jariku yang terluka…

Dewi yang membaca balasan Rani merasa tertegun, ia mengerti apa yang dirasakan Rani selama ini, ia memahami sulitnya menjadi Rani ditengah-tengah keluarganya itu, iapun hanya membalas:

                Sabar ya Ran, mudah-mudahan kesabaran kamu selama ini membuahkan hasil.. karena menjadi indah itu tak akan pernah mudah

             Rani membaca balasan dari Dewi, ia tidak membalasnya lagi, namun hanya melihat kearah Dewi tersenyum dan menganggukan perlahan kepalanya.
            Dua pelajaran telah usai, bel istirahat pertama telah berbunyi, Dewi dan Rani keluar kelas untuk melaksanakan shalat Dhuha… Setelah selesai mereka duduk dan menyandarkan diri mereka ke tiang selasar mesjid. Terlihat Rani menikmati suasana disana, ia memejamkan mata, menghela nafas panjang dan terlihat tersenyum. Dewi yang melihat temannya itu ikut merasakan ketenangan yang Rani rasakan, entah apa yang ada difikiran Rani, namun keadaan itu dapat membuat hatinya tenang atas apa yang ia rasakan sebelumnya.
Dewi: “Ran, tunggu sebentar ya aku ke kantin”
Rani: “kamu mau jajan sekarang?aku ikut” Rani beranjak dari tempatnya
Dewi: “Aku mau beliin kamu eskrim, mau ikut?”
Rani: “wah ada acara apa ini kamu traktir aku segala?”
Dewi: “tadi ada saudaraku berkunjung, mereka memberiku uang jajan, aku berniat membelikan eskrim kesukaanmu, tapi kalau kamu tidak mau ya tidak apa-apa” Dewi berkata dengan nada meledek Rani
Rani: “eeh aku mau kok, ayo ayo” Rani berjalan mendahului Dewi
Dewi: “wwoooo yang mau nraktir siapa sih? kok kamu yang jalan duluan?”
Rani: “hahaha maaf karena semangatnya, ayo pergi bareng”
        Di kantin sekolah, ketika Dewi dan Rani hendak membeli eskrim, mereka melihat gengs Rendi tanpa ada Robi sedang berkumpul, merek terlihat menguasai kantin itu, hiruk pikuk kantin bersumber dari obrolan mereka. Rani duduk di salah satu bangku kantin, menunggu Dewi membayarnya ke kasir, tiba-tiba Robi datang, dengan gagahnya dia mengusir salah satu murid yang tengah asyik menyantap bakso, Anton namanya, ia adik kelasku.
        Tentu saja Anton tidak berani menolak, ia berdiri sambil memegang mangkok yang masih terisi bakso. Ia berdiri dan menyandar pada tembok kantin, tak ada bangku kosong untuk dia melanjutkan makan bakso, ia hanya berdiri bersandar pada tembok sambil memegang mangkok. Melihat Anton yang kikuk itu sontak saja gengs Rendi menertawakannya. Rani berdiri, dan melambaikan tangan pada Anton, Anton terlihat senang sekali, ia menghampiri dan Rani persilahkan ia duduk. Perilaku Rani itu dilihat oleh Rendi Cs mereka tampak kesal karena kesenangannya diganggu, terutama Robi, ia mengambil sebuah bakwan dari mejanya dan meleparkannya kepunggung Rani. Rani tak berani menoleh ataupun memberi perlawanan, ia tahu ia tak akan bisa berbuat apa-apa. Tak lama Dewi menghampirinya
Dewi: “ni eskrimnya Ran!”
Rani: “ayo ke kelas”
Dewi: “loh es krimnya ga di makan?” Tanya Dewi heran
Rani: “Dikelas saja” Rani menarik tangan Dewi dan bergegas ke kelas
          Di kelas, Rani menceritakan ulah Robi tadi kepada Dewi.
Dewi : “seragam kamu kena minyak deh Ran”
Rani : “pastilah Wi, yang dilempar kan bakwan”
Dewi : “mudah-mudahan bisa ilang ya nodanya, sini ak bersiin sementara pake tisu basah”
Rani : “iya nanti aku langsung rendem seragamnya mudah-mudahan ilang”
Dewi : “kamu ga ngelawan Ran, tadi di lempar gitu?”
Rani : “gimana aku mau ngelawan Wi, mereka banyakan, aku sendirian”
Dewi : “iya juga sih, tapi kan kamu juga bisa nanya kenapa atau ada apa gitu pura-pura kamu ga tau kelakuan mereka sebelumnya, biar clear
Rani : justru aku mengindari mereka melihat jelas wajah aku Wi, aku takut mereka dendam berkelanjutan, makanya aku ga noleh pas si Robi ngelempar bakwan”
Dewi : “cerdas, hahahah.. jadi superhero nih ceritanya?” Dewi meledek Rani

