Get me outta here!

Minggu, 30 September 2018

For Your Information

1.       Yakinlah semua adalah ketetapan Alloh SWT.yang terbaik, jangan menyalahkan siapa-siapa, jangan berburuk sangka pada Alloh SWT, dan jangan sekali-kali menyalahkan diri sendiri, kadang saya juga heran kenapa anak saya bisa sakit, saya rutin memeriksakan kehamilan ke RS Hermina Bandung dokternya cocok, abik, ramah dan enakeun hehehe kondisinya baik, tetangga kami yang (maaf) jorok, botol asinya hanya dicuci seadanya, anaknya tidak pernah sakit, kalo kata pak Een, ibarat lagi nyabutin rumput kalo anaknya nangis minta asi, kadang ada yang ga cuci tangan dulu, tapi anaknya sehat-sehat aja.

2.  Semua cobaan akan mengantarkan kita menjadi pribadi yang lebih baik, rugi kalau kita tidak meningkatkan keimanan, apalah arti tangisan saya selama menemani si Bayi kalau iman saya tidak bertambah. Jangan merasa cobaan kita paling berat, lihatlah sekeliling banyak orang yang cobaannya lebih dan lebih susah dari kita. Cobaa google tentang perjuangan adamfabumi dan si cantik aurora

3. Jangan merasa orang lain harus tahu tentang kesedihan kita, dan mengumbarnya kemana-mana, itu akan membuat kita tersiksa, dan jangan berprasngka buruk kaya “loh kok dy ga ada empatinya ya, kok dia cuek aja pas saya kaya gini?” sempet saya berfikiran seperti itu, tapi buat apa kita minta dikasihani? Bukankah cobaan itu menguatkan? Saya yang sedang bernegosiasi pahala dengan Tuhan.

4. Jangan terlampau panik jika anak kita sakit, coba cari referensi yang baik, tidak ada salahnya membawa anak kita pada pengobatan yang terbaik walaupun dirasa tidak parah

5. Saking saya parnonya terhadap RSUD Ciamis dikala saya terserang virus Suudzon, saya sempat goggling dr Nesya (maaf ya dok), dr anak kedua yang menangani bayi kami, ternyata beliau S1 Umum, dan S2 baru spesialis anak, bukan meremehkan kemampuan dokter, tapi mengingat tidak ada dokter anak lain selain beliau saya merasa tidak punya referensi lain. Dan ternyata dr anak yang pertama yaitu dr Ati, sedang menjalani pengobatan diluar negeri karena kanker CMIIW (dapat info dari temen kakak ipar yang perawat di tasik) tapi dokter nesya ini cukup sigap ketika di NICU jika anak saya kenapa2 selama beliau masih bisa datang ke RS, malam-malampun dia akan datang

6. Untuk para perawat maupun semua tenaga medis, walaupun pasien RSUD Ciamis yang rata-rata (maaf) menengah kebawah, berikanlah pelayanan dan ketenangan yang terbaik, berikan info yang lengkap, itu berguna sekali untuk kami, terutama saya, jangan adalagi keluhan kel. pasien yang mengatakan perawat A baik perawat B judes, kami tahu anda semua lelah, tapi bukankah kalau LILLAH tidak akan pernah ada LELAH? Saya tahu tidak semua perawat atau dokter berkarakter yang tidak menyenangkan, terimakasih kepada Bu linda di peritologi dan bu linda di ruang NICU yang udah baik nganter2 suami urusin BPJS (namanya sama, cantik dan baiknya juga sama, hehe)

7. Untuk melepas penat, saya iseng jalan-jalan sama suami ke pasar, dan memang bukan jam besuk, aturannya boleh masuk apabila memiliki kartu pengunjung (satu ktp untuk satu kartu) atau nanti menunggu jam besuk (sekitar 4 jam lagi), saat itu saya tidak diperbolehkan masuk, karena suami yang mengalungkan kartu itu (seperti id card) sudah dijelaskan bahwa saya ibu bayi, tetap saja hanya satu orang yang boleh masuk, suami saya memberikan kartu itu kepada saya, tapi saya tidak mau kalu harus menunggu sendiri, saya kesal berbalik badan sambil ngomel “yaudah, gak apa-apa ya anak saya kelaparan diatas!!!” kalo inget itu saya malu sendiri anak saya emang mau makan apa?makan nasi? hehehe, tapi ya namanya juga kesal. Tapi akhirnya ketemu perawat baik, yang kebetulan mengenali suami saya dan memberitahu “jalan rahasia” untuk masuk heheh

8. Setelah saya memutuskan masuk kerja kembali, sebelumnya saya check up ke dokter obgyn, dokter klinik Al-Faiha, dokternya muda, baik banget, empatinya tinggi pas saya ceritakan pengalaman saya, dan sempet komplain kenapa dikasih susu formula

9. Saat hamil saya sering mengajarkan anak saya dzikir pagi sore, dan sebelum tidur mendengarkan lantunan juz amma dari Mauhammad Al-Ausy, imam besar di masjid nabawi, sambil mengusap, setelah shlat wajib saya sering berbicara pada anak saya “de, maintain sama Alloh ya biar papa punya rumah, mama gamau ade tidurnya sempit-sempitan (kami ngontrak, dengan 2 ruangan, ada dapur dan kamar mandi, dan sampai saat ini masih ngontrak) saya tahu betapa solehahnya anak kami, mungkin saja dia beneran minta ke Alloh untuk dibuatkan rumah, tapi bukan rumah biasa, bukan rumah yang seberapa megahnyapun tidak aka nada apa-apanya jika dibangun di dunia. Saya menemukan hadist sbg berikut :

Dalam hadis dari Abu Musa al-Asyari, Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

Apabila anak seorang hamba meninggal dunia, maka Allah bertanya kepada malaikat, Apakah kalian mencabut nyawa anak hamba-Ku? Mereka menjawab, Ya. Allah bertanya lagi, Apakah kalian mencabut nyawa buah hatinya? Mereka menjawab, Ya. Allah bertanya lagi, Apa yang diucapkan hamba-Ku? Malaikat menjawab, Dia memuji-Mu dan mengucapkan inna lillahi wa inna ilaihi raajiun. Kemudian Allah berfirman, Bangunkan untuk hamba-Ku satu rumah di surga. Beri nama rumah itu dengan Baitul Hamdi (rumah pujian). (HR. Tirmidzi 1037, Ibu Hibban 2948 dihasankan al-Albani)
Masyaalloh, semoga kelak mama papa dan semua keluarga dede bisa menempati rumah yang sudah ade Syira siapkan untuk kami ya de.. dari sana saya tahu bahwa nabi Muhammad SAW.juga pernah berduka ditinggal anak dan cucunya, seorang Nabi saja yang udah soleh, yang ga perlu minta juga Alloh SWT bakal ngabulin, harus menerima cobaan ditinggal anak, sementara saya, soleh juga engga tapi Alloh SWT mau memebenahi kami, Alloh SWT sayang pada kami, dia ingin menguji kesabaran kami, agar lebih taat, lebih beriman, lebih saling menyayangi. Alhamdulillah banyak hikmah yang diambil dari semua yang telah saya lalui,

10.   Untuk para orangtua diluar sana, untuk para ibu, calon ibu,apalagi yang sedang menghadapi cobaan tentang anak, anak adalah titipan, kalo dititipi harus dijaga dengan baik, kalo mau diambil sama yang punya, kita ga berhak menolak kan? Semangat ya buibu dan pakbapak!!!! Heheh Bagaimana dengan yang belum dikaruniai anak? Bersabarlah dalam ketaatan, coba baca lagi kisah nabi Jakaria. Kalo sampai meninggal tidak dikaruniai anak bagaimana? Bukankah mudah bagi Alloh SWT. Semua perempuan bisa jadi ibu, kalau tidak di dunia, Alloh SWT.siapkan di surga

11.   Saya pernah mendengar ceramah ust.Basalamah, tidak perlulah kita mengumbar foto anak di social media, khawatir timbul penyakit ‘ain (hati) ini seperti cambuk buat saya, saya pernah memajang foto anak saya termasuk suami saya juga, padahal saya tidak bermaksud apa-apa,, astaghfirullah.. memang Alloh SWT.maha baik, menegur dengan caraNya yang tak terduga

12.   Kini, kami tidak melulu harus sedih, kita bahagia, harus bahagia agar Syra di Surga melihat kami mendapat adik untuk Syra, Xoxo

13.   Untuk yang mau tau referensi dokter kandungan versi saya, kapan-kapan dibahas di tulisan selanjutnya ya.. (saya sempet gonta ganti dokter obgyn saat hamil)


Ambil yang baik, hempas yang buruk ya dear pembaca…hehe

Selasa, 11 September 2018

Selesai

Lanjutan....

Siang harinya suami saya dipanggil perawat untuk meminta darah ke PMI anak kami akan di transfusi. Ini adalah transfusi yang ke 4, saya ikut dengan suami ke pmi tapi stock di pmi hanya tersisa satu labu dan itu bukan darah baru, tapi udah beberapa hari, maka kami disarankan mencari pendonor saja.

Saya kembali lagi dengan suami ke RSUD, dan menceritakan bahwa stock di pmi tidak ada dengan harapan perawat mau membantu kami (barangkali dalam satu rumah sakit ada perawat yang bergolongan darah AB), jujur di RSUD kami tidak kenal siapa-siapa, jauh dari rumah orang tua, jauh dari saudara, anak kami bergolongan darah AB, saya A dan suami saya bergolongan darah B.

Tapi ternyata perawat tidak bereaksi apa-apa, sementara kami khawatir kalau anak kami butuh transfusi segera. Kami hanya duduk dipojokan (untung ga sambil garuk-garuk tembok lol). Tanya sana sini, tidak membuahkan hasil, kami terkulai lesu di pojokan pun, perawat seolah tak hiraukan. 

Tak lama adik saya memberi tahu bahwa teman sekolahnya bergolongan darah AB dan bersedia menjadi pendonor, sayapun meminta bantuan temen sekolah saya yang lain yang kebetulan sedang ada di Bandung sehingga hanya bisa menshare di grup alumni sekolah, termasuk saya juga menshare di instagram ciamis.info dan responnya baik

Singkat cerita saya ketemuan dengan teman adik saya, yang ternyata teman smp saya juga heheh saya hamper tidak mengenali karena badannya jadi kurus, dan benar saja berat badannya kurang dari 45 kg dan tidak memenuhi syarat sebagai pendonor. Tapi saya berterimakasih sekali kepada Betty yang udah jauh-jauh mau donor buat anak saya.

Ajaibnya, petugas PMI yang lain menginfokan bahwa darah golongan AB baru saja masuk, sehingga darah segar bisa diberikan, Alhamdulillah…

Tak lama, banyak yang menelpon saya, dari mulai Mbak Hilda yang dapet info dari ig @ciamis.info dan teman teman alumni SMA 1 ciamis dan kakak kelas saya sewaktu SMA jazakillah.. masih banyak orang baik yang tak pernah terpikirkan minta bantuan mereka, justru yang saya harapkan bisa dimintain tolong malah mengecewakan, disitulah saya merasa bahwa Alloh SWT benar-benar tahu apa yang ada dalam hati masing-masing makhluk yang sebenar-benarnya, terimakasih kepada Priyanka, Hera dan Iyus yang sudah bantu share.

Walau saya sudah mendapatkan darah AB, tetap kontaknya saya simpan barangkali nanti membutuhkan darah AB. Ternyata setelah mendapatkan darah tsb, darahnya disimpan dahulu karena anak saya tiba-tiba panasnya naik. Lebih tegang lagi ketika perawat memanggil dan menjelaskan bahwa anak saya akan d usg karena perutnya buncit, khawatir ada kelainan.

Saya menampik apabila ada kelainan, karena dari awal semua kondisi bayi berjalan normal, benar saja, hasil usg menyatakan bahwa tidak ada kelainan. Hanya saja bakteri sudah menyebar kemana-mana sehingga merusak hati dan ginjalnya. Remuk hati saya, saya pandangi wajah bayi mungil kami (engga mungil juga sih, stelah di NICU berat badan kembali normal, hanya saja kadang bengkak karena cairan infus, diantara pasien premature yang lain anak kami adalah yang terbahenol kalo kata Pak Een, pasien sebelah kami, kulitnya yang putih dan paha yang gempal sering jadi bahan kagumannya), saya katakan “selamat sebulan anak mama”tepat tanggal 28 mei, saya bacakan doa – doa, saya ceritakan kisah-kisah nabi-nabi saat anak-anak.

Saat nangis, anak saya tidak terdengar suara, saya sempat nangis-nangis dibuatnya, itu karena alat yang masuk lewat mulutnya, sehingga suaranya terganggu, saya elus-elus tangan, pipi dan rambutnya, rambutnya yang setengah botak, dicukur hanya untuk keperluan masuk selang infus saja, karena di tangan dan kaki sudah habis bekas infusan, maka tak jarang anak kami di infus lewat kepala, saya pernah meminta kepada perawat agar dicukur habis saja sekalian, karena anak kami rambutnya lebat dan hitam ga bagus saja terlihatnya jika di cukur-cukur sedikit-sedikit seperti pitak, tapi jawabannya hanya iya-iya saja sampai anak kami meninggal pun Alhamdulillah yah... rambutnya tetap saja begitu, botak sebagian.

Hari itu tanggal 30 mei, anak kami sudah dalam kondisi parah, hanya terbaring lemah, saya memegangi tangannya, saya usap-usap kepalanya, seraya berkata :

“de, mama sama papa udah iklhas de, mama janji ga akan nangis kalo ade diminta temenin Alloh, nanti kita kan ketemu lagi ya de, doain mama papa nanti bisa bareng di surge sama ade”

Saya dan suami saling berpegangan tangan, memegang tangan anak kami, kami membisikan kata-kata pasrah kami yang sebelumnya bilang kalau ade harus kuat, mama gamau kehilangan ade, sekarang berubah menjadi kata-kata perpisahan, walau ada sedikit rasa tidak ikhlas namu saya harus merelakan anak kami jika sewaktu-waktu dipanggil Alloh SWT.karena melihatnya makin menderita saya tidak tega, semua bukan salah siapa-siapa, semua adalah kehendak Yang Kuasa. Saya hanya bisa berdoa pada Alloh SWT agar kelak harus dipetemukan kembali dan berkumpul bersama-sama di surga.

Saat itu adalah saat saya merasa kuat, taka da lagi menangis meronta seperti sebelumnya padahal saat itu anak saya sedang dalam keadaan menggeliat-geliat sakaratul maut, saya hanya tidak mau terlihat terpuruk di depan mama saya dan saudara-saudara saya, karena jika begitu, mereka pasti akan teramat sedih. Saya berusaha tegar, saya yakin anak kami yang tak berdosa akan bermain di taman surga. Saatnya saya membahagiakan mereka yang masih ada, orangtua dan saudara saya, suami dan juga saya yang harus lebih bekerja keras agar masuk surga, bukankah kita-kita ini yang masih hidup belum tentu masuk surga? Itulah yang ada dalam benak saya,

Sayapun sempat bilang kepada mama dan kakak ipar saya, jika ade Syira sudah tidak memungkinkan untuk sembuh, saya minta semua ikhlas, saya sendiri akan berusaha.

Doa saya, jika anak kami meninggal minta di ambil ketika malam hari, dalam suasana syahdu, ketika pasien dan penunggu pasien lain tertidur, dan ya, tepat pukul 10.30 dokter jaga memanggil kami, di monitor denyut nadi anak kami sudah tidak terdeteksi, namun akan dicoba diusahakan dipompa tapi dokter tidak menjamin akan baik kembali, saya dan suami hanya bersikap tenang, menjawab semua perkataan dokter dan berterimakasih, mungkin dokter jaga saat itu kaget juga melihat ketenangan kami, sementara dia menyampaikan informasi dengan terbata-bata terlihat gugup.
Saya membangunkan pelan mama saya yang tertidur

“ma, coba hubungi bapak ma, suruh kesini”

mama saya terbangun dan tertunduk lemas,”si dede kenapa?”

“lagi di cek dokter ma, mama panggil dulu aja bapak suruh cepet-cepet kesini”

Mama pun menelpon bapak saya

Panggilan kedua terdengar, dari yang sebelumnya perawat memanggil dengan menghampiri tempat kami tidur, panggilan kedua ini seraya berteriak, sontak penunggu pasien lain terbangun.
Kami masuk keruangan,perawat menginformasikan bahwa sudah dipompa namun tidak ada reaksi, dokter jaga sedang menuju kesana, saya hampiri anak saya saya pegang tangannya, kukunya yang tampak membiru di dasar, ya saya tau, anak saya sudah ke surga.

Tak lama, dokter jaga yang lain dari sebelumnya datang dan memeriksa anak kami, dokter setengah baya tersebut menjelaskan bahwa anak dipastikan sudah tak bernyawa, dan bertanya anak ke berapa?
Saya jawab anak pertama, pertanyaan tersebut sering ditanyakan kepada kami, entah apa maksudnya, bagi kami semua anak pertama, kedua, ketiga, tetap saja sama, tak akan berubah rasa sayang orangtua kepada anak yang lain.

Saya menghampiri perawat dan meminta memberishkan atau melepas alat yang menempel dengan hati-hati, bekas plester dll agar tidak kelihatan, perawat mengiyakan, mereka mungkin heran kenapa kami bersikap tenang, dan bisa-bisanya berkata seperti itu. Itulah terakhir saya bisa mencereweti mereka maka saya manfaatkan agar anak kami tahu, bahawa sampai terakhir saya melihatnya, kami akan tetap peduli padanya.

Sambil menunggu anak kami dilepas alat, kami kembali keruangan dan membereskan perlengkapan yang kami bawa dari rumah mama untuk menginap, semua keluarga pasien menghampiri saya, saya tidak berkata apa-apa, yang terdengan bapak saya yang telah datang dan mengucapkan Innalillahi, sontak semua keluarga pasien menangis, satu persatu merangkul saya, ada yang memeluk, memegangi kepala dan mencium tangan saya, saya yang menahan air mata justru menangis dikala melihat semua keluarga pasien yang telah saya anggap seperti saudara itu menangis. Satu persatu menyabarkan saya,

Sayapun berpamitan kepada semuanya, semua membantu kami mengangkat barang-barang untuk disimpan di mobil,

Ibu dan Bapak Een, yang kocak, Bapak Een bekerja sebagai supir, lebih dulu anaknya dirawat karena premature, sudah sebulan setengah mereka disana

Keluarga Wida yang kadang bapaknya suka usil dan ibunya baik banget, pasien baru yang sudah 2 minggu, anaknya juga premature

Ibu nia endut heheh (karena ada 2 nama nia, nia kecil dan nia endut), ibu iis, dan ibu dan bapak lain yang saya tidak kenal hanya suami saja yang tahu karena suami sering ngobrol.

Tepat jam 11 malam selesai dimandikan di RSUD kami pulang, dirumah bibi-bibi saya sudah menyambut dengan tangis, saya dan suami telah berjanji kepada Syra tidak akan menangis, maka kami minimalisir tangisan kami. Banyak yang menasehati kami agar tidak terus larut dalam kesedihan, semua karena Alloh SWT yang menghendaki, di depan insyaalloh akan ada kebaikan bila kita menerima dengan ikhlas.

Paginya, sekitar pukul 8 pagi anak kami dikebumikan, tak lama berita meninggalnya anak kamuitersebar diantara para keluarga pasien lain yang lebih dulu pulang kerumah, ada pak RT (disebut begitu karena paling lama menginap di RS, yaitu 2 bulan), bu nia kecil, pak yanto (yang lebih dulu anaknya dipanggil Alloh SWT ke surga) semua dari daerah di ciamis yang berbeda-beda, kita sering bercanda bersama sekedar melepas kesedihan (kalau ada yag request nanti saya ceritain deh satu-satu tingkah lucu bapak-bapak dan ibu-ibu di RS heheh)


selamat jalan sayang… kadang mama dilanda rindu, papa juga pasti rindu (laki-laki hebat yang tangisannya tak terlihat tapi selalu cepat tanggap memeluk mama dalam keadaan terpuruk) Mama Papa harus iri kepada Syra yang bisa langsung ke surga tanpa hisab, mama yakin ade Syra disana sedang bersenang-senang, giliran kami memantaskan diri agar kelak berhak dijemput disana,tinggal bersama di rumah yang telah ade bangunkan di surga untuk kami, tunggu kami di Surga ya nak., ♥♥♥


Minggu, 02 September 2018

Baik Sangka Itu Sulit

lanjutan....

“dok anak saya gimana perkembangannya?”

“masih belum stabil bu, demamnya juga masih turun naik”

“katanya anak saya sakit sepsis dok, dari apa ya?”

“banyak faktor sih bu, ini kan anaknya udah beberapa hari dirumah mungkin saja dari faktor lingkungan, bisa saja maaf ya bu mungkin yang megang bayi tangannya kotor banget atau air yang dipakai kotor banget, itu baru ada bakteri”

Saya belum bisa menerima pernyataan dokter tersebut, karena lingkungan kami cukup bersih, air yang digunakan air mengalir, dan bayi dimandikan dengan air hangat, kalo disebut tangan yang kotor banget dan air yang kotor banget, kayaknya engga mungkin. Tapi saya teringat dengan paraji yang memasukan tangannya dan memecahkan ketuban saya, disana saya mulai berprasangka buruk, mungkinkah tangan paraji itu kotor? (astaghfirulloh maafkan hamba yang bersuudzon)

Dirawat di NICU anak saya tetap tidak stabil, dan saat ditanya dokter hanya menjawab “bantu doa ya bu” dan jawaban yang sama terhadap pasien lainnya.

Tiga kali anak saya mengalami masa kritis, sempat tigakali kehilangan nafas, dipompa kembali oleh dokter tak tahu berapa kali saya menangisi anak saya, cobaan terberat dalam hidup saya, dalam keadan sedih itu, mama saya tak kuasa melihat saya menangis, kami menangis bersama.

Saya sempat bertanya kembali kepada dokter anak sebetulnya kenapa bisa sepsis? Dan jawabannya tetap sama, lingkungan yang kotor, jawaban yang saya dan keluarga saya untuk terus berfikir dan menduga-duga, saya pun sempat bertanya perihal susu formla yang pertama kali diberikan

“dok, sepsis bisa karena susu formula itu ga sih dok?”

“bisa juga, apa pas perawatan sebelumnya dikasih susu formula ga yah diruangan peri (peritologi)?”

“gatau dok”, jawab saya lemas, disana saya ingin membentak dokter rasanya, yang tahu perihal perawatan anak kan tim medis, harusnya mereka lebih hati-hati dalam memberikan apapun kepada pasien, kok bisa-bisanya dokter bertanya kepada saya yang artinya beliau tidak begitu memantau tentang apa yang diberikan kepada anak saya.

Ketidak tahuan dokter tentang pemberian susu formula terus mengganggu pikiran saya, dan sayapun sempat berbicara kepada perawat

“teh, asi saya kan sedikit (karena strees jadi asi yang keluar hanya sedikit) nanti kalau mau ngasiin susu ke ade, jangan yang sufor (susu formula) biasa ya, pas awal dirawat soalnya takutnya karena alergi sufor”

“kata siapa alergi sufor bu?”

Deg, saya sempat diam sejenak, berarti ini perawat juga ngga tau ya tentang rekam medis anak saya dari awal, padahal kala itu udah 3 minggu lebih di NICU.

“kata dokter anaknya teh” jawab saya singkat

“oh iya bu, disini ada susu untuk alergi jadi nanti dikasih susu khusus”

Agak lega ternyata tersedia susu untuk alergi protein sapi, tapi kalau perawat baru tahu sekarang, apa kabar kemaren-kemaren? Apalagi setiap anak saya dipuasakan atau mulai diberi susu tidak pernah diberitahukan. Saya tahu anak saya sudah mulai diberi susu ketika jadwal besuk saja, intinya apabila anak mengalami kemajuan dalam kesehatannya tidak pernah diinfokan kepada penunggu pasien, tetapi apabila anak sedang kritis, hasil pemeriksaan (lab, scan, usg dll) jelek atau mengalami drop kita segera dipanggil. Itulah mengapa kita harus sering-sering cerewet, sampai suami saya mendapat celetukan dari salah satu perawat dengan mengatakan “bapak ini cerewet banget” saya ga peduli, yang penting anak saya terawat dengan baik.

Sebetulnya saya bukan tipe orang yang banyak bicara, saya lebih ingin menggali informasi saja, tetapi karena beberapa kali saya mendapati keteledoran perawat, mulai dari botol asi yang dibiarkan terbuka, dan ketika ditegur jawabannya lupa ditutup kembali, pempers yang belum diganti, sampai pupnya penuh terlihat keluar, dan infusan macet sampai tangan anak saya bengkak (ini parah sih)

Pernah ketika anak saya dipasang alat pernafasan lewat mulut langsung ke tenggorokan, saya lihat posisi kepala anak saya menghadap keatas (nenggak) terus dari tadi pagi saat besuk pertama, sayapun berbicara edngan perawat

“bu, ini si dede kok posisinya gini terus ya? Apa engga pegel dia? Biasanya dipindah-pindah posisi badannya dimirngkan ke kiri atau kanan”

“ini bu, saya gabisa mindahinnya, gabisa megangin atau mindahin alatnya takut goyang”

“ooh” cemaslah saya disana, kenapa sampai ada perawat yang berkata seperti itu, jadi perawat ini bisanya apa? Ganti pempers aja? (inginku berkata kasar.. tapi segera beristighfar)

Saya hanya bisa mencurahkan unek-unek saya dengan keluarga pasien yang lain dan ternyata mereka juga mengalami ke khawatiran yang saya rasakan, mereka tidak berani mencereweti karena mereka takut apabila dianggap jelek atau jadi bahan omongan perawat, anaklah (pasien) yang menjadi korban.

Saya mendengarkan pernyataan mereka, darisana sayapun mulai merenung, “iya juga ya, kalo saya terlalu ini itu nanti anak saya dibiarin lagi” dari sana saya agak meredam perkataan.
Hari demi hari anak saya tidak kunjung membaik, malah terlihat perutnya buncit, “ah ini ginjal dan hatinya kayaknya kena,” kata saya kepada suami, banyak indikasi yang terlihat, seperti mata kuning, perut buncit dan seharian tidak pup dan pipis ketika saya bertanya kepda perawat.
Saya memberanikan diri “mencegat” dokter yang keluar ruangan setelah melakukan visit

“dok, anak saya gimana ya?”

