Get me outta here!

Minggu, 19 Agustus 2018

Kesal

lanjutan..

Esok hari, adalah hari minggu, dokter anak, tentu saja libur, yang ada adalah dokter jaga., mungkin dokter jaganya terlambat visit entah bagaimana, beliau datang ketika jadwal besuk pasien, saya berdiri di dekat bayi, khawatir dan memastikan baik-baik saja karena menangis semalaman.
Saya tidak banyak bertanya kepada dokter maupun perawat, saya biarkan dokter memeriksa dahulu semua pasien, kemudian tiba memeriksa anak saya, dengan posisi saya tetap didekat anak saya agar dapat memonitor apa yang dilakukan dokter.

“ini anaknya kenapa?” tanya dokter kepada para perawat yang dari tadi saya perhatikan mengekor dibelakang dokter memberi keterangan

“bayinya bilirubin udah normal dok, sudah bisa pulang hari ini”

“yasudah, pulangkan aja hari ini” jawab dokter tanpa menyentuh anak saya, hanya menerima mentah-mentah apa yang diinfokan perawat,

Saya kaget, antara senang dan bingung, senang anak saya boleh pulang, disisi lain anak saya kok ga diperiksa sama dokter ya? Setelah memeriksa semua pasien, dokter terlihat duduk di meja dan memeriksa satu persatu rekam medis pasien bayi. Sayapun bertanya kepada perawat

“teh, anak saya semalaman nangis, kenapa ya? Saya tidur disana soalnya, jadi kedengeran” sambil saya menunjuk ruangan sebelah

“bu,namanya juga bukan dirumah, pasti beda suasananya, anak pasti rewel”

Mak jleb, oh begitu ya.. masuk akal sih fikir saya tapi saya cemas saja anak saya bias menagis semalaman, padahal sebelumnya dari pertama dirawat saya tidak mendengar bayi saya menangis semalaman. Saya hilangkan rasa cemas, berfikirlah positif, perawat pun memanggil saya dan suami, bilang bahwa dokter telah mengijinkan pulang, minta selimut, dan baju bayi untuk persiapan pulang.

Alhamdulillah… sementara suami mengurus administrasi keuangan di gedung lain (karena hari libur maka admin ruangan bayi tdk masuk) saya bersiap-siap dan menghubungi mama dan keluarga dirumah untuk minta dijemput. Sambil menunggu bayi dipersiapkan, tak lama perawat memanggil suami saya, dan menyampaikan bahwa bayi kami demam, panasnya mencapai 37 derajat, dan meminta menunggu sampai sore mudah-mudahan panasnya turun.

Sore pun tiba, namun panas bayi masih belum turun,. Lemaslah saya dan suami disana, keluarga pun sudah datang siap menjemput, dan kami memberitahukan bahwa si bayi belum bisa pulang sekarang karena masih panas. Keluarga hanya menguatkan dan menghibur kami bahwa Insyaalloh besok pulang.

Saya dan suami masuk keruangan perawat, dan menanyakan kondisi anak saya, saya lihat anak saya yang sudah ditempatkan pada tempat bayi normal (di ruangan bayi tersebut, bayi yang normal dilahirkan di RSUD dan tidak sakit ditempatkan satu ruangan dengan yang sakit)

“teh, gimana si dede? Masih panas?”

“masih bu, ini saya lagi WA dokter anaknya, ga ngebolehin pulang” jawab perawat sambil sibuk ngechat dokternya

Saya inisiatif pura2 menanyakan stok asi dan menghampiri anak saya, yang dijaga perawat,

“teh berapa panasnya?”

“ini bu, (gatau 37 gatau 35 lupa juga)” kata perawat sambil menunjukan alat thermometer, dari tadi belum turun, saya kembali pada perawat yang sibuk chating,

“teh, gimana kata dokternya? Boleh engga saya nyusuin anak saya langsung, sekarang?” karena posisi anak sudah dilepas semua alat yang nempel saya fikir ini waktu yang tepat.

“anaknya harus difototherapi lagi bu”

Dalam keadaan yang tidak karuan, saya langsung terfikir dengan kata “foto” dan inget pas anak saya dirontgen pertama disini, spontan saya menjawab

“teh, emang gak apa2 anak saya di rontgen duakali dengan waktu yang berdekatan? Apa ga ada efek negatifnya?” saya yang tidak tahu istilah-istilah kedokteran spontan bertanya begitu, hanya saja kakak saya yang kebetulan datang ebrniat ikut menjemput bilang bahwa org dewasa aja kalo di rontgen ga boleh sering-sering

Dengan nada meremehkan, entah kesal karena saya “riweuh” dan bertanya mondar mandir daritadi, perawat itu menjawab

“bu, emang siapa yang suruh di rontgen lagi? Bukan di rontgen bu, di fototherapi, ibu tahu ngga fototherapi itu apa? Disinar bu?”

“ohh gitu” jawab saya singkat, saya maklum dia berkata seperti itu tapi saya kesal juga memang, sampai saat ini masih terbayang muka sinis perawat itu

“ini saya chat dokternya, boleh ibu kasih asi sekarang, tapi kali ini aja ya bu karena belum penanganan” kata perawat lain, saya masih ingat, Ibu Linda namanya, perawat tersebut ramah, beda sekali dengan perawat lain, dan keramahan perawat Ibu Linda ini memang juga dirasakan oleh keluarga pasien lain.

Diberikan bayi saya dipangkaun saya, saat itu senang sekali rasanya, saya bias memeluk anak saya kembali, menggendongnya,

“halo sayang, ini mama, ade ayo pulang kerumah” saya menatap baik-baik wajah anak saya, mukanya putih pucat, hanya memejamkan mata, sesekala membuka mata, tapi agak melotot dan terlihat bola mata mungilnya  dan membuat saya terkejut adalah membuka mata sebentar tapi yang nampak hanya bola mata yang putihnya saja, seperti anak step. Saya coba menyusui nya, namun tak lagi kencang seperti sebelumnya, anak saya tanpa lemas, dia seperti tidak mengenal putting saya, saya perhatikan betul-betul wajahnya, pipi yang semula tembem cenderung tirus, kecil sekali mukanya, ini seperti bukan Syira yang kemarin, terlihat lemah dan tak saya kenali lagi. Allohu Akbar, ingin rasanya saya menjerit, namun tertahan ditenggorokan, tak kuasa lagi saya melihatnya, saya serahkan kembali kepada perawat.


Saya keluar ruangan, berpegangan tangan erat dengan suami yang sudah hampir seminggu memutuskan tidak bekerja dahulu dan memilih menemani saya, kita berurai air mata, cemas akan keadaan si kecil…

Malam harinya saya berfikir tak karuan, tiba-tiba saya dipanggil oleh dokter jaga. Saya lihat tingkahnya tanpa cemas, dan memulai perkataan

“bu, tadi anaknya tiba-tiba panas ya? Sekarang anaknya muntah cairan lambung, tapi sekarang sedang ditangani kok bu”

Terpaku saya dengan perkataannya, apalagi ini Ya Rabb, dalam hati saya, namun tetap berusaha tenang.

“dok, saya mau tanya, hasil tes darah itu hasilnya gimana ya?” saya baru keinget tenatang hasil lab darah yang belum dilaporkan kepada saya

“bentar bu, saya hubungi dulu dokter anaknya ya bu, ibu tunggu dulu saja diluar” jawab dokter tersebut sambil memegangi handphone.

Saya pun keluar ruangan, mama saya bertanya kenapa, sayapun menjawab seadanya yang dikatan dokter tersebut. Semalaman saya tidak dipanggil lagi oleh dokter tersebut, saya sengaja tidak menghubungi suami yang tidur dibawah, karena tidak ingin mengganggunya beristirahat, saya tahu tidurnya pasti tidak nyaman, tidur dikursi besi berselimutkan angina malam.

(bersambung...)

0 komentar:

Posting Komentar