Rani hanya tersenyum dan memakan eskrim tadi, ia bergumam “Aku bukanlah superhero yang memiliki kekuatan untuk mengalahkan musuh-musuhnya, tapi, tak perlu jadi superhero untuk membela kebenaran dan menumpas kejahatan”. 

Cerpen Belum Ada Judul (eps.4)

Posted by : adiartanti setyono putri 0 Comments
Tag : ,
  Sifat alamiah manusia jika mempunyai rasa sirik, iri hati, sombong dan sifat jelek lainnya. Tapi semasa kecil, aku tak pernah iri melihat temanku mempunyai suatu barang sedangkan aku tidak memilikinya.
  Saat dibangku Sekolah Dasar, aku berteman dengan murid baru, ia orang berada, ketika pelajaran olahraga, aku melihat dia memakai sepatu sneakers dengan alas tinggi, warnanya hitam berpolet silver, aku tau harganya pasti mahal,semua temanku membangga-banggakan sepatunya, tapi aku tidak demikian, aku biasa saja menanggapinya. Dilain waktu, aku bermain kerumahnya, aku melihat temanku itu memakai celana jeans jenis skinny, waktu itu masih jarang yang memakai skinny jeans, ia terlihat pamer, ia terlihat sengaja memakai itu, padahal kami yang mengajaknya bermain hanya memakai celana pendek dan kaos oblong saja.
  Pernah suatu hari sepatu warriorku sudah rusak, dan terasa sempit, jari-jari kaki terassa sakit ketika memakainya, aku minta kepada Ibu untuk membelikanku sepatu baru, bukan karena melihat sepatu baru teman-temanku, tapi karena aku sangat membutuhkannya. Saat itu aku mempunyai uang tabungan yang cukup, aku tak mengerti kenapa ibu tak membantuku membelikan sepatu baru, apa Ibu menyangka aku meminta dibelikan sepatu baru dengan uangnya?Aku kesal dalam hati karena setelah beberapa hari Ibu tak juga mengajakku membeli sepatu baru, hingga pada hari minggu aku mengajak sepupuku yang berumur 8 tahun dan keponakanku yang masih TK untuk mengantar ke toko sepatu, kami bertiga berjalan kaki melewati 3 sampai 4 kampung, perjalanan yang jauh, hingga akhirnya kami sampai ditempat tujuan dan berhasil membeli sepatu, waktu itu harganya 21ribu, dalam perjalanan pulang adik-adiku terlihat kelelahan, aku tak tega melihatnya, aku hanya menyemangati mereka kalau sebentar lagi sampai rumah. Keponakanku yang masih TK sudah tak kuat lagi berjalan, dia meringis kecapean, akupun menggendongnya sampai rumah.
  Sampai dirumah kami sangat kelelahan, kami tidur di lantai yang beralaskan kasur lipat teletubbies diiringi dengan hujan deras, mungkin aku benar tidak memaksakan kehendak pada orang tua karena pada akhirnya aku bisa mendapatkan apa yang aku inginkan sendiri, namun aku salah melibatkan orang yang tidak tepat (adik-adikku) untuk ikut menemani. Aku menyadarai, apa yang kita minta tak selalu bisa dipaksakan, tapi akan kita dapatkan bila diperjuangkan, walau harus lelah dan sakit.

My Adventure - Sepatu Masa Kecil

Posted by : adiartanti setyono putri 0 Comments

- Copyright © write papper - Blogger Templates - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -