Get me outta here!

Selasa, 11 September 2018

Selesai

Lanjutan....

Siang harinya suami saya dipanggil perawat untuk meminta darah ke PMI anak kami akan di transfusi. Ini adalah transfusi yang ke 4, saya ikut dengan suami ke pmi tapi stock di pmi hanya tersisa satu labu dan itu bukan darah baru, tapi udah beberapa hari, maka kami disarankan mencari pendonor saja.

Saya kembali lagi dengan suami ke RSUD, dan menceritakan bahwa stock di pmi tidak ada dengan harapan perawat mau membantu kami (barangkali dalam satu rumah sakit ada perawat yang bergolongan darah AB), jujur di RSUD kami tidak kenal siapa-siapa, jauh dari rumah orang tua, jauh dari saudara, anak kami bergolongan darah AB, saya A dan suami saya bergolongan darah B.

Tapi ternyata perawat tidak bereaksi apa-apa, sementara kami khawatir kalau anak kami butuh transfusi segera. Kami hanya duduk dipojokan (untung ga sambil garuk-garuk tembok lol). Tanya sana sini, tidak membuahkan hasil, kami terkulai lesu di pojokan pun, perawat seolah tak hiraukan. 

Tak lama adik saya memberi tahu bahwa teman sekolahnya bergolongan darah AB dan bersedia menjadi pendonor, sayapun meminta bantuan temen sekolah saya yang lain yang kebetulan sedang ada di Bandung sehingga hanya bisa menshare di grup alumni sekolah, termasuk saya juga menshare di instagram ciamis.info dan responnya baik

Singkat cerita saya ketemuan dengan teman adik saya, yang ternyata teman smp saya juga heheh saya hamper tidak mengenali karena badannya jadi kurus, dan benar saja berat badannya kurang dari 45 kg dan tidak memenuhi syarat sebagai pendonor. Tapi saya berterimakasih sekali kepada Betty yang udah jauh-jauh mau donor buat anak saya.

Ajaibnya, petugas PMI yang lain menginfokan bahwa darah golongan AB baru saja masuk, sehingga darah segar bisa diberikan, Alhamdulillah…

Tak lama, banyak yang menelpon saya, dari mulai Mbak Hilda yang dapet info dari ig @ciamis.info dan teman teman alumni SMA 1 ciamis dan kakak kelas saya sewaktu SMA jazakillah.. masih banyak orang baik yang tak pernah terpikirkan minta bantuan mereka, justru yang saya harapkan bisa dimintain tolong malah mengecewakan, disitulah saya merasa bahwa Alloh SWT benar-benar tahu apa yang ada dalam hati masing-masing makhluk yang sebenar-benarnya, terimakasih kepada Priyanka, Hera dan Iyus yang sudah bantu share.

Walau saya sudah mendapatkan darah AB, tetap kontaknya saya simpan barangkali nanti membutuhkan darah AB. Ternyata setelah mendapatkan darah tsb, darahnya disimpan dahulu karena anak saya tiba-tiba panasnya naik. Lebih tegang lagi ketika perawat memanggil dan menjelaskan bahwa anak saya akan d usg karena perutnya buncit, khawatir ada kelainan.

Saya menampik apabila ada kelainan, karena dari awal semua kondisi bayi berjalan normal, benar saja, hasil usg menyatakan bahwa tidak ada kelainan. Hanya saja bakteri sudah menyebar kemana-mana sehingga merusak hati dan ginjalnya. Remuk hati saya, saya pandangi wajah bayi mungil kami (engga mungil juga sih, stelah di NICU berat badan kembali normal, hanya saja kadang bengkak karena cairan infus, diantara pasien premature yang lain anak kami adalah yang terbahenol kalo kata Pak Een, pasien sebelah kami, kulitnya yang putih dan paha yang gempal sering jadi bahan kagumannya), saya katakan “selamat sebulan anak mama”tepat tanggal 28 mei, saya bacakan doa – doa, saya ceritakan kisah-kisah nabi-nabi saat anak-anak.

Saat nangis, anak saya tidak terdengar suara, saya sempat nangis-nangis dibuatnya, itu karena alat yang masuk lewat mulutnya, sehingga suaranya terganggu, saya elus-elus tangan, pipi dan rambutnya, rambutnya yang setengah botak, dicukur hanya untuk keperluan masuk selang infus saja, karena di tangan dan kaki sudah habis bekas infusan, maka tak jarang anak kami di infus lewat kepala, saya pernah meminta kepada perawat agar dicukur habis saja sekalian, karena anak kami rambutnya lebat dan hitam ga bagus saja terlihatnya jika di cukur-cukur sedikit-sedikit seperti pitak, tapi jawabannya hanya iya-iya saja sampai anak kami meninggal pun Alhamdulillah yah... rambutnya tetap saja begitu, botak sebagian.

Hari itu tanggal 30 mei, anak kami sudah dalam kondisi parah, hanya terbaring lemah, saya memegangi tangannya, saya usap-usap kepalanya, seraya berkata :

“de, mama sama papa udah iklhas de, mama janji ga akan nangis kalo ade diminta temenin Alloh, nanti kita kan ketemu lagi ya de, doain mama papa nanti bisa bareng di surge sama ade”

Saya dan suami saling berpegangan tangan, memegang tangan anak kami, kami membisikan kata-kata pasrah kami yang sebelumnya bilang kalau ade harus kuat, mama gamau kehilangan ade, sekarang berubah menjadi kata-kata perpisahan, walau ada sedikit rasa tidak ikhlas namu saya harus merelakan anak kami jika sewaktu-waktu dipanggil Alloh SWT.karena melihatnya makin menderita saya tidak tega, semua bukan salah siapa-siapa, semua adalah kehendak Yang Kuasa. Saya hanya bisa berdoa pada Alloh SWT agar kelak harus dipetemukan kembali dan berkumpul bersama-sama di surga.

Saat itu adalah saat saya merasa kuat, taka da lagi menangis meronta seperti sebelumnya padahal saat itu anak saya sedang dalam keadaan menggeliat-geliat sakaratul maut, saya hanya tidak mau terlihat terpuruk di depan mama saya dan saudara-saudara saya, karena jika begitu, mereka pasti akan teramat sedih. Saya berusaha tegar, saya yakin anak kami yang tak berdosa akan bermain di taman surga. Saatnya saya membahagiakan mereka yang masih ada, orangtua dan saudara saya, suami dan juga saya yang harus lebih bekerja keras agar masuk surga, bukankah kita-kita ini yang masih hidup belum tentu masuk surga? Itulah yang ada dalam benak saya,

Sayapun sempat bilang kepada mama dan kakak ipar saya, jika ade Syira sudah tidak memungkinkan untuk sembuh, saya minta semua ikhlas, saya sendiri akan berusaha.

Doa saya, jika anak kami meninggal minta di ambil ketika malam hari, dalam suasana syahdu, ketika pasien dan penunggu pasien lain tertidur, dan ya, tepat pukul 10.30 dokter jaga memanggil kami, di monitor denyut nadi anak kami sudah tidak terdeteksi, namun akan dicoba diusahakan dipompa tapi dokter tidak menjamin akan baik kembali, saya dan suami hanya bersikap tenang, menjawab semua perkataan dokter dan berterimakasih, mungkin dokter jaga saat itu kaget juga melihat ketenangan kami, sementara dia menyampaikan informasi dengan terbata-bata terlihat gugup.
Saya membangunkan pelan mama saya yang tertidur

“ma, coba hubungi bapak ma, suruh kesini”

mama saya terbangun dan tertunduk lemas,”si dede kenapa?”

“lagi di cek dokter ma, mama panggil dulu aja bapak suruh cepet-cepet kesini”

Mama pun menelpon bapak saya

Panggilan kedua terdengar, dari yang sebelumnya perawat memanggil dengan menghampiri tempat kami tidur, panggilan kedua ini seraya berteriak, sontak penunggu pasien lain terbangun.
Kami masuk keruangan,perawat menginformasikan bahwa sudah dipompa namun tidak ada reaksi, dokter jaga sedang menuju kesana, saya hampiri anak saya saya pegang tangannya, kukunya yang tampak membiru di dasar, ya saya tau, anak saya sudah ke surga.

Tak lama, dokter jaga yang lain dari sebelumnya datang dan memeriksa anak kami, dokter setengah baya tersebut menjelaskan bahwa anak dipastikan sudah tak bernyawa, dan bertanya anak ke berapa?
Saya jawab anak pertama, pertanyaan tersebut sering ditanyakan kepada kami, entah apa maksudnya, bagi kami semua anak pertama, kedua, ketiga, tetap saja sama, tak akan berubah rasa sayang orangtua kepada anak yang lain.

Saya menghampiri perawat dan meminta memberishkan atau melepas alat yang menempel dengan hati-hati, bekas plester dll agar tidak kelihatan, perawat mengiyakan, mereka mungkin heran kenapa kami bersikap tenang, dan bisa-bisanya berkata seperti itu. Itulah terakhir saya bisa mencereweti mereka maka saya manfaatkan agar anak kami tahu, bahawa sampai terakhir saya melihatnya, kami akan tetap peduli padanya.

Sambil menunggu anak kami dilepas alat, kami kembali keruangan dan membereskan perlengkapan yang kami bawa dari rumah mama untuk menginap, semua keluarga pasien menghampiri saya, saya tidak berkata apa-apa, yang terdengan bapak saya yang telah datang dan mengucapkan Innalillahi, sontak semua keluarga pasien menangis, satu persatu merangkul saya, ada yang memeluk, memegangi kepala dan mencium tangan saya, saya yang menahan air mata justru menangis dikala melihat semua keluarga pasien yang telah saya anggap seperti saudara itu menangis. Satu persatu menyabarkan saya,

Sayapun berpamitan kepada semuanya, semua membantu kami mengangkat barang-barang untuk disimpan di mobil,

Ibu dan Bapak Een, yang kocak, Bapak Een bekerja sebagai supir, lebih dulu anaknya dirawat karena premature, sudah sebulan setengah mereka disana

Keluarga Wida yang kadang bapaknya suka usil dan ibunya baik banget, pasien baru yang sudah 2 minggu, anaknya juga premature

Ibu nia endut heheh (karena ada 2 nama nia, nia kecil dan nia endut), ibu iis, dan ibu dan bapak lain yang saya tidak kenal hanya suami saja yang tahu karena suami sering ngobrol.

Tepat jam 11 malam selesai dimandikan di RSUD kami pulang, dirumah bibi-bibi saya sudah menyambut dengan tangis, saya dan suami telah berjanji kepada Syra tidak akan menangis, maka kami minimalisir tangisan kami. Banyak yang menasehati kami agar tidak terus larut dalam kesedihan, semua karena Alloh SWT yang menghendaki, di depan insyaalloh akan ada kebaikan bila kita menerima dengan ikhlas.

Paginya, sekitar pukul 8 pagi anak kami dikebumikan, tak lama berita meninggalnya anak kamuitersebar diantara para keluarga pasien lain yang lebih dulu pulang kerumah, ada pak RT (disebut begitu karena paling lama menginap di RS, yaitu 2 bulan), bu nia kecil, pak yanto (yang lebih dulu anaknya dipanggil Alloh SWT ke surga) semua dari daerah di ciamis yang berbeda-beda, kita sering bercanda bersama sekedar melepas kesedihan (kalau ada yag request nanti saya ceritain deh satu-satu tingkah lucu bapak-bapak dan ibu-ibu di RS heheh)


selamat jalan sayang… kadang mama dilanda rindu, papa juga pasti rindu (laki-laki hebat yang tangisannya tak terlihat tapi selalu cepat tanggap memeluk mama dalam keadaan terpuruk) Mama Papa harus iri kepada Syra yang bisa langsung ke surga tanpa hisab, mama yakin ade Syra disana sedang bersenang-senang, giliran kami memantaskan diri agar kelak berhak dijemput disana,tinggal bersama di rumah yang telah ade bangunkan di surga untuk kami, tunggu kami di Surga ya nak., ♥♥♥


0 komentar:

Posting Komentar