Get me outta here!

Minggu, 02 September 2018

Baik Sangka Itu Sulit

lanjutan....

“dok anak saya gimana perkembangannya?”

“masih belum stabil bu, demamnya juga masih turun naik”

“katanya anak saya sakit sepsis dok, dari apa ya?”

“banyak faktor sih bu, ini kan anaknya udah beberapa hari dirumah mungkin saja dari faktor lingkungan, bisa saja maaf ya bu mungkin yang megang bayi tangannya kotor banget atau air yang dipakai kotor banget, itu baru ada bakteri”

Saya belum bisa menerima pernyataan dokter tersebut, karena lingkungan kami cukup bersih, air yang digunakan air mengalir, dan bayi dimandikan dengan air hangat, kalo disebut tangan yang kotor banget dan air yang kotor banget, kayaknya engga mungkin. Tapi saya teringat dengan paraji yang memasukan tangannya dan memecahkan ketuban saya, disana saya mulai berprasangka buruk, mungkinkah tangan paraji itu kotor? (astaghfirulloh maafkan hamba yang bersuudzon)

Dirawat di NICU anak saya tetap tidak stabil, dan saat ditanya dokter hanya menjawab “bantu doa ya bu” dan jawaban yang sama terhadap pasien lainnya.

Tiga kali anak saya mengalami masa kritis, sempat tigakali kehilangan nafas, dipompa kembali oleh dokter tak tahu berapa kali saya menangisi anak saya, cobaan terberat dalam hidup saya, dalam keadan sedih itu, mama saya tak kuasa melihat saya menangis, kami menangis bersama.

Saya sempat bertanya kembali kepada dokter anak sebetulnya kenapa bisa sepsis? Dan jawabannya tetap sama, lingkungan yang kotor, jawaban yang saya dan keluarga saya untuk terus berfikir dan menduga-duga, saya pun sempat bertanya perihal susu formla yang pertama kali diberikan

“dok, sepsis bisa karena susu formula itu ga sih dok?”

“bisa juga, apa pas perawatan sebelumnya dikasih susu formula ga yah diruangan peri (peritologi)?”

“gatau dok”, jawab saya lemas, disana saya ingin membentak dokter rasanya, yang tahu perihal perawatan anak kan tim medis, harusnya mereka lebih hati-hati dalam memberikan apapun kepada pasien, kok bisa-bisanya dokter bertanya kepada saya yang artinya beliau tidak begitu memantau tentang apa yang diberikan kepada anak saya.

Ketidak tahuan dokter tentang pemberian susu formula terus mengganggu pikiran saya, dan sayapun sempat berbicara kepada perawat

“teh, asi saya kan sedikit (karena strees jadi asi yang keluar hanya sedikit) nanti kalau mau ngasiin susu ke ade, jangan yang sufor (susu formula) biasa ya, pas awal dirawat soalnya takutnya karena alergi sufor”

“kata siapa alergi sufor bu?”

Deg, saya sempat diam sejenak, berarti ini perawat juga ngga tau ya tentang rekam medis anak saya dari awal, padahal kala itu udah 3 minggu lebih di NICU.

“kata dokter anaknya teh” jawab saya singkat

“oh iya bu, disini ada susu untuk alergi jadi nanti dikasih susu khusus”

Agak lega ternyata tersedia susu untuk alergi protein sapi, tapi kalau perawat baru tahu sekarang, apa kabar kemaren-kemaren? Apalagi setiap anak saya dipuasakan atau mulai diberi susu tidak pernah diberitahukan. Saya tahu anak saya sudah mulai diberi susu ketika jadwal besuk saja, intinya apabila anak mengalami kemajuan dalam kesehatannya tidak pernah diinfokan kepada penunggu pasien, tetapi apabila anak sedang kritis, hasil pemeriksaan (lab, scan, usg dll) jelek atau mengalami drop kita segera dipanggil. Itulah mengapa kita harus sering-sering cerewet, sampai suami saya mendapat celetukan dari salah satu perawat dengan mengatakan “bapak ini cerewet banget” saya ga peduli, yang penting anak saya terawat dengan baik.

Sebetulnya saya bukan tipe orang yang banyak bicara, saya lebih ingin menggali informasi saja, tetapi karena beberapa kali saya mendapati keteledoran perawat, mulai dari botol asi yang dibiarkan terbuka, dan ketika ditegur jawabannya lupa ditutup kembali, pempers yang belum diganti, sampai pupnya penuh terlihat keluar, dan infusan macet sampai tangan anak saya bengkak (ini parah sih)

Pernah ketika anak saya dipasang alat pernafasan lewat mulut langsung ke tenggorokan, saya lihat posisi kepala anak saya menghadap keatas (nenggak) terus dari tadi pagi saat besuk pertama, sayapun berbicara edngan perawat

“bu, ini si dede kok posisinya gini terus ya? Apa engga pegel dia? Biasanya dipindah-pindah posisi badannya dimirngkan ke kiri atau kanan”

“ini bu, saya gabisa mindahinnya, gabisa megangin atau mindahin alatnya takut goyang”

“ooh” cemaslah saya disana, kenapa sampai ada perawat yang berkata seperti itu, jadi perawat ini bisanya apa? Ganti pempers aja? (inginku berkata kasar.. tapi segera beristighfar)

Saya hanya bisa mencurahkan unek-unek saya dengan keluarga pasien yang lain dan ternyata mereka juga mengalami ke khawatiran yang saya rasakan, mereka tidak berani mencereweti karena mereka takut apabila dianggap jelek atau jadi bahan omongan perawat, anaklah (pasien) yang menjadi korban.

Saya mendengarkan pernyataan mereka, darisana sayapun mulai merenung, “iya juga ya, kalo saya terlalu ini itu nanti anak saya dibiarin lagi” dari sana saya agak meredam perkataan.
Hari demi hari anak saya tidak kunjung membaik, malah terlihat perutnya buncit, “ah ini ginjal dan hatinya kayaknya kena,” kata saya kepada suami, banyak indikasi yang terlihat, seperti mata kuning, perut buncit dan seharian tidak pup dan pipis ketika saya bertanya kepda perawat.
Saya memberanikan diri “mencegat” dokter yang keluar ruangan setelah melakukan visit

“dok, anak saya gimana ya?”

“doain aja ya bu, sekarang anak bapak – ibu udah saya ganti antibiotiknya karena yang kemaren-kemaren tidak mempan, antibiotiknya yang bagus, RSUD ini memang RS kelas C, semua serba terbatas, obat-obat juga prosesnya lama didapetinnya karena BPJS ga kaya di Jakarta, tapi saya bantu semaksimal mungkin ya bu, pak”

Kaget saya mendengar pernyataan dokter, Kelas C? saya gatau tentang itu, kalau disini serba terbatas saya menyesal dari awal tidak mendengarkan kata kakak saya agar dirawat di Tasik (setelah saya browsing ternyata RSUD Tasik kelas B) BPJS? Apa yang salah dengan BPJS? Anak saya menggunakan BPJS setelah beberapa hari di NICU, itupun atas saran Bu Haji (kepala perawat) padahal saat itu kami malas mengurus pendaftaran BPJS anak karena ingin focus di RS saja, namun karena anak saya sudah didaftarkan BPJS saat sebelum lahir makanya kami manfaatkan juga, sebelumnya kami menggunakan perwatan kelas umum dan pada waktu dipindah dari umum ke BPJS saya membayar biaya perawatan umum hamper 10 juta kurang lebih untuk 10 hari, 7 hari di peritologi dan 3 hari di NICU.

Terkait obat yang tidak optimal karena terhalang BPJS, apa tidak bisa di bicarakan antara pihak dokter dengan kami? Apabila tidak tercover BPJS kan bisa kami beli sendiri, toh sebelum menggunakan BPJS semua biaya, obat dan lain-lain kami juga beli dan bayar sendiri kan?

“dok apa dipindah kerumah sakit lain aja ya?” tanya saya

“bisa saja bu kalo ibu berkenan tapi saya tidak menjamin dijalan tidak akan apa-apa”

“coba kalau waktu itu ya dok dirujuknya, (sebelum dirawat di NICU)” kata suami

“tetap aja beresiko pak, kalau dulu saya rujuk dan ada apa-apa dijalan mungkin bapak bakalan lebih ngamuk ke saya ya, karena anaknya terlihat sehat-sehat saja, beda dengan sekarang, ibu bapak sudah mau pasrah kan?”

Sebagian lain mungkin ada benarnya, tapi saya menyesal merasa tidak memberikan yang terbaik pada anak saya,

“dok, Hasil lab darah awal itu gimana?” teringat tentang hasil lab darah yang tidak saya ketahui

“bu, pemeriksaan kalo saya gacuma darah sama rontgen saja, saya cek bab anak ibu itu positif amoeba, dan anak kenak amoeba itu kalo SD lah, ini bayi baru lahir trus ada amoeba itu udah jelek banget keadaannya”

“bukan karena pembekuan darahnya ga normal ya dok? Teringat dengan dokter anak yang pertama yang ebrgumam tentang pembekuan darah

“bukan kok bu” jawab dokter tersebut


“dok kenapa bisa jadi parah ya bayi nya? Padahal tiap hari saya suka nanya ke perawat, dan kata perawat bab nya makin hari normal, kondisinya juga membaik” tanya saya yang masih terus penasaran, 

“bu, namanya juga perawat (gatau apa-apa)” jawab dokter tersebut,

Tak terasa kita berbincang sambil berjalan dan sudah sampai di pintu gerbang keluar, saat itu dokter anak tampak buru-buru maka kami tidak meneruskan pembicaraan

“ah iya, perawat tidak tahu apa-apa, lalu tidak bisakah perawat sebagai akses kami mendapat informasi yang valid? Menjembatani antara kami (keluarga psien) dengan dokter? Mengingat susah sekali untuk konsultasi dengan dokter, dengan keterbatasan jumlah dokter anak dan waktu.

Saya sengaja menanyakan tentang tes darah, tapi tetap tidak mendapatkan jawaban, dan dari informasi hasil browsing di internet, sepsis juga bisa timbul dari peralatan rumah sakit, itu yang tidak pernah dibahas oleh semua tim medis. Mereka hanya menerangkan bakteri dari air yang kotor dan tangan yang kotor sekali, pernyataan yang terus berulang.

(bersambung)...

0 komentar:

Posting Komentar