Get me outta here!

Minggu, 26 Agustus 2018

Kenapa Sepsis?

lanjutan...

Paginya mama saya pulang dahulu kerumah, tak lama saya dan suami dipanggil oleh dokter anak. Dan ya anak saya harus dirawat diruangan NICU karena penuh maka saya disarankan dirujuk, bergetar badan saya membayangkan kondisi anak saya, tapi saya dan suami tetap bersikap tenang.

“oke dok, saya minta di rujuk ke RS Hermina, karena sebelumnya saya cek kandungan di Hermina Bandung”

“baik bu, saya akan hubungi pihak sana” dokter tersebut kemudian memanggil perawat agar prosesnya diurus. Kemudian perawat tersebut berkata

“pak, bu, ada beberapa opsi rujukan, ke RSUD Tasik, RSUD Banjar, sama RSUD Bandung (Hasan Sadikin)”

“tapi kalo Hasan sadikin saya tidak menyarankan bu, karena biasanya disitu penuh banget” kata dokter menimpali

“udah Hermina aja dok,” kata suami saya

“tapi Kalo swasta mahal, gak apa-apa?”

“iya gak apa-apa!” saya sedikit kesal disana, apa karena saya hanya pakai daster dan suami berkaos oblong maka saya dianggap tidak mampu? Atau dinggap tidak tahu? Memang betul perawat tersebut memberi info seperti itu agar jadi bahan pertimbangan kami, tapi dalam keadan seperti ini, rasanya tidak tepat saja karena proritas kami adalah kesembuhan.

“baik bu kami coba cari-cari dulu yang kosong dimana ya, nanti fix nya ibu yang menentukan” kata dokter tersebut

Kami pun, keluar ruangan dan sempat melihat si bayi di tempat kemren, bukan di incubator lagi karena incubator sudah penuh dipakai pasien lain (kebayang kan.. anak masih sakit tapi dibiarkan tanpa incubator semalaman karena udah terisi), dipasang infus dan dipasang oksigen besar manual, tidak terlihat menangis, hanya gerak geriknya yang masih terlihat lincah. Tak lama perawat memberitahu bahwa akan diusahakan ruangan NICU disana, dalam artian pasien NICU yang sudah agak baikan akan di barter dengan anak kami. Antara lega dan kecewa juga, karena kami memang sudah tidak sreg lagi anak kami dirawat disana dan ingin dipindah ke RS lain, tapi karena dokter mengatakan taku ada apa-apa diperjalanan ke RS. Kami hanya bisa pasrah.

Kami pun mengurus perpindahan ruangan perawatan, kepala perawat disana yang sering dipanggil “Bu haji” memberikan beberapa informasi, bahwa anak kami akan dipasang alat pernafasan bertekanan dari mulut langsung ke paru-paru, dan akan di infus kembali, dan menjelaskan bahwa cairan feses anak naik ke atas dan keluar dari mulut sehingga akan disedot cairannya dibersihkan lambungnya, maka perlu di “puasakan” beberapa hari

Ternyata mendengar kata – kata “muntah cairan lambung” lebih baik daripada “cairan feses naik ke atas” membayangkannya saja membuat pusing kepala saya.

“bu, anak saya sebetulnya kenapa ya?” saya masih penasaran tentang apa yang dialami anak saya

“kayaknya sepsis bu, ada bakteri, tapi lebih jelasnya harus bertanya ke dokter” jawab bu haji

“itu karena apa ya bu? Kok bisa ada bakteri?”

“pas hamil pernah sakit keras ga sampai dirawat?”

“engga bu, pernah pas hamil 4 bulan saya demam tapi hanya 2 hari sembuh,diperiksa dokter katanya gejala radang”

“usia 4 bulan sih belum terlalu terbentuk sempurna, jadi ga akan begitu berpengaruh, pas lahir anaknya nangis engga?”

“nangis bu, kenceng banget malahan”

“selama hamil ketuban rembes ga?”

“engga bu, adanya keputihan pas hamil tapi sudah ditanyakan pada dokter obgyn juga masih dalam tahap normal”

“anaknya ada demam ga pas bab berdarah?”

“engga bu, normal aja” saya mulai males menjawab pertanyaan bu Haji tsb, karena seolah-olah ada yang salah dari diri saya, saya pun menimpali

“bu, saya sudah cek lab atas saran dokter kandungan saya sebagai pemeriksaan wajib ibu hamil, cek darah dan urin pas hamil dan hasilnya saya sehat, tidak ada yang perlu di obati, hanya dokter menyarankan saya banyak minum, karena warna urinnya agak kuning”

Pembicaraanpun berakhir, diluar ruangan suami saya meyakinkan bahwa tidak ada yang salah dengan diri saya, dan jangan menyalahkan diri sendiri, karena memang suami tahu betul kondisi saya selama kehamilan (tiap chek up kedokter selalu ditemani suami).

Saya dan suami pun mencari info tentang apa itu penyakit sepsis. Banyak info yang kami dapat di internet salah satunya dari link berikut : https://hellosehat.com/parenting/perkembangan-bayi/sepsis-pada-bayi/ disana ditulisakan bahwa gejala sepsis terlihat 6 jam setelah dilahirkan, seperti diare, demam, sesak nafas dll. Dan lebih besar resikonya bagi bayi premature. Yang jadi pertanyaan adalah anak saya kan ga ada demam, dan bab berdarah ketika hari ke -3 dirumah, dan lahir dengan berat badan normal yaitu 3.2 kg. Bisa juga dari jalan lahir saat persalinan ibu, ketuban pecah dini, atau ada kolonisasi bakteri di vagina. Ketuban saya tidak pecah dini, atau mungkinkah ada bakteri berbahaya di vagina saya? Tapi kenapa tidak terdeteksi di urin ketika cek lab? Bukannya keputihan saat hamil itu wajar ya? Apalagi warna keputihan normal, dan saya rajin menjaga kebersihan dengan sering menggani cela dalam (bekel CD ke kantor hehehe) dan membasuh vagina habis pipis saja pakai air galon untuk minum dikantor :D. Banyak pertanyaan dalam diri saya tentang penyebab sepsis ini.

Bude saya yang dari Bandung berkunjung ke RSUD, kami bercakap tentang keadaan anak kami, dan bude saya memberi tahu bahwa cucunya Arkhan dulu juga yang terlahir premature divonis sepsis, dokter sudah nyerah di rawat 1.5 bulan di RSCM tapi Alhamdulillah sembuH, perkataan bude saya tersebut yang memotivasi saya yakin dede Syra bakal sembuh.

Jadwal besuk berikutnya saya bertemu dengan dokter, saya kembali menanyakan kondisi dan penyebab sepsis itu sendiri


(bersambung.....)

0 komentar:

Posting Komentar