“doain aja ya bu, sekarang anak bapak – ibu udah saya ganti antibiotiknya karena yang kemaren-kemaren tidak mempan, antibiotiknya yang bagus, RSUD ini memang RS kelas C, semua serba terbatas, obat-obat juga prosesnya lama didapetinnya karena BPJS ga kaya di Jakarta, tapi saya bantu semaksimal mungkin ya bu, pak”

Kaget saya mendengar pernyataan dokter, Kelas C? saya gatau tentang itu, kalau disini serba terbatas saya menyesal dari awal tidak mendengarkan kata kakak saya agar dirawat di Tasik (setelah saya browsing ternyata RSUD Tasik kelas B) BPJS? Apa yang salah dengan BPJS? Anak saya menggunakan BPJS setelah beberapa hari di NICU, itupun atas saran Bu Haji (kepala perawat) padahal saat itu kami malas mengurus pendaftaran BPJS anak karena ingin focus di RS saja, namun karena anak saya sudah didaftarkan BPJS saat sebelum lahir makanya kami manfaatkan juga, sebelumnya kami menggunakan perwatan kelas umum dan pada waktu dipindah dari umum ke BPJS saya membayar biaya perawatan umum hamper 10 juta kurang lebih untuk 10 hari, 7 hari di peritologi dan 3 hari di NICU.

Terkait obat yang tidak optimal karena terhalang BPJS, apa tidak bisa di bicarakan antara pihak dokter dengan kami? Apabila tidak tercover BPJS kan bisa kami beli sendiri, toh sebelum menggunakan BPJS semua biaya, obat dan lain-lain kami juga beli dan bayar sendiri kan?

“dok apa dipindah kerumah sakit lain aja ya?” tanya saya

“bisa saja bu kalo ibu berkenan tapi saya tidak menjamin dijalan tidak akan apa-apa”

“coba kalau waktu itu ya dok dirujuknya, (sebelum dirawat di NICU)” kata suami

“tetap aja beresiko pak, kalau dulu saya rujuk dan ada apa-apa dijalan mungkin bapak bakalan lebih ngamuk ke saya ya, karena anaknya terlihat sehat-sehat saja, beda dengan sekarang, ibu bapak sudah mau pasrah kan?”

Sebagian lain mungkin ada benarnya, tapi saya menyesal merasa tidak memberikan yang terbaik pada anak saya,

“dok, Hasil lab darah awal itu gimana?” teringat tentang hasil lab darah yang tidak saya ketahui

“bu, pemeriksaan kalo saya gacuma darah sama rontgen saja, saya cek bab anak ibu itu positif amoeba, dan anak kenak amoeba itu kalo SD lah, ini bayi baru lahir trus ada amoeba itu udah jelek banget keadaannya”

“bukan karena pembekuan darahnya ga normal ya dok? Teringat dengan dokter anak yang pertama yang ebrgumam tentang pembekuan darah

“bukan kok bu” jawab dokter tersebut


“dok kenapa bisa jadi parah ya bayi nya? Padahal tiap hari saya suka nanya ke perawat, dan kata perawat bab nya makin hari normal, kondisinya juga membaik” tanya saya yang masih terus penasaran, 

“bu, namanya juga perawat (gatau apa-apa)” jawab dokter tersebut,

Tak terasa kita berbincang sambil berjalan dan sudah sampai di pintu gerbang keluar, saat itu dokter anak tampak buru-buru maka kami tidak meneruskan pembicaraan

“ah iya, perawat tidak tahu apa-apa, lalu tidak bisakah perawat sebagai akses kami mendapat informasi yang valid? Menjembatani antara kami (keluarga psien) dengan dokter? Mengingat susah sekali untuk konsultasi dengan dokter, dengan keterbatasan jumlah dokter anak dan waktu.

Saya sengaja menanyakan tentang tes darah, tapi tetap tidak mendapatkan jawaban, dan dari informasi hasil browsing di internet, sepsis juga bisa timbul dari peralatan rumah sakit, itu yang tidak pernah dibahas oleh semua tim medis. Mereka hanya menerangkan bakteri dari air yang kotor dan tangan yang kotor sekali, pernyataan yang terus berulang.

(bersambung)...